Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata aborsi? Kebanyakan praktik aborsi atau menggugurkan kandungan biasanya dilakukan melalui prosedur operasi di rumah sakit dengan bantuan dokter. Namun selain itu, ternyata aborsi bisa dilakukan dengan menggunakan pil atau obat aborsi jika usia kehamilan belum lebih dari 10 minggu.

Dengan catatan, semua tindakan ini dilakukan karena kehamilan sedang berada dalam kondisi darurat medis yang bisa membahayakan ibu dan janin, serta di bawah pengawasan dokter. Jika Anda dilema ini sedang Anda alami terkait kondisi kesehatan Anda dan janin, kenali dulu fakta mengenai obat aborsi sebelum memilih menggunakannya.

Berbagai fakta menarik seputar obat aborsi

1. Membantu menghentikan perkembangan kehamilan dan membersihkannya dari tubuh

Praktik aborsi tidak boleh dilakukan sembarangan karena diatur dalam undang-undang. Dalam dunia medis, aborsi hanya boleh dilakukan bila kehamilan berisiko membahayakan nyawa ibu dan bayi. Misalnya kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan), kehamilan anggur, bayi cacat, dan kondisi medis tertentu lainnya.

Ada dua jenis obat atau pil aborsi yang biasa digunakan untuk membantu menggugurkan kandungan, yakni Mifepristone dan Misoprostol. Mulanya, Mifepristone digunakan dengan tugas untuk menghambat produksi hormon progesteron guna menghentikan perkembangan kehamilan.

Tugas obat mifepristone hanya sampai di situ saja. Selanjutnya, dibutuhkan obat misoprostol dalam waktu 24-48 jam kemudian. Misoprostol akan membantu rahim untuk membersihkan sisa-sisa kehamilan, sekaligus mengurangi risiko terjadinya infeksi dan perdarahan berat.

2. Pil aborsi dan morning after pill tidak sama

Sering dianggap sama, nyatanya obat aborsi dan morning after pill adalah dua obat yang berbeda. Pil aborsi lebih ditujukan untuk mencegah perkembangan kehamilan.

Sementara morning after pill adalah jenis kontrasepsi darurat, yang bekerja untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan menghambat proses ovulasi setelah melakukan hubungan seks tanpa menggunakan pengaman.

Lagi-lagi, Anda dihimbau untuk tidak melakukan aborsi ilegal yang disengaja, serta tidak menerima obat aborsi selain dari dokter.

jenis aborsi

3. Obat aborsi punya efek samping

Selayaknya beberapa obat dan tindakan medis lainnya, obat atau pil aborsi juga membawa efek samping tertentu bagi tubuh. Mulai dari mual, kram, perdarahan, dan berbagai kondisi lainnya yang kurang mengenakkan untuk tubuh.

Efek samping yang muncul ini sebenarnya bisa sedikit diatasi dengan bantuan obat Ibuprofen, Motrin, atau Advil untuk membantu meredakan kram, serta obat Phenergan atau Zofran untuk mengatasi rasa mual.

Namun dalam beberapa kasus, jangan tunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter bila mengalami:

  • Sakit perut berkepanjangan
  • Demam lebih dari 38 derajat Celcius
  • Mual dan muntah
  • Diare lebih dari 24 jam
  • Kelelahan parah

Kesemua kondisi tersebut kemungkinan besar menandakan bahwa Anda mengalami infeksi serius pada rahim.

4. Tetap harus berkonsultasi dengan dokter setelah minum obat aborsi

Apa pun tindakan medis yang Anda jalani, jangan lupa untuk selalu mengecek kondisi kesehatan Anda pada dokter, termasuk setelah melakukan aborsi dengan minum obat aborsi. Tujuannya untuk memastikan bahwa proses aborsi telah berjalan dengan lancar, sehingga tidak ada lagi sisa-sisa kehamilan di dalam rahim.

Akan tetapi, jika ternyata prosedur aborsi belum sepenuhnya selesai di dalam tubuh Anda, maka dokter akan melakukan tindakan medis tambahan yakni kuret. Kuret atau kuretase adalah prosedur pengangkatan jaringan yang tersisa di dalam rahim setelah mengalami keguguran atau aborsi.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca