Waspada, Polusi Plastik Mungkin Ada Dalam Makanan Anda

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Saat ini sudah banyak orang yang mengurangi penggunaan plastik karena sadar akan bahayanya terhadap lingkungan maupun kesehatan. Bahkah tanpa Anda sadari, di dalam makanan terdapat potongan-potongan kecil plastik yang tentu berdampak buruk bagi kesehatan. Potongan plastik yang berukuran kecil ini disebut dengan mikroplastik. Lantas, bagaimana mikroplastik bisa ada di dalam makanan? Apa saja bahaya mikroplastik bagi kesehatan?

Apa mikroplastik itu?

Mikroplastik adalah plastik yang berukuran kurang dari 0,2 inci atau 5 milimeter, yang terdapat di lingkungan dan sulit terurai.

Mikroplastik umum ditemukan di laut, sungai, tanah, dan sering dikonsumsi oleh hewan. Sejumlah penelitian pada tahun 1970 mulai menyelidiki tingkat mikroplastik di lautan dan menemukan tingkat tinggi di Samudera Atlantik di lepas pantai Amerika Serikat.

Sekarang ini, semakin banyak menggunakan plastik di dunia sehingga kian banyak juga plastik yang mencemari sungai dan lautan. Diperkirakan 8,8 juta ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahun. Sementara 276.000 dari sampah plastik ini mengambang di laut, dan lainnya tenggelam atau terdampar.

Lalu, bagaimana mikroplastik bisa ada dalam makanan?

Mikroplastik adalah bahan yang bisa menyebabkan polusi dan mencemari lingkungan. Saat ini, bahan tersebut semakin banyak ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk di makanan.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa dalam beberapa merek garam laut dan madu terdapat partikel mikroplastik dalam jumlah yang cukup banyak. Selain itu, banyaknya mikroplastik yang ditemukan di laut, membuat makanan laut menjadi sumber mikroplastik yang paling umum dalam makanan.

Mikroplastik yang tercemar di air laut menjadi tempat hidup ikan dan organisme laut lainnya, terutama kerang dan tiram. Kedua organisme laut tersebut memiliki risiko paling tinggi terhadap pencemaran mikroplastik dibandingkan dengan organisme laut lainnya.

Partikel plastik di habitat laut ini dapat tertelan oleh ikan dan menyebabkan bahan kimia beracun terakumulasi di dalam hati ikan.

Sebuah penelitian menemukan bahwa kerang dan tiram yang dikonsumsi manusia memiliki 0,36-0,47 partikel mikroplastik per gram, yang berarti bahwa konsumen kerang dapat menelan hingga 11.000 partikel mikroplastik per tahun.

Selain itu, penelitian lain juga menemukan bahwa mikroplastik bahkan terdapat di organisme laut terdalam. Hal ini menunjukkan bahwa mikroplastik memengaruhi organisme laut yang paling terpencil sekalipun.

Plastik dalam makanan tidak bisa terurai

Dilansir dari Kompas, menurut ahli toksikologi kimia dari Universitas Indonesia, Dr. rer. nat Budiawan, mengatakan bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh akan tertahan di dalam organ dan sulit dikeluarkan, karena kandungan mikroplastik yang sulit diuraikan. Akibatnya fungsi organ tubuh bisa terganggu.

Zat kimia yang terakumulasi di dalam tubuh juga merupakan faktor yang berkontribusi terhadap tumbuhnya kanker. Tubuh sebenarnya mampu menguraikan zat kimia asing dan mengubahnya menjadi zat yang tidak berbahaya untuk tubuh agar bisa dikeluarkan melalui urine atau keringat.

Namun, kasus mikroplastik adalah hal berbeda. Plastik di lingkungan saja membutuhkan waktu yang cukup lama sampai bisa terurai. Apalagi jika terakumulasi di tubuh manusia, sel tubuh nantinya tidak dapat berfungsi dengan baik.

Plastik juga telah ditemukan pada manusia. Satu penelitian menemukan bahwa serat-serat plastik ditemukan pada 87 persen paru-paru manusia. Para peneliti berhipotesis bahwa hal ini mungkin terjadi karena mikroplastik juga terdapat di udara.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik di udara dapat menyebabkan sel paru-paru menghasilkan bahan kimia yang menyebabkan peradangan. Namun, penelitian ini dilakukan dalam jangka kecil sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Hati-hati, bahaya mikroplastik dalam makanan

Meskipun sejumlah penelitian menunjukkan adanya “polusi” mikroplastik dalam makanan, masih belum jelas apa bahaya mikropastik bagi kesehatan.

Sejauh ini masih sangat sedikit penelitian medis valid yang dapat membuktikan bagaimana mikroplastik dalam makanan memengaruhi kesehatan dan menjadi penyebab penyakit pada manusia.

Phthalates, sejenis bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik fleksibel, telah terbukti meningkatkan pertumbuhan sel kanker payudara. Namun, penelitian tersebut belum dilakukan pada manusia sehingga belum diketahui pasti efeknya pada tubuh manusia.

Ada pula sebuah penelitian lain yang mengamati efek mikroplastik pada tikus laboratorium. Ketika mikroplastik dalam makanan diumpankan ke tikus, mikroplastik terakumulasi di hati, ginjal dan usus, dan membuat sel-sel di hati yang bisa memicu timbulnya radikal bebas.

Mikroplastik telah terbukti dapat melewati usus dan masuk ke dalam darah, dan dapat berpotensi masuk ke organ lain. Namun lagi-lagi, penelitian yang sudah ada masih belum lengkap sehingga butuh penelitian lanjutan dalam skala besar untuk memastikannya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO), dikutip dari BBC Indonesia, juga mengatakan bukti awal yang ada sejauh ini melaporkan dampak mikroplastik tergolong “minimal” pada kesehatan. Kebanyakan partikel plastik super hanya singgah sementara di dalam tubuh tanpa diserap sama sekali.

Sebaiknya bijak dalam menggunakan plastik

Mikroplastik berasal dari polutan plastik yang hancur menjadi partikel-partikel kecil dan tersebar di lingkungan sekitar. Tidak menutup kemungkinan bahaya mikroplastik ini menyerang kesehatan Anda dan keluarga.

Meski belum banyak ditemukan penelitian yang menjelaskan bahaya mikroplastik terhadap kesehatan manusia secara pasti, tidak ada salahnya jika Anda mengurangi penggunaan plastik.

Anda bisa memulainya dengan membatasi penggunaan kemasan makanan dari plastik, atau mengganti kantong belanja Anda dengan tas kain. Hal kecil, tapi bisa bermanfaat besar bagi lingkungan tempat hidup Anda.

Dengan Anda mengurangi penggunaan plastik, maka Anda bisa mengurangi jumlah mikroplastik di lingkungan dan menjaga lingkungan Anda tetap sehat.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca