Mengupas Ragam Penyebab Orthorexia, Obsesi Makan Sehat yang Justru Tidak Baik

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Jika kegemaran mengonsumsi makanan sehat sudah berubah menjadi obsesi, kondisi ini disebut sebagai orthorexia. Penyebab orthorexia bisa berbeda pada setiap orang, tapi dampaknya tetaplah sama. Penderita orthorexia cenderung kekurangan asupan nutrisi karena enggan mengonsumsi makanan yang menurutnya tidak menyehatkan.

Lantas, apa saja faktor yang menjadi pemicu dari kondisi ini?

Beragam faktor penyebab orthorexia

Orthorexia biasanya berawal ketika seseorang mengubah pola makan untuk mencapai gaya hidup yang lebih sehat.

Lama kelamaan, bukan hanya pola makan yang berubah, perilakunya pun bisa terpengaruh oleh semua perubahan ini.

Seseorang mungkin terus-menerus membaca daftar komposisi makanan. Atau, ia tidak lagi mau mengonsumsi daging dan karbohidrat.

Pada lain waktu, ia bisa begitu stres ketika tidak ada makanan yang tergolong ‘sehat’, ‘murni’, ‘organik’, dan sebagainya.

Kondisi ini adalah gejala dari orthorexia. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab orthorexia, tapi sejumlah faktor disinyalir meningkatkan risikonya.

Faktor-faktor tersebut terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut:

1. Faktor biologis

banyak makan tapi tetap kurus

Orthorexia dapat bersifat genetik. Risikonya meningkat bila terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan makan.

Pada beberapa orang, orthorexia juga bisa disebabkan oleh gangguan pada hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

2. Faktor psikologis

merasa paling hebat

Penyebab orthorexia sering kali berasal dari pengalaman buruk yang berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Berbagai pengalaman buruk yang terjadi dapat memicu reaksi negatif seperti:

  • Trauma
  • Stres, gangguan kecemasan, dan depresi
  • Menurunnya kepercayaan diri
  • Rasa minder dan kesepian
  • Rasa kehilangan kendali atas kehidupan sendiri ataupun orang lain
  • Kesulitan menghadapi perubahan besar dalam hidup

Seseorang yang mengalami orthorexia tanpa sadar menjadikan keinginannya untuk makan sehat sebagai pengalihan dari emosi negatif.

Akan tetapi, keinginan tersebut lambat laun menjadi tidak terkendali sehingga berpengaruh terhadap kesehatannya.

3. Faktor sosial dan budaya

susu kedelai untuk meningkatkan massa otot

Faktor sosial dan budaya merupakan penyebab tak langsung dari orthorexia.

Tak bisa dipungkiri, masyarakat dan media gencar memberikan gambaran keliru mengenai makanan yang sehat, bentuk badan yang baik, serta pola makan yang bermanfaat. 

Penggambaran tersebut meliputi:

  • Iklan yang menyatakan bahwa tubuh ideal harus berotot.
  • Ajakan untuk menurunkan berat badan secara besar-besaran.
  • Stigma bahwa orang yang mengalami obesitas pasti malas.
  • Iklan produk jus detoks, makanan organik, pola makan vegan, dan sebagainya.

Meski tidak menjadi penyebab langsung, risiko orthorexia juga meningkat jika Anda bekerja pada bidang yang menuntut Anda untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan.

Mengacu sebuah penelitian dalam jurnal Comprehensive Psychiatry, kasus orthorexia ditemukan pada sekelompok mahasiswa kedokteran.

Pada sebuah studi dalam jurnal Eating and Weight Disorders, kondisi ini kerap terjadi pada atlet.

Sementara pada penelitian lain dalam jurnal yang sama, orthorexia pun ditemukan pada kelompok artis yang terdiri dari penari balet, musisi orkestra, dan penyanyi opera.

Berbeda dengan motivasi untuk makan sehat yang baik bagi tubuh, orthorexia justru bisa menjadi penyebab kekurangan nutrisi.

Tanpa penanganan yang tepat, kekurangan nutrisi dapat mengganggu fungsi tubuh dan menyebabkan sejumlah penyakit.

Tidak ada salahnya mengisi menu makan harian Anda dengan makanan yang menyehatkan.

Namun, jika kebiasaan ini malah mengubah pola makan Anda secara drastis, cobalah berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk menentukan solusinya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 13, 2019 | Terakhir Diedit: Januari 15, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca