Studi Ungkap Alasan Pria Lebih Sering Alami Kecelakaan Daripada Wanita

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

“Pasti yang nyetir cewek, nih, kalo bisa sampe tabrakan gitu!” atau “Yah, ini ibu-ibu ngapain sih bawa motor? Nanti nabrak mobil gue lagi!” Mungkin sekali-dua kali Anda pernah mendengar nyinyir seksis ini di jalanan. Atau, komentar ini justru terlontar dari mulut Anda sendiri? Perempuan seringkali dicap teledor, kikuk, atau malah “lemah” menghadapi kerasnya jalanan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa sebenarnya kaum Adamlah yang paling rawan menjadi korban kecelakaan lalu lintas? Cedera akibat kecelakaan bahkan menjadi faktor utama kematian dini pada pria.

Pria lebih rentan jadi korban kecelakaan lalu lintas

Sudah bukan rahasia bahwa rata-rata pria berumur lebih pendek dari wanita. Dilansir dari Telegraph, data tahun 2014-2016 menunjukkan wanita diperkirakan memiliki angka harapan hidup hingga usia 83 tahun, sedangkan pria hanya sampai sekitar usia 79 tahun.

Menurut Jake Nelson, direktur AAA Foundation for Traffic Safety, dilansir dari CBS News, remaja pria dan pria dewasa muda adalah dua kelompok yang paling berisiko tinggi untuk mengalami kecelakaan lalu lintas akibat nyetir saat mengantuk.

Dalam lingkup nasional, total kasus cedera di Indonesia adalah 8,2 persen, dengan persentase tertinggi ditemukan di Sulawesi Selatan (12,8%) dan terendah di Jambi (4,5%). Perbandingan hasil Riskesdas 2007 dengan Riskesdas 2013 menunjukkan jumlah kasus cedera meningkat dari 7,5 persen menjadi 8,2 persen. Penyebab cedera terbanyak pada pria adalah kecelakaan sepeda motor (44,6%). Cedera akibat kecelakaan bermotor paling banyak terjadi pada laki-laki tamatan SMA dengan status pegawai. Persentase tertinggi dari cedera akibat kecelakaan transportasi darat lainnya terjadi pada laki-laki umur 5-14 tahun yang tidak tamat SD dan tidak bekerja, yang bertempat tinggal di perkotaan.

Penyebab kecelakaan paling banyak selanjutnya diikuti oleh cedera terkena benda tajam/tumpul (7,3%) dan kejatuhan (2,5%). Sementara angka total kasus kecelakaan lalu lintas pada wanita akibat kecelakaan lalu lintas masih lebih rendah daripada pria, yaitu 34,2 persen.

Selain kecelakaan lalu lintas, cedera yang tidak disengaja menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di antara pria Amerika, setelah penyakit jantung dan kanker, menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention tahun 2004. Misalnya karena cedera rumah tangga dan kejatuhan barang. Fakta lain bahkan menunjukkan bahwa anak laki-laki dua kali lebih mungkin meninggal karena cedera saat bermain dan terjatuh dari jendela ketimbang anak perempuan.

Jenis cedera yang paling sering dialami pria

Masih melansir data Riskedas RI tahun 2013, jenis cedera yang paling umum dialami pria Indonesia meliputi cedera yang berakibat fatal, seperti luka robek, patah tulang, anggota tubuh terputus, cedera mata, dan gegar otak. Sementara jika dibandingkan dengan wanita, jenis cedera yang paling sering dialami adalah lecet/memar dan terkilir, kebanyakan karena terjatuh.

Selain itu, bukti di beberapa negara menunjukkan bahwa pria muda maupun tua bisa dua hingga lima kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit akibat cedera:

  • Patah tulang. Pria cenderung mengalami patah tulang karena bersepeda dan olahraga lainnya dibandingkan wanita.
  • Cedera tulang belakang. Pria tiga sampai empat kali lebih mungkin mengalami cedera tulang belakang yang menyebabkan tingkat kecacatan lebih tinggi daripada wanita.
  • Luka bakar. Pria 11 kali lebih berisiko terkena luka bakar yang berhubungan dengan pekerjaan dibandingkan dengan wanita.
  • Luka di bagian tubuh tertentu karena mesin. Pria lebih berisiko terluka karena mesin dibandingkan dengan wanita.

jalan setelah patah tulang kaki

Mengapa bisa begitu?

Para pria berusia muda khususnya menyumbang angka terbesar dalam statistik kematian dan kecelakaan. Kondisi ini dikaitkan dengan perilaku berisiko dan keteledoran khas anak-anak remaja yang biasanya dipengaruhi oleh rasa penasaran.

Tim peneliti kesehatan di Henri Poincare University di Perancis juga menemukan beberapa alasan yang melatarbelakangi mengapa pria lebih sering menjadi korban kecelakaan cedera ketimbang wanita. Beberapa di antaranya adalah kurang pengalaman kerja, tidak memiliki pelatihan keselamatan kerja, memiliki gangguan tidur, hingga kebiasaan merokok.

Selain itu, faktor lingkungan pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan pun juga ikut berpengaruh. Pada umumnya, pria terlibat dalam pekerjaan berat dan aktivitas yang biasanya jauh lebih berisiko dibandingkan dengan wanita.

Terlebih, meski tidak terbukti pada semua kasus kecelakaan, tingkat testosteron tinggi pada pria ikut menyumbang faktor risikonya. Testosteron tinggi telah lama dikaitkan dengan sikap agresif dan kecenderungan impulsif, yang pada kebanyakan kasus, dapat membahayakan keselamatan diri. Para pakar berpendapat bahwa agresivitas pria juga sedikit banyak ikut dipengaruhi oleh tekanan sosial dan peran gender yang memaksa pria haruslah menjadi sosok yang kuat, maskulin, sangar, berani ambil risiko (baca: nekat), dan mampu mengerjakan segala hal berat.

Namun lagi-lagi, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menelaah penyebab pasti mengapa laki-laki lebih rawan menjadi korban kecelakaan ketimbang wanita.

Yang penting harus bisa menjaga keselamatan diri

Yang namanya kecelakaan memang sifatnya tidak disengaja. Akan tetapi, Anda bisa mengurangi risiko kematian dan cedera yang diakibatkannya. Salah satunya adalah dengan memastikan keselamatan diri saat berkendara dan bekerja.

Gunakan sabuk pengaman ketika berkendara dengan mobil, dan pakai atribut lengkap (helm, sarung tangan, dan jaket) ketika berkendara dengan motor. Di jalanan, sebisa mungkin berkendara dengan kepala dingin. Mengalah dan berikan jalan bagi orang lain, jika itu yang diperlukan. Patuhi rambu lalu lintas. Sadari pula bahayanya mengemudi sambil mabuk, ketika ngantuk atau kelelahan, dan bahayanya mengemudi kendaraan sambil main hape.

Di tempat kerja, pastikan Anda memakai atribut keselamatan yang diperlukan, misalnya helm, kacamata goggle, dan sepatu boots. Pastikan juga alat-alat dan mesin berat yang Anda gunakan masih layak operasi. Patuhi aturan keselamatan kerja yang dicanangkan oleh perusahaan Anda, dan mintalah pelatihan keselamatan kerja rutin.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca