Kecerdasan Seseorang Ternyata Bisa Dipengaruhi Oleh Ususnya

Oleh

Tahukah Anda bahwa ternyata perut, usus, dan berbagai organ yang berfungsi dalam sistem pencernaan memiliki hubungan langsung pada pembentukkan kognitif serta kecerdasan anak? Berbagai penelitian bahkan menyatakan bahwa perut merupakan otak kedua dari tubuh manusia.  Bagaimana perut bisa ‘membentuk’ kecerdasan anak?

Mengenal bakteri pada usus

Teori yang menghubungkan sistem pencernaan dengan otak disebut dengan gut brain axis. Organ-organ pencernaan tidak hanya berfungsi untuk mencerna serta menyerap zat-zat gizi dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Namun, di dalam usus, terdapat berbagai mikroba atau bakteri baik yang memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan.

Sesaat setelah dilahirkan, bakteri yang ada di usus tumbuh dan berkembang membentuk koloni. Berbagai teori mengatakan bahwa bakteri yang ada di usus muncul melalui ASI yang diberikan pada bayi. Penelitian yang dilaporkan dalam Environmental Microbiology menunjukkan bahwa bakteri baik dikirimkan ibu ke bayi melalui ASI yang diberikannya dan dapat membantu menjaga sistem kekebalan bayi hingga dewasa nanti.

Ada penelitian lain yang menyebutkan bahwa bakteri dalam usus sudah terbentuk dari sejak bayi masih dalam kandungan. Penelitian ini membuktikannya melalui percobaan pada tikus, yang menemukan bahwa bakteri jenis Enterococcus dan Staphylococcus sudah terbentuk sejak dalam kandungan. Sedangkan, pemberian ASI pada bayi menunjang tumbuh kembang bakteri, dan hal sebaliknya terjadi ketika bayi diberikan susu formula. Susu formula dianggap tidak dapat mendukung pertumbuhan bakteri ini sehingga kurang baik untuk pertumbuhan bayi.

Manfaat bakteri usus bagi tubuh kita

Sampai kita dewasa, bakteri pada usus akan tubuh dan berkembang. Bahkan jika dihitung, berat bakteri yang ada di usus bisa sampai 2 kg, yang terdiri dari setidaknya 1000 jenis bakteri yang terbentuk dari 3 juta gen. Terlebih lagi, setiap orang memiliki masing-masing bakteri ususnya sendiri, berbeda-beda dan memiliki keunikan tersendiri. Dua per tiga bagian dari total bakteri yang ada di dalam usus, terbentuk dari karakteristik serta gaya hidup masing-masing individu, tergantung pada udara yang dihirupnya sehari-hari, makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari, serta berbagai faktor lingkungan lainnya.

Lalu apa fungsi bakteri baik dalam usus tersebut? Ternyata banyak hal yang dapat dilakukan bakteri ini, tidak hanya mencerna makanan, namun juga menjaga sistem kekebalan tubuh, memproduksi berbagai vitamin dan mineral yang dihasilkan dari proses pencernaan, dan membantu meningkatkan kecerdasan serta kemampuan kognitif.  Semakin banyak jenis bakteri yang dimiliki suatu individu, maka semakin baik dampaknya bagi kesehatan. Bahkan dianggap bisa mencegah seseorang terkena berbagai penyakit kronis seperti, penyakit jantung koroner, stroke, diabetes mellitus, dan kanker.

Bagaimana bakteri dalam usus dapat mempengaruhi fungsi otak?

Usus yang disebut sebagai otak kedua, ternyata memiliki kemampuan untuk berkomunikasi langsung dengan otak, pusat segala fungsi tubuh. Selain itu, usus juga dianggap dapat merasakan dan memberikan respon langsung terhadap apa yang sedang terjadi pada tubuh. Apakah Anda pernah merasa sedang dalam keadaan panik atau tertekan dan tiba-tiba perut terasa sakit, ingin muntah, dan tidak nyaman? Itu adalah salah satu respon yang diberikan usus karena Anda sedang merasa stress. Usus dapat merasakan apa yang Anda rasakan sehingga gejala tersebut muncul tanpa sebab. Komunikasi yang terjadi dua arah, antara otak dengan usus, melibatkan berbagai

Sederhananya, usus akan mengirimkan sinyal baik ke otak ketika terisi dengan makanan yang kualitasnya baik pula, yang kemudian mempengaruhi perkembangan otak. Begitu juga sebaliknya, ketika otak sedang tidak dalam kondisi baik, seperti tertekan atau stress, maka sinyal akan dikirimkan ke usus dan mempengaruhi komposisi bakteri yang selanjutnya berdampak pada proses penyerapan zat gizi.

American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa bakteri yang ada di dalam usus memproduksi berbagai neurotransmitter, yaitu zat yang digunakan oleh otak untuk mengatur proses mental dan psikologi seseorang, termasuk ingatan, kemampuan belajar, dan suasana hati. Faktanya, 95% hormon serotonin, yaitu hormon yang berfungsi untuk mengatur mood, kemampuan kognitif, dan nafsu makan seseorang, diproduksi oleh bakteri yang ada di usus. Pada tahun 2014, sebuah penelitian menemukan bahwa bakter baik efektif dalam menurunkan tingkat stres dan kecemasan dan orang yang memiliki jumlah bakteri baik yang lebih sedikit, mengalami tingkat stres yang lebih tinggi.

Bakteri baik dalam sistem pencernaan ini juga disebut-sebut berhubungan dengan penurunan kejadian autisme pada anak. Sebuah penelitian yang dilakukan di Arizona State University yang melihat jumlah dan cara kerja bakteri dalam usus pada kelompok anak autisme, membuktikan bahwa anak autisme memiliki jumlah beberapa bakteri dalam usus yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang normal, bakteri tersebut adalah Prevotella, Coprococcus,  dan Veillonellaceae. Dari penelitian tersebut muncul kesimpulan bahwa bakteri baik dalam usus berhubungan dengan fungsi otak, terutama dalam hal emosi dan kemampuan kognitif.

BACA JUGA

Sumber
Yang juga perlu Anda baca