Kondisi Apa yang Membutuhkan Transplantasi Kornea?

Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 12/03/2020 . 3 menit baca
Bagikan sekarang

Tindakan transplantasi kornea mungkin tidak populer sebagaimana transplantasi organ lain, seperti ginjal atau hati. Sebagian masyarakat awam mungkin membayangkan transplantasi ini mengganti seluruh bola mata dengan yang baru. Padahal kenyataannya, hanya lapisan kornea yang akan diganti. Namun, kondisi apa yang membutuhkan transplantasi ini dan apa saja jenis transplantasi yang dapat dilakukan? Simak penjelasannya berikut ini.

Kondisi yang membutuhkan transplantasi kornea

Kornea adalah lapisan bening yang terdapat tepat di depan dari bagian hitam mata (pupil dan iris). Walaupun terlihat tipis, sebenarnya kornea terdiri dari 5 lapisan yang memiliki fungsi masing-masing. Namun, secara umum, kornea berfungsi untuk memfokuskan cahaya supaya Anda dapat melihat dengan jelas.

Transplantasi ini dibutuhkan apabila terdapat kerusakan pada kornea yang menyebabkan gangguan tajam penglihatan dan kerusakan tersebut sudah tidak dapat diobati dengan obat-obatan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan pada kornea yang membutuhkan presedur transplantasi, antara lain:

  1. Infeksi kornea, seperti ulkus kornea.
  2. Tindakan operasi mata sebelumya yang merusak kornea.
  3. Gangguan genetika: distrofi fuch’s.
  4. Keratokonus.

Apa saja jenis transplantasi kornea?

Ada beberapa jenis transplantasi yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Full thickness (FT)

Tindakan jenis ini mengganti keseluruhan lapisan kornea yang ada. Tindakan ini biasa dilakukan pada kasus-kasus luka kornea yang dalam atau pada kasus kegagalan operasi dengan menggunakan teknik partial. Proses pemulihan pada teknik FT ini memerlukan waktu yang panjang dan tidak jarang tajam penglihatan baru stabil setelah satu tahun atau bahkan lebih.

2. Partial thickness (PT)

Pada teknik ini hanya sebagian lapisan terluar kornea yang digantikan. Teknik ini banyak digunakan pada kerusakan kornea akibat dari keratokonus. Pemulihan paska transplantasi berjalan lebih cepat daripada menggunakan teknik FT. Penolakan jaringan kornea oleh tubuh penerima juga lebih jarang terjadi.

3. Endothelial

Hampir serupa dengan teknik PT, perbedaannya lapisan kornea yang digantikan adalah sebagian lapisan terdalam. Teknik ini menjadi teknik yang paling popular dilakukan karena memiliki angka penolakan jaringan yang sangat rendah disertai waktu pemulihan tajam penglihatan yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan teknik lainnya.

Bagaimana perawatan transplantasi kornea?

Transplantasi kornea merupakan suatu prosedur yang kompleks, oleh sebab itu perawatan setelah transplantasi kornea sesuai dengan jadwal menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, beberapa hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Menggunakan seluruh obat tetes mata yang diberikan sesuai dengan waktu dan dosis yang sudah ditentukan. Jangan menghentikan obat tanpa persetujuan dari dokter spesialis mata Anda.
  2. Jangan menekan atau menggosok-gosok mata Anda.
  3. Gunakan kacamata atau alat proteksi mata khusus yang diberikan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

mengobati infeksi mata

Mata Merah dan Sensitif Akibat Keratitis? Ini 3 Kunci Penting Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 20/03/2019 . 4 menit baca
masalah pakai softlens

3 Masalah yang Paling Sering Dikeluhkan Pengguna Softlens

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Laura Agnestasia Dj.
Dipublikasikan tanggal: 15/07/2018 . 3 menit baca
abrasi kornea (kornea mata tergores)

Abrasi Kornea

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 22/09/2016 . 1 menit baca
ulkus kornea

Ulkus Kornea

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 12/03/2016 . 1 menit baca