7 Benda di Taman Rumah yang Ternyata Berbahaya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/11/2019 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Bersantai di pekarangan rumah menemani anak bermain bisa jadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Anda juga bisa memanfaatkan waktu senggang untuk berkebun mempercantik taman. Namun, berhati-hatilah saat menyentuh berbagai benda di sekitar taman Anda. Tanpa disadari, beberapa benda di taman rumah ternyata menyimpan bahaya untuk kesehatan Anda sekeluarga. Apa saja? Baca terus ulasan berikut ini.

Berbagai benda di taman rumah yang bisa membahayakan kesehatan

1. Pestisida

bahaya pestisida untuk kesehatan anak

Bagi orang yang suka berkebun atau menghias taman rumah, pestisida adalah “senjata” andalan untuk membasmi hama serangga. Meski begitu, paparan pestisida juga sama berbahayanya untuk kesehatan manusia.

Pada pria dan wanita usia subur, paparan pestisida berlebihan dapat menyebabkan gangguan hormon dan penyakit tiroid yang dapat memengaruhi kesuburan. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), wanita hamil yang sering terpapar pestisida berisiko lebih tinggi melahirkan bayi cacat, bayi lahir dengan berat rendah (BBLR), hingga kematian janin dalam kandungan.

Pada bayi dan anak kecil, paparan pestisida yang mereka terima selama bermain di taman rumah berisiko memicu keluhan sakit kepala, nyeri otot, gejala asma, hingga mual-mual.

Paparan pestisida yang berlanjut dalam jangka panjang menyebabkan masalah kesehatan yang lebih berat, seperti kerusakan organ hingga memicu kanker — termasuk leukemia, kanker payudara, dan tumor otak.

2. Kotoran hewan

Apabila Anda punya binatang peliharaan di rumah, kotoran yang mereka buang di taman bisa menjadi perantara penyebaran penyakit. Misalnya saja toksoplasma (yang khusus ada di kotoran kucing) atau segala macam cacing penyebab cacingan.

Kotoran hewan pun sering dijadikan pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman. Susanne Bennett, DC, CCSP, dokter spesialis alergi mengungkapkan kepada Everyday Health bahwa kotoran anjing dan kotoran hewan lainnya dapat mengandung parasit yang bisa masuk ke kulit dengan mudah.

Agar terhindar dari infeksi akibat kotoran hewan, gunakan alas kaki saat bermain di taman dan segera cuci tangan dengan sabun sampai benar-benar bersih setelah menyentuh tanah atau benda lainnya yang ada di taman rumah.

3. Kutu

gigitan kuku lyme disease

Taman rumah adalah salah satu tempat persembunyian kutu yang dapat hinggap di tubuh Anda kapan saja. Meski bentuknya kecil, gigitan kutu dapat menularkan penyakit epidemik tifus, demam parit alias demam lima hari, dan louse-borne relapsing fever.

Selain bikin gatal-gatal, gigitan kutu juga dapat menyebabkan gangguan pada mata dan kulit, seperti impetigo, bisul pada kulit, peradangan mata blefaritis dan konjungtivitis, hingga penyakit Lyme (meski penyakit ini jarang di Indonesia).

4. Lebah

sengat lebah

Taman rumah identik dengan serangga yang beterbangan. Salah satunya adalah lebah. Sengatan lebah dapat menimbulkan reaksi alergi berlebihan. Siapkan suntikan epinephrine (EpiPen) yang dapat menangkal reaksi alergi gigitan serangga saat beraktivitas di taman rumah, jika Anda atau anggota keluarga ada yang memiliki alergi lebah.

Untuk menghindari sengatan lebah, hindari memakai baju berwarna cerah, parfum berbau menyengat, dan tidak membawa makanan atau minuman manis yang dapat menarik serangga.

5. Pembakaran sampah

Apakah Anda biasa membakar sampah di halaman rumah? Jika iya, sebaiknya segera hentikan kebiasaan buruk ini.

Menghirup gas karbon monoksida hasil pembakaran sampah dapat menyebabkan asma, sesak napas, gangguan perkembangan pada anak, merusak pembuluh darah, hingga menyebabkan gagal ginjal dan gagal hati. Suatu studi lingkungan di Boston menunjukkan menghirup polusi udara meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler, stroke, dan diabetes hingga 4% lebih tinggi.

Asap hasil pembakaran sampah juga bersifat karsinogenik yang dapat memicu kanker paru, meski dihirup dalam jumlah sedikit.

Buanglah sampah dengan benar tanpa harus membakarnya. Jika memungkinkan, daur ulang sampah rumah tangga Anda.

6. Sendal jepit

Sendal jepit memang nyaman dan bisa melindungi telapak kaki Anda dari menginjak kotoran atau benda tajam. Sendal juga dapat membantu mencegah Anda dari mengalami kadas kurap atau mata ikan karena menginjak tanah yang lembap. Meski begitu, kebiasaan pakai sendal jepit lama-lama bisa menyebabkan banyak masalah pada kaki.

Sol sendal jepit yang rata tidak mendukung lengkungan kaki, yang menyebabkan kaki Anda akan mencengkeram ke bagian tengah tubuh Anda daripada tetap lurus. Ketika itu terjadi, Anda lebih mungkin untuk mengalami keseleo karena pergelangan kaki cenderung memutar ke dalam atau keluar, kata Eunice Ramsey-Parker, DPM, MPH, profesor kedokteran podiatrik dari New York, dilansir dari Reader’s Digest.

Selain itu, sol sendal yang lama-lama bisa aus menipis bisa memudahkan obyek-obyek tajam menembus dan menusuk telapak kaki. Alas telapak sendal jepit juga biasanya lebih licin, sehingga gesekan dan kelembapan dari air atau keringat bisa menyebabkan lecet pada tumit atau ujung-ujung jari.

Sebaiknya pakai boots karet setinggi betis untuk melindungi kaki Anda selama di menyiram taman atau berkebun.

7. Peralatan berkebun yang sudah karatan

Memegang benda berkarat sebenarnya aman-aman saja. Namun jika Anda menginjak paku berkarat yang tersembunyi di antara rerumputan atau terluka oleh benda berkarat, infeksinya bisa berakibat fatal jika tidak cepat-cepat diobati.

Tetanus adalah komplikasi infeksi yang mungkin terjadi. Jika tetanus tidak kunjung diobati, infeksi bisa semakin parah dan menyebabkan gangren (kematian jaringan). Infeksi yang parah juga bisa menyebabkan sepsis, infeksi bakteri yang menyerang darah dan sangat mungkin menyebabkan kematian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Penyebab Bau Mulut Tak Sedap

Bau mulut atau halitosis adalah masalah yang sangat mengganggu dan memalukan. Cari tahu semua tentang penyebab dan cara menghilangkan bau mulut tak sedap.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 17/06/2020 . 5 menit baca

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . 5 menit baca

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 menit baca

Mimpi Buruk Saat Demam Tinggi? Inilah Penyebabnya

Waktu kecil atau bahkan saat dewasa, Anda mungkin pernah mengalami mimpi buruk saat demam atau sakit. Pasti sangat mengganggu, kan? Nah, ini dia alasannya!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 14/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

berenang saat covid-19

Ada Rencana Berenang Saat Pandemi COVID-19? Begini Risiko Penularannya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 menit baca
mual karena gugup

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . 6 menit baca
mata plus pada anak

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca
frozen yogurt vs es krim sehat mana

Frozen Yogurt Versus Es Krim, Lebih Sehat Mana?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 17/06/2020 . 5 menit baca