5 Penyakit Infeksi yang Merebak Akibat Perubahan Iklim

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Perubahan iklim membawa beberapa akibat buruk, salah satunya adalah penyakit infeksi yang menyebar lewat air dan udara. Tidak sekadar berbahaya, beragam penyakit ini juga mengakibatkan efek jangka panjang yang serius, mulai dari menurunnya kualitas hidup penderita hingga kematian skala besar.

Pengaruh perubahan iklim terhadap penularan penyakit

Perubahan iklim terjadi karena aktivitas manusia yang menghasilkan berbagai gas sehingga memerangkap panas di atmosfer. Dampaknya, suhu rata-rata bumi menjadi lebih hangat dari tahun ke tahun. Beberapa negara di dunia mengalami gelombang panas dan kenaikan curah hujan.

Ini adalah kondisi yang ideal bagi serangga untuk berkembang biak. Nyamuk, lalat, dan serangga sejenisnya bermigrasi dari wilayah yang dingin menuju tempat yang lebih hangat. Mereka lalu bertelur dalam kubangan air yang bertambah banyak akibat hujan.

Akibat perubahan iklim yang begitu drastis, perkembangbiakan bakteri, virus, dan parasit penyebab penyakit juga meningkat. Hal ini lambat laun menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Beragam penyakit yang timbul akibat perubahan iklim

gejala malaria

Ada begitu banyak masalah kesehatan yang mengalami peningkatan akibat perubahan iklim. Berikut adalah beberapa yang paling sering terjadi:

1. Malaria

Malaria disebabkan oleh infeksi Plasmodium. Parasit ini masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles. Gejalanya adalah demam, sakit kepala, dan menggigil. Tanpa penanganan segera, penyakit dapat bertambah parah dan berakibat fatal.

Beberapa wilayah di Indonesia sebenarnya telah aman dari malaria. Namun, angka penyakit malaria tetap bisa meningkat akibat perubahan iklim. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengontrol populasi nyamuk di penampungan air bersih, sungai, dan sawah.

2. Kolera

Kanker kolorektal adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kanker yang bermula dari usus besar hingga rektum (anus). Kanker ini juga bisa disebut sebagai kanker usus besar atau kanker rektum secara terpisah, tergantung pada lokasi bermulanya kanker. Apa dampaknya memiliki kanker usus besar pada kesehatan sistem pencernaan? Begini penjelasannya. Cara kerja sistem pencernaan tubuh yang normal Usus besar dan rektum adalah bagian dari sistem pencernaan. Bagian pertama dari sistem pencernaan (lambung dan usus halus) memproses makanan sebagai energi, sementara bagian terakhir (usus besar dan rektum) menyerap cairan untuk membentuk kotoran padat yang kemudian dikeluarkan dari tubuh. Setelah dikunyah dan ditelan, makanan bergerak dari kerongkongan menuju lambung. Di sinilah makanan sebagian diuraikan dan kemudian dikirim ke usus halus, atau disebut juga usus kecil. Usus ini disebut kecil karena lebih sempit daripada usus besar (kolon dan rektum), tetapi usus halus sebenarnya merupakan bagian terpanjang dari sistem pencernaan — dengan panjang sekitar 6 meter. Usus halus berfungsi untuk melanjutkan penguraian makanan dan menyerap sebagian besar nutrisi, yang kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Usus halus menyambung ke usus besar di perut kanan bawah. Sebagian besar usus besar terdiri dari saluran berotot dengan panjang sekitar 1,5 meter. Kolon menyerap air dan garam dari zat sisa makanan dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan residu kotoran. anatomi usus besar (sumber: WebMD) Usus besar (kolon) memiliki 4 bagian: Bagian pertama disebut kolon asenden. Bagian ini dimulai dengan kantung kecil (sekum) di mana usus halus tersambung dengan kolon dan memanjang ke atas di sisi perut kanan. Sekum juga merupakan tempat di mana usus buntu tersambung ke kolon. Bagian kedua disebut kolon transversum karena membentang dari sisi kanan ke kiri perut atas. Bagian ketiga, disebut kolon desenden, terus memanjang ke bawah di sisi kiri. Bagian keempat, dan yang terakhir, disebut kolon sigmoid karena bentuknya yang menyerupai huruf “S” atau “sigmoid.” Zat sisa makanan yang tersisa setelah melewati kolon disebut feses atau tinja. Kotoran ini diangkut dan disimpan di rektum, di 15 cm terakhir dari sistem pencernaan sampai waktunya dikeluarkan dari tubuh lewat anus. Dinding usus besar dan rektum terbentuk dari beberapa lapisan. Kanker kolorektal dimulai di lapisan terdalam dan bisa tumbuh melalui sebagian atau semua lapisan lainnya. Tingkat penyebaran kanker usus besar akan bergantung pada seberapa dalam kanker bertumbuh ke dalam lapisan-lapisan ini. Perkembangan kanker usus besar dalam tubuh Kebanyakan kanker usus besar berkembang perlahan selama beberapa tahun. Sebelum kanker berkembang, pertumbuhan jaringan atau tumor biasanya dimulai sebagai polip non-kanker pada dinding dalam usus besar atau rektum. Tahap perkembangan kanker usus besar (Ki-ka: polip kolon jinak hingga jadi tumor kanker) sumber: askdoctork.com Tumor adalah jaringan abnormal dan bisa bersifat jinak (bukan kanker) atau ganas (kanker). Polip adalah tumor non-kanker yang jinak. Beberapa polip bisa berubah menjadi kanker, tetapi tidak semuanya. Kemungkinan berubahnya polip menjadi kanker bergantung pada jenis polip itu sendiri. Ada dua jenis utama dari polip: Polip adenomatosa/adenoma (Gambar kedua dari kiri) adalah polip yang bisa berubah menjadi kanker. Oleh karena itu, adenoma disebut sebagai kondisi pra-kanker. Polip hiperplastik dan polip inflamasi, secara umum, bukanlah pra-kanker. Namun, beberapa dokter berpikir bahwa beberapa polip hiperplastik bisa menjadi pra-kanker atau bisa menjadi tanda peningkatan risiko terkena adenoma dan kanker, terutama jika polip ini tumbuh di kolon asenden. Jenis kondisi pra-kanker lainnya disebut displasia (gambar keempat dari kiri dari ilustrasi di atas). Displasia adalah area di dinding usus besar atau rektum di mana sel terlihat abnormal, tetapi tidak seperti sel kanker yang sesungguhnya, saat dilihat dengan mikroskop. Sel-sel ini bisa berubah menjadi kanker seiring waktu. Displasia biasanya ditemukan pada orang yang pernah terkena penyakit seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn selama bertahun-tahun. Baik kolitis ulseratif dan penyakit Crohn menyebabkan peradangan kronis pada usus besar. Jika terbentuk polip, kanker pada akhirnya bisa mulai berkembang masuk ke dalam dinding usus besar atau rektum. Saat berada di dinding, sel-sel kanker kemudian bisa merasuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening. Pembuluh getah bening adalah saluran tipis dan kecil yang mengangkut kotoran dan cairan. Saluran-saluran ini pertama mengalir ke kelenjar getah bening, yaitu struktur berbentuk kacang yang mengandung sel-sel imun yang membantu melawan infeksi. Begitu menyebar ke dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening, sel-sel kanker bisa bergerak ke kelenjar getah bening terdekat atau bagian lain yang jauh di tubuh, seperti hati. Saat kanker menyebar ke bagian yang jauh di tubuh, ini disebut metastasis. Macam-macam jenis kanker usus besar Beberapa jenis kanker bisa dimulai di usus besar atau rektum, contohnya: Adenokarsinoma Lebih dari 95% kanker kolorektal adalah jenis kanker adenokarsinoma. Kanker ini dimulai di sel-sel yang membentuk kelenjar penghasil lendir untuk melumasi dinding dalam usus besar dan rektum. Saat dokter berbicara tentang kanker usus besar, inilah yang hampir selalu mereka maksudkan. Tumor karsinoid Tumor ini dimulai dari sel-sel penghasil hormon khusus di usus. Tumor stroma gastrointestinal (GIST) Tumor ini dimulai dari sel-sel khusus di dinding usus besar yang disebut sel interstisial dari Cajal. Beberapa bersifat jinak (non-kanker), dan lainnya bersifat ganas (kanker). Tumor ini bisa terdapat di setiap bagian sistem pencernaan, tetapi jarang ditemukan di usus besar. Limfoma Limfoma adalah jenis kanker yang memengaruhi sel sistem kekebalan tubuh, yang biasanya dimulai di kelenjar getah bening. Limfoma juga bisa dimulai di usus besar, rektum, atau organ lainnya. Sarkoma Sarkoma adalah jenis tumor yang bisa dimulai di pembuluh darah, otot, dan jaringan ikat pada dinding usus besar dan rektum. Sarkoma usus besar atau sarkoma rektum merupakan jenis kanker langka.

Kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini menular lewat makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Penderita umumnya mengalami diare dan dehidrasi parah yang dapat mengakibatkan kematian jika tidak ditangani.

Penyakit kolera biasanya lebih banyak terjadi di wilayah kumuh, padat penduduk, dan sulit mendapatkan akses air bersih. Cara terbaik mencegah kolera adalah dengan rajin mencuci tangan serta memastikan kebersihan air dan makanan sebelum dikonsumsi.

3. Demam berdarah

Penyakit lain yang meningkat akibat perubahan iklim adalah demam berdarah. Seperti malaria, demam berdarah juga menular melalui gigitan nyamuk. Bedanya, demam berdarah disebabkan oleh infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes.

Gejala demam berdarah antara lain demam, sakit kepala, sendi terasa linu, serta muncul bintik-bintik merah pada tubuh. Demam berdarah yang tidak ditangani dapat menyebabkan perdarahan, syok, hingga kematian.

4. Pneumonia

sakit pneumonia, bisa dirawat di rumah atau harus opname?

Pneumonia adalah penyakit infeksi pada kantung udara dalam paru-paru, atau alveoli. Penyebabnya bisa berasal dari bakteri, virus, hingga jamur. Alveoli yang terinfeksi akan mengalami peradangan dan terisi oleh dahak, lendir, atau cairan.

Pneumonia banyak terjadi pada perokok, balita, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, dan penderita penyakit kronis. Penyakit ini bisa lebih mudah menyebar akibat perubahan iklim. Pasalnya, mikroba penyebab penyakit menjadi semakin banyak.

5. Hepatitis A

Hepatitis A adalah penyakit peradangan pada hati akibat infeksi virus hepatitis A (HAV). HAV memasuki tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Meski tidak berbahaya, gejala hepatitis A bisa amat mengganggu kegiatan sehari-hari.

Anda dapat mencegah hepatitis A dengan melakukan vaksinasi dan menjaga kebersihan diri. Cuci tangan Anda dengan air mengalir dan sabun usai menggunakan kamar mandi, sebelum menyiapkan makanan, dan setelah mengganti popok anak.

Beragam penyakit infeksi mengalami peningkatan akibat perubahan iklim. Memperbaiki kondisi ini mungkin sulit, tapi Anda bisa melakukan langkah yang lebih sederhana dengan melindungi diri dari penyakit tersebut.

Jagalah kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah infeksi mikroba dari makanan. Selain itu, waspadalah terhadap peningkatan populasi serangga yang mungkin membawa penyakit. Langkah sederhana yang Anda lakukan akan sangat bermanfaat bagi kesehatan orang banyak.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca