Mengenal Sudden Cardiac Arrest (Henti Jantung), Musuh Besar Pemain Sepak Bola

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Pada 2012 silam, laga pertandingan babak perempat final Piala FA yang mempertemukan Tottenham Hotspur dan Bolton harus dihentikan ketika Fabrice Muamba mendadak tumbang di lapangan. Jantung Fabrice Muamba berhenti berdetak selama 78 menit. Sudden cardiac death atau mati jantung mendadak adalah akibat dari sudden cardiac arrest, yang lebih dikenal dengan istilah henti jantung mendadak. Kejadian ini lantas membuat banyak pemain dan pendukung setia sepak bola jadi waswas. Apakah main bola bisa memicu henti jantung? Ini dia ulasan lengkapnya. 

Apa itu henti jantung mendadak?

Setelah tumbang di lapangan, Muamba dilarikan ke rumah sakit. Pertandingan tersebut pun dihentikan. Muamba mengalami henti jantung mendadak. Dilansir dari The Guardian, tim medis terus melakukan resusitasi jantung paru selama 67 menit, hingga akhirnya jantung Muamba kembali berdetak. 

Henti jantung mendadak sendiri merupakan kondisi langka yang terjadi pada usia muda, bisa dijumpai pada 1 di antara 50.000 orang. Henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest adalah kondisi di mana detak jantung mendadak berhenti, mengakibatkan penderitanya tidak dapat bernapas dan kehilangan kesadaran (pingsan).

Kondisi ini sangat membahayakan karena dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian hanya dalam hitungan menit. Sayangnya, henti jantung mendadak terjadi tanpa peringatan atau gejala. Hal ini disebabkan oleh gangguan arus listrik (electrical impulses) dalam jantung sehingga menghambat aktivitas pemompaan darah dan menghentikan sirkulasi darah dalam tubuh.

Kondisi ini berbeda dengan serangan jantung, di mana aliran darah menuju sebagian sisi jantung terhambat. Namun, serangan jantung juga dapat memicu gangguan aliran listrik dan mengakibatkan seseorang mengalami henti jantung mendadak.

Mengapa banyak pemain sepak bola yang mengalami henti jantung mendadak?

Bukan cuma Fabrice Muamba yang pernah mengalami kejadian nahas ini. Sudah banyak pemain sepak bola yang tumbang saat beraksi di lapangan akibat masalah jantung. Apakah itu berarti olahraga sepak bola meningkatkan risiko henti jantung? Tentu saja tidak.

Hanya saja, sepak bola adalah salah satu cabang olahraga yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Selain itu, jumlah pemain sepak bola di seluruh dunia juga sangat banyak. Karena itu, pemberitaan soal masalah jantung pada pemain sepak bola memang lebih santer terdengar.

Akan tetapi, dibandingkan dengan cabang olahraga lainnya, sepak bola dapat memicu kerja jantung manusia hingga 98% dari denyut jantung maksimal. Sedangkan tenis memicu hingga 80%, sementara golf lebih rendah lagi.

Ini karena sepak bola adalah olahraga yang sangat dinamis. Para pemain harus bergerak secara terus menerus dan risiko terjadinya benturan antar pemain cukup besar.

Selama 90 menit pertandingan, pemain sepak bola akan bermain sekitar 60 menit dan memakan energi sebesar 1.500 kilo kalori (kkal). Bayangkan saja, rata-rata pemain, kecuali kiper, berlari sejauh total 10 kilometer dalam setiap pertandingan.

Yang menarik, posisi bermain juga berpengaruh terhadap kapasitas aerobik. Pemain bertahan memiliki kapasitas aerobik paling rendah sementara penyerang atau striker yang paling tinggi.

Penyebab sudden cardiac death pada pemain sepak bola

Kelainan jantung yang terjadi pada atlet sepak bola disebabkan oleh hal yang berbeda-beda. Menurut para ahli, kebanyakan kasus kelainan jantung sebenarnya sudah ada sejak lahir. Namun, ada pula penyakit jantung yang didapat dari berbagai hal, termasuk oleh proses latihan olahraga itu sendiri. Tidak semua kelainan ini bisa terdeteksi oleh pemeriksaan rutin, sehingga mungkin saja baru disadari setelah ada kejadian fatal.

Kematian mendadak pada atlet, lebih dari 90% di antaranya disebabkan oleh masalah jantung, yang secara medis dikenal dengan sudden cardiac death (SCD) atau kematian mendadak yang disebabkan masalah jantung. Kondisi ini terjadi setelah mereka mengalami henti jantung mendadak. Sepanjang tahun 1966 hingga 2004 telah dilaporkan 1.101 kasus SCD pada atlet.

Kejadian SCD dilaporkan pada berbagai arena olahraga juga. Sebesar 30% terjadi di arena sepak bola, 25% pada arena bola basket, dan 15% pada cabang olahraga lari. Penyebab SCD pada atlet berusia di atas 35 tahun umumnya adalah aterosklerosis, sementara pada usia di bawah 35 tahun penyebab yang sering ditemukan adalah kardiomiopati, gangguan irama jantung, miokarditis dan trauma pada jantung. Dari berbagai penyebab kejadian SCD, 80-90% penyakit jantung yang mendasarinya seharusnya dapat terdeteksi.

Sepak bola sendiri memang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Misalnya dengan menurunkan tekanan darah, berat badan, dan kadar kolesterol. Namun, beda cerita jika Anda berprofesi sebagai pemain sepak bola yang memiliki jadwal pertandingan dan latihan yang padat. Belum lagi aktivitas lainnya seperti ikut tur pramusim atau membintangi iklan.

Menurut persatuan spesialis jantung di Eropa, ada dua hal mendasar yang harus diperbaiki untuk mencegah kematian karena sudden cardiac death. Kedua hal tersebut yaitu memperketat pemeriksaan kesehatan sebelum pertandingan dan menyediakan pelayanan gawat darurat di arena olahraga yang lebih baik lagi.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca