Beredar Foto Gas Air Mata Kedaluwarsa, Apa Bahayanya Bagi Tubuh?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/09/2019
Bagikan sekarang

Aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR sejak hari Selasa (24/9) turut diwarnai tembakan gas air mata dari aparat kepolisian. Bedanya, kali ini masyarakat dibuat geram setelah beredarnya foto selongsong gas air mata yang sudah kedaluwarsa.

Bahkan, tanggal yang tertera sudah lewat tiga tahun dari masa pakai seharusnya. Lantas, apakah paparan gas air mata yang telah lewat dari tanggal kedaluwarsanya memang lebih berbahaya bagi kesehatan?

Efek gas air mata terhadap tubuh

Tembakan gas air mata hampir selalu ditemukan dalam setiap aksi unjuk rasa. Begitu ditembakkan, gas yang keluar akan langsung bereaksi dan menimbulkan sensasi terbakar pada mata, saluran pernapasan, kulit, dan berbagai organ tubuh lainnya.

Penggunaan gas air mata memang efektif untuk meredam dan membubarkan aksi massa yang membludak. Namun, penggunaannya tetap berpengaruh pada kesehatan. Kedaluwarsa ataupun tidak, gas air mata tetap menimbulkan dampak buruk bagi tubuh.

Terdapat tiga jenis gas air mata yang kini umum digunakan, yakni gas CS (chlorobenzylidenemalononitrile), gas CN (chloroacetophenone), dan semprotan merica yang digunakan sebagai senjata pertahanan individual.

Gas air mata bekerja dengan cara mengiritasi selaput lendir pada mata, hidung, mulut, dan paru-paru. Efek gas air mata biasanya terasa dalam 30 detik setelah terpapar. Gejala pertama yang akan Anda rasakan adalah mata perih disertai keluarnya air mata.

Setelah itu, paparan gas air mata juga akan menyebabkan sesak napas, nyeri dada, iritasi kulit, serta produksi air liur berlebih. Paparan yang lebih berat bisa berdampak pada sistem pencernaan, umumnya menyebabkan muntah dan diare.

Kandungan berbahaya dalam gas air mata kedaluwarsa

Setelah melewati masa kedaluwarsanya, berbagai komponen dalam gas air mata akan terurai menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Awalnya, hal ini diduga akan menurunkan efektivitas gas air mata apabila digunakan.

Mónica Kräuter, seorang dosen kimia dari Simón Bolívar University, Venezuela, melakukan penelitian mengenai hal ini. Ia mengumpulkan ribuan kaleng gas air mata yang digunakan aparat militer pada aksi unjuk rasa di Venezuela selama tahun 2014.

Di antara ribuan kaleng gas yang terkumpul, sebanyak 72 persen di antaranya ternyata telah kedaluwarsa. 

Ia juga menemukan bahwa komponen gas air mata yang telah kedaluwarsa dapat terurai menjadi gas sianida, fosgen, dan nitrogen. Alih-alih mengurangi efektivitasnya, senyawa-senyawa ini justru membuat gas air mata menjadi lebih berbahaya.

Bahaya menghirup gas air mata kedaluwarsa

Senyawa hasil penguraian gas air mata bersifat racun bagi manusia. Jika jumlahnya kecil, gas sianida dapat larut dengan mudah oleh selaput lendir.

Namun, apabila Anda terpapar dalam jumlah besar, sel tubuh akan mengalami kesulitan menggunakan oksigen untuk menjalankan fungsinya dan merusak berbagai organ tubuh.

Sementara itu, fosgen disebut-sebut merupakan salah satu gas yang paling berbahaya. Gas ini tidak berwarna ataupun berbau sehingga sulit dideteksi. Begitu berinteraksi dengan tubuh, fosgen akan menyebabkan iritasi, sesak napas, batuk parah, hingga yang terburuk mengganggu fungsi jantung.

Nitrogen, di sisi lain, adalah gas yang menyusun 78 persen atmosfer bumi. Akan tetapi, gas ini hanya aman jika bercampur dengan oksigen dalam jumlah tertentu. Gas nitrogen murni amat berbahaya karena dapat menghambat penggunaan oksigen di dalam sel tubuh.

Asosiasi Dokter Kashmir di India, sebagaimana dilansir dari Kashmir Dispatch, turut menyatakan hal serupa. Penggunaan gas air mata kedaluwarsa bisa mengakibatkan luka bakar, gejala asma, kejang, kebutaan, hingga meningkatkan risiko keguguran.

Gas air mata mungkin bisa diandalkan untuk meredam potensi huru-hara. Meski demikian, metode ini juga akan berdampak pada orang-orang yang tinggal atau bekerja di sekitar area unjuk rasa.

Hingga situasi kembali kondusif, langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah membekali diri dengan memahami cara berlindung dari gas air mata. Tetaplah waspada dengan keadaan sekitar, terutama jika Anda bermukim di wilayah yang rawan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Lutut Menghitam Setelah Liburan, Bisakah Cerah Kembali dengan Baking Soda?

Ada sejumlah bahan yang kerap digunakan untuk mencerahkan lutut usai berlibur, salah satunya baking soda. Lantas, apakah cara ini memang terbukti efektif?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

Benarkah Berbahaya? Ini Fakta Seputar Makanan Kedaluwarsa

Fakta makanan kedaluwarsa patut diketahui untuk membantah mitos yang selama ini beredar. Tak selamanya mengonsumsi makanan kedaluwarsa berbahaya.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Nutrisi, Hidup Sehat 06/01/2020

Tips Melindungi Diri Saat Diserang Gas Air Mata

Gas air mata sering digunakan untuk membubarkan massa dan mengantisipasi kerusuhan. Bagaimana cara yang benar mengatasi efek kena gas air mata?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila

Tips Mencegah Mata Merah Setelah Berenang (Plus Cara Mengobatinya)

Mata merah setelah berenang memang biasa terjadi. Kondisi ini tak boleh dibiarkan. Simak beberapa tips mencegah dan mengobati kondisi tersebut berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Direkomendasikan untuk Anda

mata merah gejala coronavirus

Mata Merah dan Berair: Gejala Coronavirus COVID-19 yang Jarang Diketahui

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 12/04/2020
bahaya disinfektan bagi tubuh

Bahaya Menyemprot Disinfektan Langsung ke Tubuh Manusia

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 02/04/2020
gejala novel coronavirus

Cara Mendiagnosis COVID-19 pada Tubuh Manusia

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 22/01/2020
olahraga kabut asap

Apa Dampaknya Berolahraga di Tengah Kabut Asap Australia?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 20/01/2020