Tindak Kekerasan Ternyata Bisa Menyebar Seperti Penyakit Menular

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . 3 menit baca
Bagikan sekarang

Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya memiliki teman yang berperilaku kasar. Pasalnya, mereka beranggapan sang anak nantinya akan terbawa oleh perilaku kasar tersebut. Nyatanya kekhawatiran kebanyakan orang tua itu terbukti. Berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan di American Journal of Public Health, kekerasan memang bisa menular dan menyebar seperti halnya seseorang tertular virus flu.

Para remaja ikut serta dalam kekerasan jika teman atau saudaranya terlibat

Tim peneliti dari Ohio State University menyelidiki data yang dikumpulkan oleh Studi Longitudinal Nasional tentang Kesehatan Remaja sejak tahun 1994. Sebanyak 6000 murid sekolah menengah diwawancara secara mendalam setiap beberapa tahun, sehingga para peneliti bisa melacak hubungan pertemanan mereka. Hasilnya, para remaja kemungkinan besar akan ikut serta dalam aksi kekerasan jika teman atau saudara mereka terlibat.

Para peneliti menemukan sebanyak 48 persen remaja yang diteliti lebih rentan terlibat perkelahian serius, sedangkan kemungkinan seseorang untuk melukai orang lain akan meningkat sebesar 183 persen bila ia juga memiliki teman yang pernah melukai orang lain. Selain itu, apabila seseorang memiliki teman yang  menodongkan senjata, maka risiko seseorang remaja untuk menyerang orang lain dengan senjata akan meningkat menjadi 140 persen.

Penelitian ini juga menemukan bahwa penyebaran dapat terjadi dalam empat tingkatan pertemanan. Penyebaran dapat terjadi dari teman yang remaja tersebut kenal langsung, dari temannya teman bahkan sampai ke “teman lapis keempat” yaitu, teman dari teman dari teman dari teman langsung si anak.

Jika remaja memiliki teman sebaya yang agresif dalam hubungan pertemanannya maka bisa meningkatkan kemungkinan anak melakukan tindak penganiayaan pada orang lain sampai 82 persen terutama di kalangan remaja laki-laki.

Kekerasan adalah bentuk dari penularan emosional

Busman, salah satu peneliti, mengatakan jika relasi sosial berperan penting dalam penyebaran perilaku sosial. Para peneliti juga memberikan bukti adanya sebuah susunan peta sosial dan psikologis dalam kekerasan termasuk penularan secara emosional.

Untuk memahami bagaimana kekerasan bisa menyebar, seseorang harus memahami mekanisme psikologis yang mendasarinya dulu. Salah satu mekanismenya adalah imitasi. Pengaruh teman sebaya telah dikaitkan dengan beragam perilaku remaja, termasuk kenakalan dan kekerasan. Hal tersebutlah yang menguatkan temuan-temuan terdahulu jika karakter dan perilaku seseorang bisa menular lewat hubungan pertemanan, mulai dari tingkat kebahagiaan, obesitas, sampai merokok.

Pentingnya program anti-kekerasan

Temuan riset ini makin menggarisbawahi pentingnya program anti-kekerasan. Pasalnya jika kita bisa menghentikan perilaku kasar pada diri satu orang, hal ini akan menyebar ke lingkaran pertemanan lainnya. Sehingga kita tidak hanya mampu mencegah pada diri satu orang saja, melainkan berpotensi mencegah kekerasan pada semua orang yang melakukan kontak dengan orang tersebut. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . 5 menit baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

dorongan menyakiti orang lain

Mengapa Seseorang Bisa Terdorong untuk Menyakiti Orang Lain?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . 5 menit baca
akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 8 menit baca
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 menit baca
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca