Efektifkah Gambar Peringatan Bahaya Merokok?

Oleh

Indonesia menempati peringkat pertama jumlah pria dewasa perokok terbanyak sedunia. Mampukah gambar seram peringatan bahaya merokok menurunkan angka ini?

Awal mula pemasangan gambar seram di bungkus rokok

Label peringatan kesehatan pada produk rokok merupakan alat yang paling hemat biaya dan cukup efektif untuk mendidik masyarakat, baik perokok maupun non-perokok, mengenai risiko kesehatan dari penggunaan tembakau.

Berbagai teori dalam psikologi sosial dan kesehatan, didukung oleh beragam studi empiris, telah menunjukkan keunggulan dari penggunaan gambar dan citra visual dibanding dengan pesan teks saja dalam proses komunikasi. Sejak tahun 1950-an, banyak penelitian berhasil menunjukkan bahwa daya tarik akan ketakutan tergolong efektif untuk memotivasi perubahan perilaku hidup sehat (misalnya berhenti merokok), terutama jika disandingkan dengan informasi tentang bagaimana untuk menghindari konsekuensi menakutkan tersebut (misalnya, nomer telepon untuk konsultasi bantuan berhenti merokok).

Ini sebabnya mengapa kurang lebih 40 negara di dunia telah memperkenalkan peringatan bergambar menyeramkan bahaya merokok di setiap bungkus rokok, dimulai dengan Kanada pada tahun 2001. Di negara-negara ASEAN, empat dari 11 negara telah menerapkan peringatan kesehatan berbentuk gambar pada kemasan rokoknya sejak tahun 2004 yang diawali oleh Singapura. Di Indonesia, aturan untuk mencantumkan gambar peringatan bahaya merokok telah berjalan sejak Juni 2014.

Yang kini menjadi pertanyaan, apakah gambar menyeramkan bahaya merokok ini benar efektif untuk menekan keinginan merokok?

Efektivitas gambar seram terhadap perokok di berbagai negara

Dikutip dari WHO, bukti dampak potensial yang lebih besar dari peringatan bergambar berasal dari beragam studi dan wawancara, termasuk pula studi eksperimen dan survei berbasis populasi di kalangan perokok Kanada, Australia, Belanda, New Zealand, Mexico, Malaysia, dan Thailand.

Merujuk pada salah satu penelitian yang diadakan di Kanada oleh David Hammond dan tim penelitinya, dilansir dari American Journal of Public Health, seperlima dari total 616 partisipan melaporkan pengurangan aktivitas merokok sebagai akibat dari paparan terhadap gambar peringatan di bungkus rokok, dan hanya 1% dari mereka yang melaporkan malah semakin giat merokok. Meskipun keseluruhan peserta melaporkan mengalami respon negatif terhadap peringatan bahaya merokok, termasuk rasa takut (44%) dan jijik (58%), perokok yang melaporkan dampak emosional negatif yang lebih besar lebih mungkin untuk berhenti, mencoba berhenti, atau mengurangi porsi merokok mereka tiga bulan kemudian. Partisipan yang memilih untuk menghindari memperhatikan peringatan bergambar (30%) dilaporkan cenderung kurang menunjukkan kesadaran akan risiko kesehatan atau menunjukkan keinginan terlibat dalam perilaku berhenti merokok.

Bagaimana efektivitas gambar peringatan bahaya merokok di Indonesia?

Dilansir dari National Geographic Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, perokok aktif mulai dari usia 10 tahun ke atas berjumlah 58.750.592 orang (36% dari total populasi), alias sepuluh kali lipat dari total penduduk Singapura.

Ironisnya, semenjak aturan peringatan bahaya merokok menggunakan visualisasi gambar mengerikan diberlakukan di pasar Indonesia, Antara News melaporkan Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak se-Asia Tenggara dengan jumlah perokok aktif mencapai 51,1 persen dari total penduduknya.

Selain itu, menurut The Jakarta Post, saat ini Indonesia masih menduduki peringkat keempat dalam total jumlah perokok terbanyak, mengikuti China, Rusia, dan Amerika Serikat, sekaligus juga menempati peringkat pertama dengan jumlah perokok aktif pria dewasa di atas usia 15 tahun terbanyak di dunia: mencapai 67,4 persen total penduduk.

Dilansir dari DW, dengan rata-rata konsumsi rokok bisa mencapai 1,085 batang per kepala setiap tahunnya, angka perokok aktif di Indonesia justru diyakini akan naik menjadi 90 juta orang pada tahun 2025.

Gambar peringatan bahaya merokok dinilai kurang efektif

Secara umum, grafis peringatan bahaya merokok di bungkus rokok menunjukkan bahwa visualisasi menyeramkan ini: (1) lebih diperhatikan daripada peringatan yang hanya mencantumkan teks saja, (2) lebih efektif untuk mendidik perokok tentang risiko kesehatan dari merokok dan juga meningkatkan sugesti alam bawah sadar mereka mengenai risiko kesehatannya, dan (3) terkait dengan peningkatan motivasi untuk berhenti merokok.

Walaupun begitu, gambar-gambar menyeramkan nan realistis ini — paru-paru membusuk, kanker mulut ganas dengan tampilan gigi dan gusi yang hancur total, hingga gambar tengkorak — dianggap sebagai suatu pesan manipulatif bagi sebagian orang. Reaksi ini bisa menjadi senjata makan tuan untuk pemerintah dalam menggalakkan kampanye berhenti merokok.

Menurut sebuah studi terbaru dari University of Illinois tahun 2016, dilansir dari Journal Now, peringatan itu dipandang oleh banyak pihak sebagai ancaman atas kebebasan, pilihan atau otonomi, sehingga mereka bertindak secara naluriah untuk melawan peringatan itu.

“Bungkus rokok yang bergambar mengerikan bertujuan untuk ‘menakuti’ perokok untuk berhenti merokok, namun malah membentuk persepsi ancaman terhadap kebebasan individual pada masyarakat yang melihatnya, jika dibandingkan dengan peringatan teks,” ujar Nicole LaVoie, mahasiswa kedoktoran yang terlibat dalam studi tersebut. Menurut LaVoie, gambar peringatan ini justru membuat orang-orang merasa marah, bukannya takut, dan merasa dibohongi karena kenyataannya jauh berbeda seperti apa yang ada di gambar tersebut, berdasarkan pengalaman orang di sekitar dan/atau apa yang mereka alami sendiri.

Brian Quick, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut, lebih lanjut mengatakan bahwa, beberapa individu tidak hanya akan bereaksi negatif terhadap potensi ancaman terhadap kebebasan mereka, namun mereka akan lebih mungkin untuk semakin melakukan hal yang dilarang — dalam hal ini, merokok — untuk membuktikan pemberontakan mereka terhadap ancaman tersebut.

Menurut para peneliti, jika seseorang sudah memilih untuk merokok, mereka akan secara sukarela untuk tidak mempedulikan gambar-gambar yang tercantum di bungkus rokok mereka.

Walaupun bukti angka penurunan rata-rata perokok di berbagai belahan dunia tidak bisa dipungkiri, LaVoie berpendapat bahwa penurunan tersebut lebih dipengaruhi oleh kenaikan pajak dan bea cukai rokok, juga pelarangan merokok di tempat-tempat umum.

BACA JUGA:

Yang juga perlu Anda baca