Pertolongan Pertama Mengatasi Patah Tulang Terbuka

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Patah tulang terbuka dapat terjadi di mana saja. Pada setiap kegiatan sehari-hari, terkadang ada saja hal yang dapat menyebabkan kita mengalami cedera sistem otot dan rangka hingga kita akan merasa sangat sakit dan sulit untuk memfungsikan alat gerak. Alat gerak pada manusia terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat, dan otot.

Setiap cedera atau gangguan lain yang terjadi pada sistem ini akan mengakibatkan terganggunya pergerakan seseorang untuk sementara atau selamanya.

Sementara itu, gangguan yang paling sering dialami oleh otot rangka adalah patah tulang. Seperti apa yang dijelaskan oleh Palang Merah Indonesia (PMI), patah tulang adalah terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja. Patah tulang ini sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka. Di artikel ini, kita akan mengetahui lebih lanjut mengenai patah tulang terbuka.

Apa itu patah tulang terbuka?

Patah tulang terbuka merupakan kasus patah tulang yang disertai dengan luka pada kulit di permukaan daerah tulang yang patah. Pada kasus yang lebih berat, bagian tulang yang patah akan terlihat dari luar. Cukup mengerikan, bukan? Yang paling mengerikan lagi adalah jika ada luka, maka kuman akan dengan mudah sampai ke tulang, sehingga memiliki risiko yang tinggi untuk terjadi infeksi tulang. Oleh karena itu, patah tulang terbuka harus segera diberi pertolongan.

Patah tulang terbuka lebih mudah dikenali dibandingkan dengan patah tulang tertutup, dan biasanya patah tulang terbuka terjadi pada tungkai dan lengan.

Cara menangani patah tulang terbuka

Penanganan patah tulang yang paling utama adalah pembidaian. Pembidaian adalah berbagai tindakan dan upaya untuk menghindari pergerakan, untuk melindungi serta menstabilkan bagian tubuh yang cedera. Hal ini penting dilakukan sebelum tenaga ahli (dokter atau paramedis) dapat membantu Anda.

Pembidaian bertujuan untuk:

  • Mencegah pergerakan atau pergeseran dari ujung tulang yang patah
  • Mengurangi terjadinya cedera baru di sekitar bagian tulang yang patah
  • Mengistirahatkan anggota badan yang patah
  • Mengurangi rasa nyeri
  • Mengurangi perdarahan
  • Mempercepat penyembuhan

Macam-macam bidai

Berikut ini adalah beberapa bidai yang dapat digunakan dalam keadaan darurat untuk patah tulang terbuka:

1. Bidai keras

Dibuat dari bahan yang keras, kaku, kuat, dan ringan untuk mencegah pergerakan bagian yang cedera. Pada dasarnya ini adalah bidai yang paling baik dan sempurna pada keadaan darurat. Bahan yang sering dipakai adalah kayu, alumunium, karton, plastik, dan lain-lain.

2. Bidai yang dapat dibentuk

Jenis bidai ini dapat diubah menjadi berbagai bentuk dan kombinasi untuk disesuaikan dengan bentuk cedera. Contohnya selimut, bantal, bidai kawat, dan lain-lain.

3. Gendongan/belat dan bebat

Pembidaian ini dilakukan dengan menggunakan kain pembalut, biasanya menggunakan mitella (kain segitiga) dan gendongan lengan. Prinsipnya adalah dengan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan bagian yang cedera.

4. Bidai improvisasi

Bila tidak tersedia bidai apaun, maka penolong dituntut untuk mampu berimprovisasi membuat bidai yang cukup kuat dan ringan untuk menopang bagian tubuh yang cedera. Misalnya majalah, koran, karton, dan lain-lain.

Panduan pembidaian

Meskipun bidai yang dipakai seadanya, tetap saja ada beberapa pedoman yang harus diikuti untuk meminimalisir kecelakaan saat pembidaian.

  1. Sebisa mungkin beri tahu rencana yang akan Anda lakukan pada penderita.
  2. Pastikan bagian yang cedera dapat dilihat, dan hentikan perdarahan (bila ada) sebelum melakukan pembidaian.
  3. Siapkan alat seperlunya seperti bidai dan kain segitiga (mitella).
  4. Jangan mengubah posisi yang cedera.
  5. Jangan memasukkan bagian tulang yang patah.
  6. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah (sebelum dipasang, bidai harus diukur terlebih dahulu pada anggoda badan penderita yang tidak mengalami patah tulang).
  7. Jika ada tulang yang keluar, Anda dapat menggunakan mitella dan membentuknya seperti donat atau menggunakan benda apapun yang lunak dan memiliki lubang, lalu masukkan tulang di dalam lingkaran donat tersebut agar tulang tidak tersenggol (sesuaikan lingkaran dengan diameter tulang yang keluar).
  8. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak bila memungkinkan.
  9. Gunakan beberapa mitella untuk mengikat bidai (jika di bagian kaki, masukkan mitella melalui celah di bawah lutut dan di bawah pergelangan kaki).
  10. Ikat juga “donat” yang telah Anda pakai pada tulang yang keluar dengan mitella.
  11. Ikatan jangan terlalu keras dan terlalu longgar.
  12. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak melakukan gerakan, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
  13. Jangan membidai berlebihan, jika anggota tubuh penderita yang mengalami patah tulang sudah tidak dapat melakukan gerakan itu berarti Anda sudah melakukan pembidaian dengan baik.
  14. Bawa penderita ke rumah sakit untuk tindakan lebih lanjut.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca