Bagaimana Vape Bisa Membuat Anda Kecanduan?

Oleh

Rokok elektrik atau vape mulai dikenal masyarakat sejak tahun 2011. Hingga saat ini, jumlah peminat vape terus meningkat. Ini karena vape diyakini sebagai alternatif rokok tembakau yang lebih sehat dan aman. Vape juga hadir dalam beragam jenis aroma yang menggoda. Banyak orang pun mulai beralih dari rokok tembakau ke rokok elektrik ini. Mereka percaya bahwa vape bisa membantu melepaskan diri dari kecanduan rokok tembakau. Akan tetapi, apakah alternatif baru ini justru akan membuat Anda kecanduan vape? Cari tahu jawabannya di bawah ini.

Apa saja kandungan vape?

Untuk mengetahui apakah seseorang bisa kecanduan vape, Anda perlu mempelajari apa saja kandungannya. Vape sendiri terdiri dari cairan yang berisi nikotin, perasa, dan berbagai bahan kimia lainnya. Sampai tulisan ini terbit, belum ada badan resmi yang mengelola dan mengawasi penjualan vape di Indonesia. Maka, pada kebanyakan kasus, informasi seputar bahan yang dicantumkan pada kemasan vape tidak akurat.

Menurut hasil berbagai penelitian di laboratorium, kadar nikotin yang tercantum pada kemasan dan yang benar-benar terkandung dalam vape Anda berbeda. Kadar nikotin yang sebenarnya terkandung ternyata lebih besar daripada yang disebutkan di kemasan. Selain itu, banyak penjual vape menawarkan pilihan “bebas nikotin”. Akan tetapi, setelah melalui pengujian di laboratorium, vape yang diklaim bebas nikotin pun ternyata masih mengandung nikotin juga.

Bisakah seseorang kecanduan vape?

Vape kerap dilihat sebagai alternatif bagi orang yang kecanduan rokok tembakau. Padahal, Anda juga bisa kecanduan vape. Ini karena bahan dasar vape adalah nikotin. Nikotin merupakan zat aktif yang bisa mengakibatkan ketagihan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Chemical Research in Toxicology menguak bahwa jenis nikotin yang ditemukan dalam vape Anda ternyata merupakan nikotin yang paling mudah diserap oleh tubuh. Ketika menghirup nikotin, zat tersebut akan masuk ke otak hanya dalam waktu kira-kira 10 detik. Reaksi otak terhadap nikotin adalah memproduksi hormon adrenalin, yang akan membuat Anda merasa lebih bersemangat dan berenergi.

Namun, efek tersebut sangat cepat hilang. Setelah efeknya hilang, Anda justru merasa lemas, tak bertenaga, dan sendu. Akibatnya, Anda pun jadi merasa butuh zat tersebut lagi. Proses inilah yang memungkinkan Anda kecanduan vape.

Amankah menggunakan vape sebagai pengganti rokok tembakau?

Banyak orang percaya bahwa mengurangi kandungan nikotin bisa membantu seseorang melepaskan diri dari kecanduan rokok tembakau. Rokok elektrik yang kandungan nikotinnya lebih rendah pun diyakini sebagai solusinya. Pada kenyatannya, mengurangi kadar nikotin saja tidak bisa serta-merta membantu seseorang menyembuhkan kecanduan.

Menurut dr. Neal Benowitz dari Center for Tobacco Control Research and Education, belum ada bukti medis yang menunjukkan bahwa vape bisa membantu menghentikan kecanduan rokok tembakau. Bahkan eksperimen yang dilakukannya terhadap 153 orang perokok menunjukkan bahwa mengurangi dosis nikotin tidak membawa perubahan apapun terhadap kebiasaan merokok. Setelah peserta penelitian melakukan vaping dengan dosis nikotin rendah selama 6 bulan, mereka toh kembali lagi pada rokok tembakau dengan kadar nikotin tinggi.

Para dokter dan ahli kesehatan masyarakat tidak menyarankan Anda untuk beralih ke vape guna menghentikan kecanduan rokok tembakau. Pasalnya, Anda tetap akan kecanduan vape juga. Menurut para ahli, cara terbaik menyembuhkan kecanduan adalah perubahan gaya hidup yang menyeluruh. Edukasi seputar bahaya rokok, dukungan dari orang-orang terdekat, dan menjalani terapi jauh lebih efektif dalam mewujudkan perubahan pada perokok.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca