Kaheksia, Alasan Berat Badan Pengidap Kanker Turun Drastis Bak Tulang Terbungkus Kulit

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 12/09/2017
Bagikan sekarang

Berat badan pasien kanker yang turun drastis bisa merupakan efek samping dari pengobatan maupun penyakitnya itu sendiri. Kakeksia atau kaheksia adalah istilah resmi dalam dunia medis untuk menggambarkan komplikasi kanker ini. Diperkirakan separuh dari semua pasien kanker akhirnya mengembangkan sindrom kaheksia, yang disertai dengan gejala anoreksia dan hilangnya energi, jaringan lemakn dan massa otot skeletal secara berkelanjutan dan tidak disengaja.

Bila seseorang mengalami kondisi kesehatan ini, maka ia mungkin akan mengalami banyak kendala dalam pengobatannya dan tingkat kesembuhannya semakin kecil. Sebenarnya, apa itu kaheksia kanker? Apakah bisa dicegah?

Apa itu kaheksia kanker?

Kanker kaheksia adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan sekelompok gejala (sindrom) yang muncul akibat kanker itu sendiri maupun pengobatannya. Kakesia ditandai dengan penurunan berat badan, gejala anoreksia, dan hilangnya sel lemak dan massa otot secara terus-menerus seiring waktu sebagai respons pertumbuhan sel kanker ganas.

Di samping itu, pasien kanker yang mengalami kaheksia biasanya tidak merasakan lapar dan tak memiliki nafsu makan sama sekali. Oleh karena itu, masalah ini bukan sekadar kehilangan berat badan yang bisa ditangani dengan mengonsumsi makanan yang cukup. Masalah yang dihadapi oleh pasien kanker yang mengalami kakeksia jauh lebih rumit. Pasalnya, kondisi ini juga ditandai dengan peradangan sistemik, hilangnya protein tubuh, serta keseimbangan energi.

Apa saja gejala kaheksia (kakeksia) kanker?

Beberapa gejala umum dari kakeksia adalah:

  • Mengalami penurunan berat badan lebih dari 5% dari berat badannya
  • Memiliki persentase lemak tubuh kurang dari 10%
  • Merasa mual
  • Merasa kenyang meski baru makan dengan porsi yang sedikit
  • Mengalami anemia
  • Merasa sangat lelah dan lemah
  • Tidak nafsu makan

Penanganan kaheksia kanker harus dilakukan dengan tepat. Bila tidak, hal ini akan membahayakan nyawa pasien.

Apakah setiap pasien kanker pasti mengalami kaheksia?

Suatu studi menyatakan bahwa 15-40% kasus turunnya berat badan pasien kanker disebabkan oleh kaheksia. Biasanya sindrom kanker kaheksia ini diderita oleh pasien kanker stadium lanjut. Enam dari 10 orang yang mengalami kaheksia adalah orang-orang yang memiliki stadium kankernya sudah memasuki tahap lanjut. Cukup jarang ditemukan pada pasien dengan kanker stadium awal.

kemoterapi adalah pengobatan kanker Prednison obat apa

Apa penyebab kaheksia kanker?

Sampai saat ini belum diketahui pasti apa yang jadi penyebab kaheksia sebagai komplikasi kanker. Namun, para ahli berpendapat bahwa sel-sel kanker yang tumbuh di dalam tubuh juga menghasilkan zat kimia yang disebut dengan sitokin.

Sitokin ini yang kemudian membuat rusak organ-organ di tubuh. Saat organ tubuh menjadi rusak, kebutuhan energi menjadi meningkat, tetapi akibat pasien tidak nafsu makan dan tak ada makanan yang masuk, maka tubuh akan mengambil makanan dari cadangan yang tersisa. Semakin lama cadangan tersebut semakin habis, sehingga massa otot serta jaringan lemak berkurang sebagai pengganti energi darurat. Pada beberapa kasus, penurunan berat badan drastis dan hilangnya lemak serta massa otot tubuh ini menyebabkan penampilan pasien kanker tampak seperti kerangka tulang dibalut kulit saja.

Bagaimana cara mengatasi kaheksia kanker ini?

Karena kondisi ini cukup rumit dan disebabkan oleh berbagai hal, mengubah pola makan saja tidak cukup mengatasi kaheksia. Maka dari itu, kaheksia kanker biasanya ditangani dengan cara memberikan obat-obatan untuk menurunkan kadar sitokin dalam tubuh, meningkatkan nafsu makan, serta membuat kadar hormon tetap normal, sehingga tidak menyebabkan penurunan berat badan. Beberapa jenis obat yang mungkin diberikan pada pasien dengan kanker kaheksia adalah:

Melakukan olahraga dengan rutin juga dapat menolong pasien untuk membentuk massa otot kembali. Bila ingin melakukan aktivitas fisik, biasanya pasien akan dibantu oleh ahli fisioterapi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Bakwan―gorengan khas Indonesia ini memang enak dan gurih. Walaupun digoreng, Anda bisa membuat bakwan lebih sehat. Simak resep membuat bakwan sehat berikut.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Tak heran jika kale kini naik daun di kalangan para pecinta kesehatan. Sayuran hijau ini mengandung segudang manfaat, termasuk untuk kanker payudara.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Mau punya berat badan ideal? Diet sehat jawabannya. Namun, agar diet yang Anda lakukan tidak sia-sia, simak dulu panduan lengkap berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Direkomendasikan untuk Anda

minyak esensial untuk meredakan stres

Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
makan di luar rumah saat pandemi

Amankah Makan di Luar Rumah di Tengah Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
sakit tangan main hp

Mengatasi Sakit Tangan Akibat Terlalu Sering Main HP

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 01/06/2020
warna rambut

Warna Rambut Sesuai Karakteristik Diri, yang Manakah Anda?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020