Menstruasi atau haid memang sangat berpengaruh pada kondisi fisik maupun psikologis wanita yang mengalaminya setiap bulan. Pengaruh siklus menstruasi yang sering dialami wanita antara lain kram perut, nyeri punggung bawah, perubahan suasana hati, atau payudara terasa lebih kencang. Namun, tahukah Anda bahwa siklus menstruasi ternyata juga berpengaruh pada pertumbuhan otak wanita? Tak hanya mengatur sistem reproduksi, siklus menstruasi pun memberikan efek tertentu bagi fungsi otak. Meski dampaknya memang tidak langsung terasa pada tubuh, Anda para wanita yang tiap bulan mendapat haid patut bersyukur karena gejala atau keluhan saat haid yang selama ini dialami ternyata baik untuk pekembangan otak Anda. Cari tahu informasi lengkapnya di bawah ini.

Mengenal siklus menstruasi wanita

Siklus menstruasi wanita yang normal berlangsung selama 21 hingga 35 hari. Pada setiap wanita atau setiap bulan, lamanya siklus menstruasi bisa berbeda-beda. Hal tersebut bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti gaya hidup, genetik, kontrasepsi, atau kondisi kesehatan Anda.

Selama siklus menstruasi berlangsung, tubuh Anda akan mengalami berbagai proses perubahan yang bertujuan untuk menyiapkan kehamilan. Jika pembuahan sel telur dan kehamilan tidak terjadi, Anda akan mendapat haid. Haid atau menstruasi sendiri terjadi saat dinding rahim mengalami perdarahan. Biasanya menstruasi berlangsung kira-kira selama 3 sampai 7 hari. Hari pertama Anda mendapat haid adalah hari pertama siklus menstruasi Anda.

Siklus bulanan wanita dibagi menjadi tiga fase. Fase yang pertama adalah fase folikuler atau praovulasi yaitu masa sebelum sel telur matang dan dibuahi. Fase ini dimulai sejak hari pertama Anda mendapat haid hingga hari ke-13. Setelah itu, Anda akan memasuki fase ovulasi atau masa subur. Fase ini biasanya terjadi 14 hari sejak hari pertama mendapat haid. Inilah kesempatan terbaik untuk mengusahakan kehamilan. Kemudian Anda akan memasuki fase terakhir yaitu fase luteal. Fase luteal berlangsung selama 13 sampai 16 hari sejak Anda memasuki ovulasi hingga mulainya siklus menstruasi berikutnya atau jika sel telur yang telah dibuahi sel sperma berhasil menempel pada dinding rahim sehingga terjadi kehamilan.  

Ada banyak perubahan yang terjadi pada tubuh selama siklus menstruasi berjalan. Salah satunya adalah perubahan kadar hormon. Hormon yang sangat berpengaruh pada siklus ini adalah hormon estrogen. Perubahan kadar estrogen dalam tubuh memicu berbagai reaksi tubuh mulai dari muncul jerawat, gairah seks menurun atau meningkat, hingga membentuk tulang yang lebih kuat.

Apa itu estrogen?

Estrogen adalah kumpulan hormon yang banyak terdapat pada tubuh wanita. Laki-laki juga punya hormon estrogen, tetapi jumlahnya lebih sedikit. Estrogen terdiri dari hormon estron, estradiol, dan estriol. Pada wanita, estrogen paling banyak diproduksi oleh ovarium. Kadar kumpulan hormon tersebut biasanya akan memuncak pada akhir fase praovulasi dan awal fase ovulasi. Fungsi estrogen yang utama adalah mengatur fungsi reproduksi dan seksual. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa estrogen mampu memengaruhi berbagai organ tubuh lain seperti otak, kulit, kerangka, dan otot.

Siklus menstruasi dan perkembangan otak

Baru-baru ini, banyak peneliti yang berhasil menemukan hubungan langsung antara siklus menstruasi wanita dengan perkembangan otak. Salah satunya adalah sebuah studi yang diterbitkan dalam Nature Scientific Reports. Dalam studi yang dilaksanakan di Jerman tersebut, para ahli mengamati kadar estrogen dan aktivitas otak dari 30 wanita peserta penelitian selama dua bulan atau dua kali siklus menstruasi. Ternyata, ketika kadar estrogen memuncak pada akhir fase praovulasi dan awal fase ovulasi, volume bagian otak yang bernama hipokampus juga bertambah. Hipokampus bertugas untuk menyimpan memori, mengelola emosi, serta mengatur suasana hati atau mood. Menurut Claudia Barth, salah satu ahli yang terlibat dalam studi tersebut, hal ini akan memengaruhi pola perilaku wanita.

Dalam Journal of Neuroscience, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa tingginya kadar hormon estrogen pada fase praovulasi mampu membantu wanita berpikir lebih jernih, mengambil keputusan yang lebih bijak, dan mengendalikan suasana hati. Hal ini membuktikan bahwa otak wanita bekerja mengikuti siklus menstruasinya. Setiap kali melewati masa praovulasi dan di awal masa ovulasi, otak wanita akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kadar estrogen dalam tubuh.

Penelitian lain yang dilakukan oleh para ahli di Northwestern University Department of Neurobiology and Physiology membuktikan bahwa koneksi antara saraf-saraf otak akan meningkat hingga sebesar 25% pada masa di mana kadar estrogen memuncak. Semakin banyak saraf otak yang terhubung, semakin tinggi pula komunikasi dan koordinasi yang terjadi pada otak. Hal ini memungkinkan bertambahnya daya ingat dan kemampuan menerima serta memproses informasi. Dengan demikian, setiap siklus menstruasi berjalan pun otak akan menciptakan koneksi-koneksi baru antar saraf  yang berguna bagi perkembangan otak wanita.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca