Kombinasi cuaca yang panas dan energi yang semakin habis tak jarang membuat stamina menurun saat lari jarak jauh. Rasa letih yang menghampiri memang sudah hampir pasti membuat Anda ingin berhenti dan beristirahat. Namun, di samping itu Anda juga perlu tahu kapasitas tubuh kapan harus benar-benar berhenti berlari. Pasalnya, ada beberapa kondisi yang menjadi sinyal atau tanda bahwa tubuh tak kuat lagi dan perlu berhenti.

Tanda saat Anda harus berhenti berlari

pantangan setelah lari

Mengikuti kompetisi lari jarak jauh tengah menjadi tren. Tak hanya sehat, olahraga lari memang menyenangkan. Terlebih jika dilakukan beramai-ramai. Namun, jangan karena euforia yang terlalu tinggi Anda jadi mengabaikan sinyal-sinyal tubuh saat lari jarak jauh.

Menurut dr. Grace Joselini, dokter timnas sepakbola wanita Indonesia dalam ajang Asian Games 2018 lalu, saat kondisinya mulai menurun, tubuh akan memberikan sinyal secara bertahap.

“Biasanya ketika energi mulai habis yang pertama dirasa itu lemas dan pusing. Selain itu biasanya diikuti dengan rasa mual, detak nadi melemah, dan pandangan kabur seperti mau pingsan,” papar dr. Grace dalam talkshow Sun Life Run Resolution 2019 di Jakarta Selatan, Kamis (17/1).

Nah, ketika Anda mulai merasakan tanda-tanda tersebut, jangan memaksakan untuk terus melanjutkan lari. Anda wajib berhenti dan beristirahat sejenak sampai kondisinya membaik. Jika terus memaksakan untuk melanjutkan kompetisi, Anda justru bisa terkena heat stroke (serangan panas).

Dikutip dari Mayo Clinic, heat stroke adalah kondisi saat suhu tubuh terlalu panas akibat paparan matahari atau aktivitas fisik dengan suhu yang tinggi. Kondisi ini ditandai dengan suhu tubuh yang sangat panas hingga mencapai 40 derajat Celsius atau lebih, respon melambat, linglung, dan pernapasan yang sangat cepat. Heat stroke harus segera ditangani karena kalau tidak bisa merusak otak, jantung, ginjal, otot, bahkan menyebabkan kematian.

Apa yang harus dilakukan untuk jaga kondisi saat lari jarak jauh?

minuman berenergi

Untuk menjaga kondisi tetap prima saat mengikuti lari jarak jauh yang perlu dilakukan yaitu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Menurut dr. Grace, hal ini bisa dilakukan dengan minum setiap 15-20 menit sekali.

“Usahakan untuk minum paling tidak setengah gelas air mineral di pos air atau water station. Jangan hanya minum seteguk untuk membasahi mulut saja karena tubuh juga butuh asupan air yang cukup,” tutur dr. Grace pada tim Hello Sehat.

Saat lari, tubuh terus mengeluarkan keringat akibat cuaca dan suhu tubuh yang panas. Air yang keluar ini perlu digantikan agar kadarnya di dalam tubuh tetap stabil. Pasalnya, bukan cuma air saja yang keluar. Elektrolit juga ikut keluar saat Anda berkeringat.

“Elektrolit itu ibarat baterai di dalam tubuh. Jadi kalau kita kehabisan baterai, maka kondisi tubuh perlahan menurun. Kondisi inilah yang disebut dengan dehidrasi, yaitu saat air dan elektrolit yang keluar tidak digantikan,” ucap dr. Grace.¬† Oleh karena itu, Anda dianjurkan untuk minum air mineral atau minuman olahraga yang mengandung elektrolit.

Selain itu, untuk mengisi tenaga Anda juga bisa makan camilan sehat yang manis dan mengandung karbohidrat seperti granola bar. Tujuannya agar energi di dalam tubuh terisi kembali sehingga Anda bisa melanjutkan kompetisi hingga ke garis akhir.

Intinya, jangan mengabaikan tanda sekecil apa pun yang disinyalkan tubuh. Tingkatkan kepekaan Anda agar terhindar dari berbagai masalah kesehatan yang mungkin mengintai.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca