Menurut sebuah penelitian, bayi prematur yang diberi terapi kafein menunjukkan peningkatan dalam fungsi pernapasan dan paru-paru dalam jangka panjang. Penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Melbourne, Australia ini mengamati perkembangan ratusan bayi prematur yang telah diberi dosis kafein saat mereka lahir. Kafein diberikan dalam suntikan, susu, atau melalui tabung makanan sebanyak satu kali sehari.

Benarkah kafein bisa membantu pernapasan dan paru-paru bayi prematur?

Menurut pemimpin penelitian, Profesor Lex Doyle, anak-anak yang dulu menerima asupan kafein memiliki fungsi paru-paru dan pernapasan sangat baik saat mereka berusia 11 tahun. Bayi prematur memang umumnya mengalami kesulitan bernapas. Para peneliti ini kemudian memberikan asupan kafein untuk membantu mengatur pernapasan dengan menekan bagian otak yang menandakan paru-paru mereka mengembang.

Penelitian yang telah dipublikasikan di The New England Journal of Medicine ini menyebutkan bahwa terapi kafein dapat membantu paru-paru bayi prematur dengan berat badan 500 sampai 900 gram saat lahir.

Dalam penelitian ini, para ahli memulai terapi kafein selama 10 hari pertama setelah kelahiran. Bayi prematur yang diberikan terapi kafein membutuhkan tambahan oksigen lebih sedikit dibandingkan dengan bayi prematur yang tidak mendapatkan terapi kafein. Namun, bayi yang menerima kafein memiliki berat badan kurang dibandingkan bayi yang tidak menerima kafein.

Sayangnya, penelitian ini belum bisa memastikan apakah terapi kafein bisa digunakan untuk bayi prematur yang mengalami kerusakan paru-paru, bukan hanya kesulitan bernapas.

Kafein untuk bayi bisa mengurangi risiko napas terhenti atau apnea

Kafein adalah salah satu obat yang paling sering diresepkan untuk bayi prematur, karena dianggap bisa mengurangi risiko terjadinya apnea. Apnea merupakan suatu kondisi berhentinya proses pernapasan dalam waktu singkat (beberapa detik hingga satu atau dua menit). Gangguan ini bisa juga terjadi dalam jangka panjang. Penyebabnya berkaitan dengan sistem saraf pusat yang belum sempurna.

Penelitian yang dilakukan oleh University in Hamilton, Ontario, Canada melibatkan lebih dari dua ribu bayi dengan berat 500 gram sampai 1,2 kg saat lahir. Dengan izin orangtua para bayi, para peneliti secara acak memilih 963 bayi untuk mendapatkan terapi kafein untuk bayi selama 10 hari pertama hidupnya. Sedangkan bayi lainnya mendapatkan plasebo (obat kosong) yang tidak mengandung kafein.

Hati-Hati, Depresi Pada Ayah Bisa Menyebabkan Bayi Prematur

Apakah terapi kafein untuk bayi memiliki efek samping?

Bayi-bayi yang mendapatkan terapi kafein mendapat infus dengan dosis kafein harian yang dibuat rendah. Rata-rata bayi tersebut menjalani terapi kafein selama 37 hari. Semua bayi juga mendapat terapi non-obat yang diperlukan untuk membantu bernapas. Terapi non-obat itu termasuk termasuk oksigen tambahan, Continuous positive airway pressure therapy (CPAP), dan dibantu alat ventilasi melalui tabung yang dimasukkan ke dalam trakea. Trakea adalah bagian dari saluran pernapasan yang juga dikenal sebagai batang tenggorokan.

Bayi yang mendapatkan terapi kafein lebih sedikit membutuhkan oksigen tambahan dan alat-alat bantu lainnya dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan terapi kafein. Namun, menurut penelitian, efek terapi kafein berpotensi menyebabkan penurunan berat badan antara empat sampai enam minggu pada awal terapi. Perbedaan berat rata-rata antara bayi yang menerima kafein dan yang tidak menerima kafein adalah 23 gram setelah dua minggu.

Karena itu, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter Anda sebelum menjalani terapi kafein untuk bayi. Anda juga bisa pendapat dokter lain (second opinion) untuk memastikan seberapa aman terapi ini untuk bayi Anda.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca