Apa Saja Risiko yang Dihadapi Saat Olahraga Crossfit?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Banyak cara yang bisa Anda pilih untuk melatih kebugaran tubuh. Salah satu metode latihan kebugaran yang kian populer dan banyak digemari adalah latihan crossfit. Bagi Anda yang ingin memiliki bentuk tubuh yang indah atau hanya ingin menambah kekuatan, crossfit sering digadang sebagai metode yang paling berhasil. Namun seperti latihan pada umumnya, crossfit juga memiliki berbagai risiko. Bagaimana risikonya?

Risiko olahraga crossfit

manfaat crossfit

Sebelum mengetahui apa saja risiko yang ditimbulkan, sebagian dari Anda mungkin belum mengenal tentang crossfit. Sebetulnya metode yang satu ini bukanlah hal yang baru di dunia kebugaran. Crossfit sendiri awalnya merupakan sebuah program kebugaran bermerk yang sudah dibentuk sejak tahun 2000 oleh Greg Glassman.

Crossfit adalah metode latihan yang menggabungkan dua unsur aerobik dan anaerobik yang mencakup latihan kekuatan, plyometric, kecepatan, angkat beban, senam, dan latihan daya tahan. Semua latihan tersebut dilakukan dengan intensitas tinggi yang dikemas dalam format serupa latihan sirkuit, yaitu melakukan satu jenis latihan lalu diikuti oleh latihan lain dan hanya diselingi jeda istirahat yang singkat.

Pola latihan crossfit memang tergolong ketat, butuh kedisiplinan yang tinggi untuk membuatnya efektif. Biasanya latihan ini bisa dilakukan sebanyak tiga sampai lima hari dalam seminggu. Dalam satu sesinya, latihan dapat terdiri dari 100 push up, 100 sit up, dan 100 squat. Seseorang akan diberi waktu sekitar lima hingga 15 menit untuk menyelesaikan satu sesi.

Tidak ada perbedaan beban latihan yang diberikan saat melakukan crossfit di antara yang pemula maupun yang sudah berpengalaman, sehingga metode ini dikenal sebagai latihan “one size fit all”. Rutinitas latihannya pun berbeda-beda setiap harinya.

Tujuan dari latihan crossfit adalah untuk mencapai tingkat kebugaran fisik yang tertinggi. Latihan ini dirancang untuk membuat jantung Anda memompa kapasitas tertinggi sehingga akan lebih menguatkan otot-otot jantung. Selain itu, kemampuan lainnya seperti fleksibilitas, kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi juga diharapkan akan meningkat.

Meski crossfit memberikan banyak manfaat untuk kesehatan, latihan ini tetap memiliki risiko yang mungkin dapat terjadi pada orang-orang yang menekuninya,

latihan crossfit di rumah

Risiko Cedera Crossfit

Risiko mengalami cedera setelah menjalani crossfit tidaklah mengejutkan mengingat latihan ini dilakukan dengan intensitas yang tinggi. Apalagi jika Anda masih pemula dan pernah memiliki luka cedera sebelumnya.

Dari sebuah makalah yang diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran Olahraga Ortopedi, ditemukan bahwa tingkat cedera latihan crossfit pada 400 peserta yang menjadi sumber data penelitian mendekati 20 persen.

Penelitian lainnya dalam Journal of Strength and Conditioning Research juga menunjukkan dari 132 koresponden, 97 orang di antaranya mengalami cedera setelah melakukan crossfit. Jika dihitung persentasenya mencapai 73,5 persen. Angka ini bahkan setara dengan tingkat cedera yang didapatkan dari olahraga gymnastik dan power lifting.

Beberapa bagian yang umumnya mengalami cedera adalah punggung bawah, lutut, siku, dan bahu.

Pada kasus yang serius, crossfit bisa saja menimbulkan risiko miopati atau kerusakan otot yang dapat menjadi penyebab berkembangnya rhabdomyolysis. Miopati sendiri bisa dipicu dari aktivitas fisik yang berlebihan, dehidrasi, atau kondisi lainnya yang dapat merusak jaringan otot.

Ketika telah terjadi rhabdomyolysis, sel-sel otot yang pecah dapat mengalirkan isinya ke dalam aliran darah. Hal inilah yang nantinya akan merusak ginjal bahkan bisa berujung pada gagal ginjal.

Miopati ditandai dengan nyeri otot yang tidak biasa, kelelahan, dan urin yang berwarna gelap. Jika hal ini terjadi, orang tersebut harus segera mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Meski risiko crossfit yang satu ini sangat jarang dialami, ada baiknya Anda tetap berhati-hati dan tidak memaksa tubuh untuk bekerja terlalu keras.

Beberapa orang tidak disarankan melakukan latihan crossfit

Program latihan crossfit tergolong cukup ekstrem untuk dilakukan sebagai olahraga rutin. Oleh karena itu, program ini tidak disarankan untuk orang-orang yang memiliki penyakit jantung, cedera lama seperti masalah pada punggung dan ligamen lutut, serta osteoporosis.

Seperti yang sudah dijelaskan, dibutuhkan tubuh yang kuat dan tenaga yang maksimal untuk melakukan latihan ini agar tidak menimbulkan masalah yang berbahaya untuk kesehatan.

Jika Anda tertarik mencoba crossfit, pastikan keadaan tubuh Anda memang memungkinkan untuk mengikuti rutinitas latihannya. Anda juga bisa konsultasikan kembali dengan dokter agar olahraga yang Anda lakukan benar-benar sesuai dengan kemampuan.

Ketahui apakah pelatih dan tempat latihan yang Anda tuju memiliki kompetensi yang baik untuk membimbing Anda dalam melakukan teknik yang tepat agar tidak menimbulkan cedera. Jangan sungkan memberi tahu mereka jika ada bagian dari latihan crossfit yang membuat Anda tidak nyaman atau merasakan sakit.

Ketika Anda memulai crossfit untuk pertama kali, lakukan segala gerakannya dengan memberi waktu yang lebih lama, baru tambahkan kecepatan dan beban kerjanya secara perlahan setelah kebugaran tubuh Anda mulai meningkat. Untuk menghindari risiko miopia, jangan lupa minum air putih secukupnya dan tidak melakukan crossfit di tempat yang panas dan lembab.

Ingatlah bahwa latihan crossfit merupakan latihan yang sangat berat dan lebih cocok dilakukan oleh orang-orang dengan kondisi kesehatan yang optimal. Jika Anda memiliki kondisi tertentu yang mengharuskan Anda menjalani suatu pantangan lebih baik lakukan aktivitas fisik yang memang dianjurkan oleh dokter.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 20, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 19, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca