Lemak Tubuh Anda Bisa Jadi Tempat Penyimpanan Racun Polusi

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Penelitian selama sepuluh tahun terakhir terus menemukan bukti bahwa polusi lingkungan bisa memicu perkembangan penyakit, salah satunya akibat penumpukan racun dari polusi (toksin) dalam lapisan lemak tubuh manusia. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kualitas kesehatan secara keseluruhan karena menyebabkan kerusakan terus-menerus, terutama pada orang yang mengalami obesitas.

Bagaimana racun dapat menumpuk di lapisan lemak tubuh?

Salah satu alasan mengapa toksin atau racun dapat terakumulasi dalam lemak adalah karena fungsi dari lemak itu sendiri adalah sebagai penyimpan substansi yang terserap oleh usus dan liver, seperti nutrisi dan toksin. Karena faktor penyimpanan tersebut, lemak dapat mencegah toksin beredar terlalu banyak pada sistem peredaran darah.

Meskipun demikian, lemak merupakan bagian terakhir dari pertahanan tubuh yang berperan dalam menyerap racun, saat organ lainnya seperti limfa, usus dan liver tidak dapat menyerap racun. Organ liver yang memiliki peran utama dalam detoksifikasi racun tidak dapat menyaring racun dengan efektif ketika terjadi paparan dan akumulasi racun terlalu banyak, sehingga racun lebih banyak terserap oleh lapisan lemak.

Akumulasi racun berlebih disebabkan lapisan lemak yang terlalu banyak yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan kembali ke aliran darah, dan harus kembali diserap oleh liver sehingga terjadi siklus keracunan yang akan memberi beban terhadap liver. Dalam beberapa waktu, terjadi oksidasi dan kerusakan sel akibat radikal bebas dari lapisan lemak yang terdapat akumulasi sel. Akibatnya, proses degenerasi sel terjadi lebih dini dan berdampak pada proses metabolisme, gangguan hormon dan gangguan kinerja sistem saraf pusat.

Jenis zat berbahaya apa yang dapat menumpuk pada lapisan lemak tubuh?

Pada dasarnya tidak semua racun atau toksin dapat terakumulasi dalam tubuh, hanya toksin yang larut lemak saja yang dapat tersimpan. Terdapat beberapa sumber racun larut lemak yang sering kita temui sehari-hari seperti:

  • bahan pestisida
  • bahan pengawet dan tambahan makanan
  • logam berat di udara , terutama dari mesin diesel
  • asap rokok
  • asap pembakaran plastik
  • zat kimia di lingkungan, misalnya debu vulkanik

Zat racun dioksin merupakan salah satu jenis racun yang dapat ditemukan pada berbagai sumber racun tersebut. Efek dioxin pada tubuh menimbulkan kerusakan perlahan terutama pada organ kulit dan liver yang pada akhirnya juga dapat merusak organ lainnya. Dioksin sangat mudah terakumulasi pada tubuh manusia karena selain jumlahnya di lingkungan yang banyak, juga terdapat pada hewan yang terpapar dan menjadi terakumulasi pada tubuh manusia.

Meskipun demikian, mengendalikan lemak tubuh merupakan salah satu cara menurunkan kadar dioxin yang terakumulasi dalam lemak. Hal ini ditunjukan oleh penelitian yang dipublikasi pada International Journal of Obesity di tahun 2010 yang menemukan terjadi penurunan serum dioxin yang signifikan pada tubuh individu seiring dengan penurunan berat badan dan hilangnya masa lemak.

Dampak penumpukan dioksin dalam lapisan lemak

Badan kesehatan dunia atau WHO menyatakan bahwa dioksin merupakan racun yang paling berbahaya jika terakumulasi dalam tubuh. Dampak akut dari akumulasi racun dioksin dapat terlihat dari warna kulit yang menjadi kusam dan gangguan fungsi liver yang merupakan tanda jika tubuh sudah mulai mengalami keracunan.

Dalam waktu yang lebih lama, paparan dioksin menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah sakit, gangguan perkembangan otak, gangguan hormon dan penurunan fungsi organ reproduksi.  Meskipun memerlukan akumulasi dan waktu yang lama, penumpukan dioksin dalam lemak dapat bersifat karsinogen dan dapat menjadi pencetus perkembangan sel kanker.

Bagaimana cara mencegah racun menumpuk di lemak tubuh?

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan lemak berlebih dan membantu tubuh untuk mengeluarkan racun atau detoksifikasi tubuh, di antaranya:

  • Aktif beraktivitas – merupakan cara efektif untuk membakar lemak sekaligus mengeluarkan racun bersamaan dengan keringat. Olahraga secara rutin juga memperkuat organ pernapasan sistem kardiovaskuler dan respon sistem limfatik terhadap zat racun yang terserap oleh tubuh.
  • Konsumsi sayuran dan buah – hal ini berperan untuk menjaga kesehatan usus dan memicu pergerakan usus untuk mengeluarkan sisa makanan. Pergerakan usus yang sangat sedikit atau kondisi konstipasi akan memicu penyerapan lemak dan racun yang lebih banyak. Selain itu, WHO juga menyarankan menyeimbangkan asupan makanan dengan konsumsi sayur dan buah berguna untuk meminimalisir risiko dari asupan lemak hewan yang terkontaminasi dioksin.
  • Memenuhi kecukupan air minum – terdapat sangat banyak manfaat saat tubuh memperoleh air minum yang cukup seperti mencegah dehidrasi, mempertahankan metabolisme dan membantu pengeluaran zat sisa makanan dari dalam usus. Namun perhatikan kebersihan air minum dan pastikan jika air tidak terkontaminasi racun.
  • Relaksasi – kondisi rileks akan membantu jaringan limfatik pada organ usus bekerja lebih baik dalam menangkap racun dan berdampak sebaliknya saat seseorang mengalami stress. Hal ini dapat dilakukan dengan mengatur napas dapat atau menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan dapat membantu Anda rileks dalam waktu yang singkat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Kuku Bisa Cantengan dan Bagaimana Mengobatinya?

Kuku yang cantengan tak hanya mengerikan untuk dipandang mata, namun bisa terasa menyakitkan dan mungkin bernanah. Begini cara mengobatinya.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Mungkin Anda kaget saat tahu kalau kelopak mata bengkak tiba-tiba. Ada banyak hal yang bisa bikin kelopak mata Anda bengkak. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
tanggal kedaluwarsa

4 Fakta yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tanggal Kedaluwarsa

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit