Merasa Seperti Zombi, Ini yang Terjadi Pada Orang Dengan Sindrom Mayat Berjalan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 13/09/2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda menonton film zombi? Ya, isinya banyak manusia yang sudah mati, tetapi masih berjalan seperti orang hidup. Alih-alih film zombi, ternyata memang ada kondisi tubuh yang membuat penderitanya merasa seperti sudah mati, tetapi sebenarnya masih hidup. Kondisi ini disebut dengan sindrom mayat berjalan atau sindrom cotard.

Tenang, ini bukan fenomena mistis tapi kondisi yang sarat dengan penjelasan ilmiah. Dalam dunia kesehatan, memang ada yang mengalami ini. Yuk simak ulasannya berikut ini.

Apa itu sindrom mayat berjalan?

penyebab depresi

Sindrom ini memiliki beberapa nama lain yakni, sindrom cotard atau delusi cotard. Sindrom mayat berjalan merupakan sebuah kondisi yang membuat seseorang meyakini bahwa bagian tubuhnya atau tubuhnya itu tidak ada, entah tubuh itu sekarat atau memang tidak ada di dunia.

Kondisi ini biasanya terjadi karena ada hubungannya dengan depresi berat dan gangguan psikotik. Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan hilangnya kemampuan tubuh menilai kenyataan yang terjadi, seperti halusinasi.

Sindrom cotard juga bisa timbul sebagai gejala penyerta dari penyakit mental dan kondisi gangguan saraf lainnya.

Kasus sindrom costard ini cukup bervariasi, ada yang meyakini bahwa seluruh tubuhnya memang tidak ada, ada yang merasakan bahwa bagian organ tubuh tertentu tidak ada, atau ada juga yang merasakan bahwa jiwa mereka yang tidak ada.

Apa benar ada orang yang mengalami sindrom mayat berjalan?

Sindrom mayat berjalan memang merupakan kondisi langka. Tidak semua orang yang mengalami depresi berat pasti mengalami sindrom mayat berjalan. Namun memang kebanyakan orang yang sebelumnya punya riwayat depresi berat, lebih mungkin mengalami sindrom ini.

Dilansir dalam laman Medical Daily, seseorang bernama Graham yang sebelumnya mengalami depresi berat mengalami sindrom mayat berjalan. Graham tidak lagi percaya kalau dia memiliki otak atau kepala, menolak makan, dan tidak lagi tertarik dengan kebiasaan merokoknya.

Graham melihat dirinya tidak ada gunanya karena sudah mati. Ia juga jadi sering berkunjung ke pemakaman setempat karena merasakan hal yang paling dekat adalah kematian. Ia merasa bahwa pemakaman adalah tempat yang paling cocok baginya dibandingkan bertemu dengan orang-orang.

Dengan kondisi seperti itu, otak Graham diperiksa oleh seorang ahli saraf Steven Laurey dari University of Liege Belgia. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa otak Graham seperti orang yang mengalami anastesi atau tidur.

Tingkat aktivitas sel di area otak besar bagian depan dan samping terlihat sangat rendah. Area otak bagian depan dan samping adalah area yang terlibat dalam mengatur fungsi motorik, memori, dan informasi sensoris.

Apa gejala dan tanda dari gejala sindrom mayat berjalan?

macam macam obat antidepresan

Salah satu gejala yang paling dominan adalah nihilisme. Nihilisme adalah keyakinan bahwa apapun itu sebenarnya tidak ada nilainya, atau tidak ada maknanya, serta segalanya yang ada ini sebenarnya tidak benar-benar ada.

Orang dengan sindrom ini seolah-olah merasa wujud nya itu sebenarnya mati atau membusuk. Bahkan dalam beberapa kasus, orang yang mengalami sindrom ini merasa sebenarnya mereka tidak pernah ada di dunia ini.

Selain itu, gejala sindrom costard adalah:

  • Kegelisahan
  • Halusinasi
  • Hipokondria (kecemasan atau ketakutan berlebih bahwa dirinya menderita penyakit tertentu)
  • Selalu merasa bersalah
  • Selalu mencoba untuk menyakiti diri sendiri

Siapa yang berisiko mengalami sindrom costard?

pasangan bipolar

Para peneliti sebenarnya belum mengetahui dengan pasti apa saja penyebab sindrom costard, tetapi memang ditemukan beberapa faktor risikonya.

Beberapa penelitian menemukan bahwa usia rata-rata orang yang mengalami sindrom ini adalah sekitar 50 tahun. Meskipun begitu, kasus ini tetap mungkin dialami anak-anak dan remaja.

Orang yang berusia di bawah 25 tahun mengalami sindrom costard biasanya juga memiliki kondisi depresi bipolar. Wanita juga menjadi kelompok yang lebih  berisiko mengembangkan sindrom mayat berjalan dibandingkan pria.

Orang yang mengalami kondisi medis berikut ini juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami sindrom costard:

  • Gangguan bipolar
  • Depresi setelah melahirkan
  • Schizropenia
  • Depresi psikotik
  • Katatonia

Orang yang memilki masalah atau gangguan saraf berikut ini juga berpotensi lebih besar mengalami sindrom costard:

  • Infeksi di otak
  • Tumor otak
  • Demensia
  • Epilepsi
  • Multiple sclerosis
  • Penyakit parkinson
  • Stroke
  • Trauma karena cidera otak

Bagaimana dokter mendeteksi sindrom costard?

hubungan baik

Membuat diagnosis medis mengenai sindrom ini memang cukup sulit. Sebenarnya tidak ada kriteria standar atau khusus untuk menentukan diagnosis ini.

Dalam kebanyakan kasus, terdeteksinya adanya sindrom cotard ini setelah ada kondisi lain yang muncul, bukan hanya kondisi sindrom cotard itu sendiri.

Jika Anda berpikir akhir-akhir ini memiliki khayalan seperti kondisi sindrom cotard, cobalah catat beberapa gejala tersebut. Perhatikan kapan itu terjadi, dan berapa lama berlangsungnya. Informasi ini sangat penting untuk membantu dokter membuat membuat diagnosis lebih tepat.

Bagaimana penanganan sindrom cotard?

Antidepresan paling umum

Ada banyak cara menangani kasus ini, sangat bervariasi tergantung dengan kondisi masing-masing individu.

Meskipun begitu, ada satu perawatan yang paling umum digunakan yakni, electroconvulsive (ECT). ECT adalah perawatan khusus untuk orang yang mengalami depresi berat. ECT akan memberikan arus listrik kecil melalui otak dan menimbulkan efek kejang ringan dengan kondisi tubuh di anastesi umum.

Perawatan ECT ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Sebab, tetap ada efek sampingnya. Contoh, kehilangan ingatan, kebingungan, mual, nyeri otot. Karena efek ini, maka ada beberapa pilihan lain dalam penanganan kasus ini, antara lain:

  • Antidepresan
  • Antipsikotik
  • Psikoterapi
  • Terapi perilaku
  • Stabilisator suasana hati

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pseudobulbar Affect

Pseudobulbar affect (PBA) adalah kondisi saraf yang menyebabkan ledakan tertawa atau menangis. Apa penyebabnya? Bagaimana mengatasi kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 11/05/2020 . Waktu baca 7 menit

Mengenal Gangguan Saraf dan Cara Pencegahannya

Gangguan saraf bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga lansia. Oleh karenanya, Anda harus tahu cara mencegah terjadinya gangguan saraf.

Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Gangguan Saraf, Health Centers 20/04/2020 . Waktu baca 11 menit

Mengenal Jenis-Jenis Hantavirus, Virus dari Tikus yang Dapat Mematikan

Hantavirus adalah virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, seperti tikus. Terdapat dua jenis hantavirus. Kenali gejalanya untuk pengobatan yang sesuai.

Ditulis oleh: dr. Ivena
Hidup Sehat, Fakta Unik 19/03/2020 . Waktu baca 4 menit

Penyebab Cauda Equina Syndrome, Gangguan Saraf yang Bisa Memicu Kelumpuhan

Cauda equina syndrome adalah gangguan akar saraf tulang belakang yang bisa sebabkan kelumpuhan. Apa saja faktor yang menjadi penyebab cauda equina syndrome?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Gangguan Saraf, Health Centers 06/03/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mempersiapkan kematian

Mendampingi Orang Terkasih Agar Tetap Tegar Sebelum Menemui Ajalnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/07/2020 . Waktu baca 5 menit
orgasme tanpa disentuh

3 Hal yang Bisa Membuat Anda Orgasme Tanpa Disentuh

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit
perbedaan stres dan depresi, gangguan kecemasan

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 09/06/2020 . Waktu baca 6 menit