Benarkah Donor Darah Bisa Bikin Gemuk?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Januari 2018 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia untuk melakukan donor darah masih terbilang minim. Dilansir dari data Badan Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan minimal pasokan darah di Indonesia bisa mencapai 5,1 juta kantong darah per tahun. Nyatanya, rata-rata jumlah darah yang diterima hanyalah mencapai 3,4 juta donasi untuk mencukupi sekitar 4 juta kantong. Keengganan masyarakat untuk mendonorkan darahnya bisa dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk salah satunya adalah mitos yang beredar bahwa donor darah bikin gemuk. Apa kata dunia medis soal ini?

Donor darah bikin gemuk, mitos atau fakta?

Faktanya, donor darah tidak akan membuat Anda menjadi gemuk. 

Berat badan bertambah ketika kalori yang dibakar tubuh saat beraktivitas lebih sedikit daripada kalori yang masuk dari asupan makanan. Selain dari makanan, ada banyak faktor lain yang membuat seseorang menjadi gemuk. Mulai dari genetik, jarang berolahraga, metabolisme tubuh yang lambat, efek samping obat-obatan, hingga kondisi kesehatan atau penyakit tertentu bisa membuat seseorang cepat gemuk.

Donor darah tidak pernah masuk ke dalam daftar penyebab seseorang menjadi gemuk secara medis. Jadi bertambahnya berat badan tidak ada kaitannya dengan donor darah. Memang, apa yang terjadi selama donor darah?

Setelah registrasi dan cek kesehatan, Anda akan diminta untuk berbaring atau duduk. Petugas donor kemudian akan memasukkan jarum steril ke kulit di bagian siku dalam selama 8-10 menit untuk mengumpulkan satu liter darah dan beberapa tabung sampel darah. Setelahnya, petugas akan menutup area bekas suntikan dengan perban. Setelah donor darah, Anda tidak akan merasakan apa pun— Anda bisa pulang dan melanjutkan rutinitas harian Anda.

melakukan donor darah

Lantas, kenapa ada orang yang menjadi gemuk setelah donor darah?

Karena jumlah darah yang diambil cukup banyak, kebanyakan orang bisa merasa lemas, pusing, dan/atau sakit perut setelah mendonor. Anda akan diberikan waktu memulihkan diri dengan menikmati makanan dan minuman yang disediakan oleh penyelenggara donor darah untuk mengisi ulang tenaga setelah kehilangan banyak cairan.

Setelah Anda pulang dari tempat donor, Anda juga disarankan untuk memperbanyak asupan cairan dan makanan minimal dalam 4 jam pertama setelah donor. Hal inilah yang mendasari sugesti banyak orang bahwa donor darah bikin gemuk.

Namun, hal ini tidak akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh Anda secara langsung. Makan setelah donor darah tidak akan langsung seketika membuat Anda gemuk. Makan banyak secara terus-terusan tanpa terkendali dan tidak kenal waktulah yang menjadi penyebab utama kegemukan.

Donor darah justru bikin berat badan turun, lho!

Donor darah bikin gemuk hanyalah mitos belaka. Yang benar dan sudah terbukti adalah bahwa donor darah itu bisa bikin kurus. Dilansir dari Live Strong, setiap kali mendonor satu kantung darah Anda bisa membakar sekitar 650 kalori. Itu sama dengan kalori yang dibakar jika Anda berlari selama 30 menit. Bayangkan berapa kilogram yang bisa turun jika Anda rutin mendonor, di samping tetap menjaga makan dan rutin olahraga?

Donor darah juga punya banyak manfaat lainnya untuk kesehatan. Masih ragu untuk menolong sesama?

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Donor darah sebaiknya dilakukan teratur. Tapi bagaimana jika jadwal donor darah Anda selanjutnya jatuh di bulan Ramadan? Bolehkah donor darah saat puasa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 2 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Tips Donor Darah yang Aman Saat Pandemi COVID-19

Pasokan darah berkurang drastis selama pandemi COVID-19 terjadi akibat social distancing. Aman atau tidak donor darah saat coronavirus?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Adakah Batas Maksimal untuk Transfusi Darah?

Setiap orang membutuhkan transfusi darah ketika dalam situasi kronis. Namun, adakah batas maksimal transfusi darah? Apakah ada aturan tentang hal ini?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Fakta Unik 23 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Plasma Darah Orang Sembuh Bisa Mengobati Pasien COVID-19?

Sebuah temuan baru dari peneliti di Tiongkok yang mengatakan bahwa plasma darah orang yang sembuh dapat mengobati pasien COVID-19. Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 21 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sumber karbohidrat paling sehat

Nasi, Mie, Pasta, dan Roti: Sumber Karbohidrat Mana yang Paling Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
mempersiapkan transfusi darah

Hal yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Menjalani Tranfusi Darah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 2 September 2020 . Waktu baca 4 menit
oatmeal bikin gemuk

4 Kesalahan Makan Oatmeal yang Bikin Berat Badan Malah Naik

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
frozen yogurt vs es krim sehat mana

Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 17 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit