• Definisi

Apa itu dipteri?

Dipteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

Dipteri menyebar (ditransmisikan) dari individu ke individu, biasanya melalui tetesan pernapasan, dari batuk, atau bersin. Meski jarang, penyebaran bisa terjadi karena lesi dari kulit (seperti luka abnormal) atau pakaian yang terkontaminasi dengan lesi (seperti luka) dari orang yang terinfeksi.

Seseorang dapat juga terinfeksi dipteri dengan melakukan kontak langsung dengan sebuah objek atau benda, seperti mainan, yang telah terkontaminasi dengan bakteri penyebab dipteri.

Apa saja tanda dan gejalanya?

Ketika bakteri penyebab dipteri menginvasi sistem pernapasan, mereka menghasilkan racun (toksin) yang dapat menyebabkan:

  • Kelelahan
  • Sakit tenggorokan
  • Demam
  • Pembengkakan kelenjar di leher

Dalam dua sampai tiga hari, penebalan gumpalan dapat terjadi di tenggorokan atau hidung, membuat sulit bernapas dan menelan. Penebalan gumpalan ini dinamakan “pseudomembrane” dan dapat terbentuk pada jaringan suara, amandel, pita suara, dan tenggorokan.

Pseudomembrane terbentuk dari jaringan mati yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri. Pseudomembrane menempel pada jaringan bagian bawah dan dapat memasuki saluran pernapasan. Toksin dapat diserap melalui pembuluh darah dan dapat menyebabkan kerusakan hati, ginjal, dan saraf.

  • Cara mengatasinya

Apa yang harus saya lakukan?

Diagnosis dipteri biasanya dibuat berdasarkan tanda-tanda dan gejala. Seka tipis spesimen diambil dari tenggorokan untuk pemeriksaan bakteri. Dokter juga dapat mengambil sampel dari lesi kulit (seperti luka) dan mencoba menumbuhkan bakteri untuk mengonfirmasi diagnosis dipteri.

Penting untuk memulai pengobatan segera jika dipteri telah  ditemukan dan tidak perlu menunggu konfirmasi laboratorium.

Pengonatan dipteri saat ini termasuk:

  • Menggunakan antitoksin dipteri untuk menetralkan (melawan) toksin yang dihasilkan oleh bakteri
  • Menggunakan antibiotik untuk membunuh dan mengurangi bakteri dipteri

Pasien dipteri biasanya dibiarkan terisolasi, sampai mereka tidak lagi menginefksi orang lain, biasanya 48 jam setelah pengobatan antibiotik dimulai. Penyakit ini biasanya tidak dapat menyebar setelah pasien diberikan antibiotik selama 48 jam. Setelah pengobatan antibiotik selesai, dokter akan menjalankan pemeriksaan untuk memastikan bakteri tidak akan pernah ada lagi di tubuh pasien.

Kapan saya harus ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-tanda dan gejala yang membuat Anda berpikir Anda mengidap dipteri, segera hubungi perawatan medis. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk informais lebih lanjut.

  • Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah dipteri adalah dengan vaksin. Terdapat empat kombinasi vaksin yang digunakan untuk mencegah dipteri; DTaP, DT, dan Td. Setiap vaksin dapat mencegah dipteri dan tetanus; vaksi DTaP dan Tdap juga dapat mencegah pertusis (batuk berdahak). Vaksin DTaP dan DT diberikan untuk anak-anak yang berusia kurang dari tujuh tahun, sementara vaksin Tdap dan Td diberikan untuk anak yang lebih dewasa, remaja, dan orang dewasa.

Anak-anak harus mendapatkan 5 dosis DTaP, satu dosis untuk setiap kategori usia berikut; 2,4,6, dan 15-18 bulan dan 4-6 tahun. DT tidak mengandung pertussis, dan digunakan sebagai pengganti DTaP untuk anak-anak yang tidak dapat menoleransi vaksin pertussis. Td adalah vaksin tetanus-dipteri yang diberikan kepada remaja dan orang dewasa sebagai dosis penyokong setiap 10 tahun, atau setelah terpapar tetanus pada kondisi tertentu. Tdap mirip dengan Td tetapi juga mengandung proteksi untuk melawan pertussis.

Remaja usia 11-18 tahun (dianjurkan pada usia 11-12 tahun) dan orang dewasa berusia 19 tahun ke atas harus mengonsumsi dosis tunggal Tdap. Wanita harus mengonsumsi Tdap selama kehamilan (dianjurkan pada trimester ketiga antara minggu ke 27 dan 36). Tdap harus diberikan pada usia 7-10 tahun yang tidak sepenuhnya mendapatkan imunisasi melawan pertussis. Tdap dapat diberikan tidak peduli kapan Td terakhir kali dikonsumsi.

Beberapa orang sebaiknya tidak divaksinasi, atau harus menunda vaksinasi, di antaranya adalah orang-orang yang pernah memiliki reaksi alergi mematikan setelah mendapat vaksin yang mengandung vaksin tetanus atau diphtheria, atau memiliki alergi serius terhadap beberapa komponen dari vaksin ini. Beri tahu dokter mengenai alergi serius yang Anda miliki.

Beri tahu dokter juga jika Anda:

  • Memiliki gangguan atau masalah sistem saraf lainnya
  • Memiliki luka serius atau pembengkakan setelah mendapat vaksin dipteri atau tetanus
  • Pernah mengidap Guillain Barre Syndrome (GBS)
  • Tidak merasa sehat pada hari dosis dijadwalkan

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca