6 Mitos Tentang Senam Peregangan yang Tak Perlu Anda Percaya Lagi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 25/12/2018 . 3 menit baca
Bagikan sekarang

Katanya, Anda harus selalu melakukan senam peregangan sebelum, saat, dan setelah olahraga supaya otot-otot di tubuh tidak kaku. Tapi, tahukah Anda bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar? Meski memang dapat memberi banyak manfaat untuk tubuh, sayangnya masih banyak mitos tentang peregangan yang membingungkan di luar sana. Cari tahu kebenarannya di sini.

Mitos-mitos tentang senam peregangan

Berikut berbagai mitos seputar peregangan yang tak perlu lagi Anda percayai.

1. Harus selalu peregangan sebelum olahraga

peregangan sebelum lari

Tidak selalu. Secara umum, peregangan terdiri dari dua jenis, yaitu peregangan dinamis dan statis. Hindari melakukan peregangan statis sebelum olahraga, sebaliknya lakukanlah peregangan dinamis.

Bila perlu, lakukan peregangan dinamis yang dikombinasikan dengan pemanasan. Peregangan ini membantu mempersiapkan otot-otot untuk bekerja dan meningkatkan suhu inti tubuh, sehingga Anda pun bisa bergerak lebih leluasa saat olahraga.

Meski dapat membuat otot-otot Anda lebih “meregang”, peregangan statis justru dapat merusak otot atau tendon jika dilakukan sebelum olahraga. Alhasil, perfoma Anda ketika melakukan olahraga malah menurun. Jadi, tidak semua jenis peregangan boleh dilakukan sebelum olahraga. Alih-alih memanaskan tubuh, salah gerakan malah bisa membuat badan jadi kesakitan.

2. Peregangan meningkatkan performa olahraga

gerakan peregangan

Tidak selalu. Menurut penelitian, melakukan peregangan statis sebelum berolahraga justru dapat melemahkan performa, terutama kecepatan lari sprint. Penyebab utamanya adalah karena peregangan dapat membuat otot Anda lelah.

Sebaliknya, Anda harus melakukan pemanasan sebelum berolahraga. Namun, jika Anda ingin melakukan peregangan, sebaiknya Anda melakukan peregangan dinamis. Peregangan ini mirip seperti olahraga yang akan Anda lakukan tetapi dalam intensitas yang lebih rendah.

3. Tak perlu peregangan setelah olahraga

latihan kelenturan, peregangan kaki, stretching kaki

Salah. Peregangan justru dianjurkan setelah olahraga, terutama peregangan statis. Pada dasarnya kebanyakan orang akan menjadi lebih fleksibel setelah berolahraga, karena sirkulasi pada otot dan sendi meningkat. Tak hanya itu, peregangan setelah olahraga juga dapat mengurangi nyeri otot dan kelelahan.

Jadi, setelah Anda berlari atau jogging, akhirilah dengan berjalan-jalan kecil untuk relaksasi. Setelah itu, tutup dengan melakukan peregangan. Ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri sesi olahraga Anda.

4. Peregangan yang benar harus terasa sakit

bahu kaku

Salah. Normalnya Anda harus merasakan otot-otot di tubuh meregang, bukan kesakitan.

Sebaliknya, rasa sakit biasanya muncul karena Anda melakukan peregangan lebih jauh dari jangkauan gerakan yang diperlukan atau justru Anda tidak melakukan gerakan yang benar. Jadi, jika Anda merasa kesakitan saat melakukan peregangan, segera berhenti.

5. Peregangan harus dilakukan selama mungkin

peregangan otot

Salah. Kebanyakan ahli setuju bahwa setiap gerakan peregangan sebaiknya dilakukan selama 15 hingga 30 detik. Jadi, tak perlu berlama-lama melakukan peregangan untuk merasakan otot-otot Anda “meregang”. Terlalu lama melakukan peregangan justru dapat membuat otot Anda menegang yang pada akhirnya menimbulkan kesakitan.

6. Kalau sudah fleksibel tak perlu lagi peregangan

gerakan peregangan bahu

Salah. Semakin bertambahnya umur, otot dan sendi Anda biasanya akan semakin tidak fleksibel. Dengan rajin melakukan peregangan, hal ini akan membantu Anda bergerak lebih leluasa. Banyak ahli mengatakan bahwa rutin melakukan peregangan dapat membantu pinggul dan paha belakang tetap fleksibel sampai hari tua.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Penyebab Bau Mulut Tak Sedap

Bau mulut atau halitosis adalah masalah yang sangat mengganggu dan memalukan. Cari tahu semua tentang penyebab dan cara menghilangkan bau mulut tak sedap.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 17/06/2020 . 5 menit baca

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . 5 menit baca

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 menit baca

Mimpi Buruk Saat Demam Tinggi? Inilah Penyebabnya

Waktu kecil atau bahkan saat dewasa, Anda mungkin pernah mengalami mimpi buruk saat demam atau sakit. Pasti sangat mengganggu, kan? Nah, ini dia alasannya!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 14/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

mitos hepatitis C

Kenali Mitos Seputar Hepatitis C yang Perlu Diketahui Kebenarannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/06/2020 . 5 menit baca
leher bayi merah

5 Penyebab Leher Bayi Kemerahan dan Apa yang Bisa Ortu Lakukan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
mual karena gugup

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . 6 menit baca
frozen yogurt vs es krim sehat mana

Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 17/06/2020 . 5 menit baca