Benarkah Polusi Udara Bisa Menyebabkan Munculnya Jerawat?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Beberapa tahun belakangan ini, tingkat polusi di Indonesia semakin meningkat dan membuat masyarakat khawatir dengan kesehatan mereka, terutama kesehatan kulit. Bahkan, ada pula yang menyebut bahwa polusi bisa menyebabkan jerawat. Lantas, apakah hal ini benar?

Benarkan polusi menyebabkan jerawat?

Menurut Anne Marie Fine, seorang ahli dermatologi pada Grist, partikel kecil dan beracun yang tersebar di udara dapat mengganggu kesehatan kulit Anda. 

Senyawa yang ada pada polusilah yang menjadi penyebab utama masih ini. Polusi yang ada di luar ruangan mengandung campuran bahan kimia dan gas yang berasal dari atmosfer serta limbah mesin buatan manusia. 

Di dalamnya bisa terdapat senyawa sejenis nitrogen dioksida dan sulfur dioksida. Kedua senyawa kimia ini diyakini dapat merusak kulit Anda bila terpapar terlalu banyak, seperti iritasi kulit. 

Pada tahun 2017 dilakukan sebuah penelitian yang mencari tahu adakah hubungan antara polusi dan jerawat. Para peneliti mencoba membuktikan bahwa polutan yang berbahaya ini dapat menghasilkan oksidasi dan peradangan

Hasilnya ternyata belum terlalu meyakinkan. Akan tetapi, di dalam penelitian tersebut terlihat bahwa kedua zat kimia dari polusi dapat merangsang pertumbuhan jerawat meskipun sangat sedikit. 

Selain itu, faktor pendukung yang membuat polusi dapat menyebabkan jerawat adalah terlalu sering terpapar sinar UV matahari. Paparan sinar UV ini juga bisa mengurangi antioksidan pada wajah, seperti vitamin E yang berguna untuk mencegah peradangan yang menjadi penyebab timbulnya jerawat. 

Polusi memang dapat menyebabkan munculnya jerawat. Senyawa yang ada di dalam udara yang tercemar dan papasan sinar matahari yang menjadi penyebabnya. 

Walau ada hubungan antara polusi dan jerawat, diperlukan penelitian lebih dalam lagi untuk membuktikan hal ini. 

Tips menghadapi polusi supaya tidak menyebabkan jerawat 

Di negara-negara Asia, terutama Indonesia, tingkat polusi semakin tinggi, sehingga pemerintah menyarankan warganya untuk memakai masker setiap ke luar ruangan.

Selain bertujuan untuk menyaring udara yang masuk ke dalam sistem pernapasan, masker juga dapat melindungi wajah Anda dari paparan polusi. 

Beberapa cara lain untuk mengurangi risiko polusi yang menyebabkan jerawat di wajah, yaitu: 

1. Menggunakan sunscreen

cara memakai sunscreen

Selain memakai masker, cara untuk memerangi polusi yang menyebabkan jerawat adalah dengan menggunakan sunscreen atau tabir surya setiap keluar ruangan. Pasalnya, ketika Anda berada di luar ruangan, wajah yang tidak tertutupi oleh masker akan terpapar sinar UV dan polusi. 

Maka itu, para ahli dermatologi menyarankan penggunaan tabir surya agar kulit terlindungi dan mencegah wajah kehilangan peptida antimikroba yang baik untuk kulit Anda.

Jangan lupa untuk memilih sunscreen yang dapat melindungi wajah Anda dari sinar UVA dan UVB. 

2. Menghindari penggunaan scrub wajah

Penggunaan scrub wajah setelah beraktivitas di luar ruangan ternyata dapat membuat jerawat jadi lebih parah.

Itu sebabnya, cobalah untuk memakai pembersih yang tidak merusak pelindung alami wajah tapi tetap dapat menghilangkan efek negatif polusi pada permukaan kulit. Anda dapat menggunakan pembersih yang mengandung asam salisilat atau benzoyl peroxide. 

3. Memakai pelembap 

pakai body lotion

Setelah menggunakan obat jerawat, umumnya kulit wajah akan terasa kering. Supaya wajah tidak terasa kasar, gunakanlah pelembap wajah. 

Seperti yang direkomendasikan oleh American Academy of Dermatology, ada beberapa kandungan pelembap yang bisa Anda lihat untuk merawat kulit yang rentan berjerawat, yaitu:

  • Bebas minyak atau oil free
  • Non-comedogenic
  • Tidak menyumbat pori

Meski polusi terbukti bisa menyebabkan jerawat, bukan berarti sekali kena polusi Anda akan langsung berjerawat. Tetaplah jaga kebersihan kulit wajah Anda.

Jika Anda merasa khawatir jerawat tetap tidak hilang meskipun sudah mengikuti tips di atas, silakan konsultasikan dengan ahli dermatologi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca