Minum obat batuk menjadi langkah yang tepat saat Anda mulai terganggu dengan batuk yang semakin parah. Sayangnya, sering beredar banyak anggapan seputar obat batuk, dari yang benar hingga yang keliru, yang bisa menimbulkan kesalahan persepsi di masyarakat. Untuk meluruskannya, yuk simak fakta obat batuk berikut ini untuk mematahkan semua mitos yang beredar.

Mitos dan fakta obat batuk yang perlu diketahui

Mitos 1: obat batuk selalu menyebabkan kantuk

obat flu ngantuk

Sebagian orang menghindari obat batuk karena katanya bisa bikin Anda mengantuk sepanjang hari. Apalagi kalau pekerjaan di kantor sedang menumpuk atau ingin bepergian jauh. Namun tunggu dulu. Hal ini tidak sepenuhnya benar, lho.

Faktanya, obat batuk memang dapat menyebabkan kantuk sebagai salah satu efek samping yang paling umum. Akan tetapi, seperti dikutip dari health.usnews.com, ini hanya berlaku jika Anda minum sirup obat batuk yang mengandung bahan aktif antihistamin.

Selain meredakan gejala flu dan batuk, senyawa antihistamin ini dapat masuk ke otak dan mengganggu kesadaran Anda sehingga cenderung menimbulkan rasa kantuk dan sulit berkonsentrasi.

Namun jika Anda juga mengalami sulit tidur atau tidur tidak nyenyak akibat batuk, obat batuk yang mengandung antihistamin mungkin diperlukan untuk membantu istirahat selama proses pemulihan.

Jadi, coba cek lagi kandungan yang tertera pada kemasan obat batuk Anda. Untuk batuk berdahak, coba cari obat batuk yang diformulasi baru dengan kandungan aktif Bromhexine HCl dan guaifenesin. Bahan-bahan ini tidak menyebabkan kantuk tapi tetap ampuh meredakan batuk berdahak yang mengganggu.

Mitos 2: batuk bisa sembuh total dengan obat batuk

obat batuk

Tidak sedikit orang lebih memilih pergi ke warung atau apotek untuk membeli obat batuk bebas. Ini biasanya dilakukan ketika Anda sudah tak tahan lagi dengan sakit tenggorokan dan batuk yang menyiksa, tapi enggan periksa ke dokter karena biayanya yang jauh lebih mahal.

Obat batuk bebas umumnya mengandung sejumlah bahan kimia, di antaranya guaifenesin untuk mengencerkan lendir atau dahak di tenggorokan, dextromethorphan untuk menghambat refleks batuk, dan phenylephrine HCl untuk meredakan hidung tersumbat. Kombinasi zat-zat aktif ini berfungsi untuk membantu meredakan ketidaknyamanan dari batuk dan pilek.

Namun, perlu diingat bahwa fungsi utama obat batuk adalah untuk meredakan dan mengurangi batuk, bukan menyembuhkan penyakit yang menyebabkan batuk tersebut. Batuk sendiri merupakan respon tubuh terhadap masuknya zat asing (termasuk bakteri dan virus) ke dalam tubuh. Jadi, meski batuknya memang bisa diredakan oleh obat batuk yang dijual bebas, penyebab utamanya tetap harus ditangani dulu supaya bisa benar-benar sembuh.

Sebaiknya periksakan diri ke dokter supaya Anda tahu apa penyebab batuk tersebut, dan dokter bisa menyarankan pengobatan yang tepat.

Mitos 3: makan sup hangat bisa menjadi obat batuk alami

sup sayuran

Sup yang dimakan dalam kondisi hangat memang bisa membantu melegakan tenggorokan. Karena itulah, banyak orang yang menjadikannya sebagai obat batuk alami, ketimbang minum obat batuk medis yang mengandung bahan kimia.

Eits, tunggu dulu. Walaupun makan sup hangat bisa meredakan tenggorokan yang gatal, tapi tetap saja ini tidak bisa melawan infeksi bakteri penyebab batuk Anda, lho. Ya, Anda tetap butuh obat batuk medis untuk mengobati batuk yang mengganggu.

Mitos 4: semua obat batuk sirup bikin ketagihan

efek mabuk obat batuk

Obat batuk sirup biasanya memiliki rasa yang manis dan segar. Hal ini terkadang membuat sebagian orang atau bahkan Anda pernah merasa ketagihan untuk minum obat batuk. Lantas, apakah ini artinya obat batuk sirup memiliki sifat adiktif alias bikin kecanduan?

Begini. Salah satu fakta obat batuk adalah mengandung kodein, yaitu suatu bahan aktif yang berfungsi untuk menghentikan batuk, tapi juga berpotensi adiktif jika dikonsumsi secara berlebihan. Namun tenang dulu. Ada sejumlah obat batuk lainnya yang tidak mengandung bahan aktif ini, kok.

Meski demikian, tetap perhatikan tanda dan gejala kecanduan obat yang muncul pada diri Anda, terutama pada remaja. Jika Anda mulai merasa ketagihan minum obat batuk, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter terdekat.

Mitos 5: obat batuk boleh diberikan pada anak-anak

aturan pakai cefixime untuk anak

Batuk adalah salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh anak-anak. Kalau sudah begitu, para orangtua biasanya akan langsung gerak cepat memberikan obat batuk untuk anak.

Meskipun obat batuk memang dapat membantu meredakan batuk pada anak, tapi ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Menurut American Academy of Pediatrics, obat batuk sebaiknya tidak diberikan pada bayi dan anak-anak di bawah usia enam tahun karena dapat memicu infeksi pernapasan yang lebih parah.

Prof. Thomas Fahey, seorang dokter umum sekaligus kepala Department of Family Medicine and General Practice di Royal College of Surgeons di Ireland Medical School, mengungkapkan kepada Telegraph bahwa pemberian paracetamol cenderung lebih efektif meredakan gejala batuk pada anak, ketimbang obat batuk medis lainnya.

Banyak minum air putih hangat dan istirahat yang cukup adalah dua kunci penting untuk mempercepat penyembuhan batuk pada anak-anak. Sebelum memberikan obat batuk, sebaiknya periksakan anak Anda ke dokter terdekat mengenai jenis obat dan dosis yang tepat untuk anak Anda.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca