10 Penyakit Langka yang Paling Mengerikan dan Mematikan Dalam Sejarah

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Masuk angin, demam, pilek, atau sakit kepala adalah beragam penyakit yang mudah diobati sehingga peluang bertahan hidupnya tinggi. Beda dengan sejumlah penyakit mematikan yang juga langka di bawah ini. Tak hanya bikin bergidik, karena sampai sekarang dunia medis modern belum berhasil menemukan obat penawar maupun perawatan yang efektif untuk kondisi-kondisi tersebut. Berikut daftar penyakit yang paling mematikan di dunia.

Berbagai penyakit mematikan nan langka di dunia

1. Noma (Cancrum oris)

Noma (cancrum oris) adalah infeksi yang menyebabkan pembentukan bisul di mulut atau pada alat kelamin. Bisul-bisul yang tadinya dapat terlihat dengan mata telanjang ini bisa “bergerak” masuk ke dalam jaringan tubuh sampai tidak muncul lagi, sehingga menyebabkan cacat dari dalam tubuh.

Harapan bertahan hidup dari penyakit mematikan ini cukup kecil. Hampir 90 persen orang yang mengidap Noma akhirnya meninggal akibat komplikasi infeksi tersebut. Noma umumnya terjadi pada anak-anak kurang gizi di daerah yang sanitasi dan kebersihannya kurang. Infeksi ini paling sering terjadi pada anak-anak antara usia 2 sampai 5 tahun.

2. Mycetoma (Madura Foot)

Mycetoma adalah penyakit kulit kronis yang menyebabkan pembengkakan pada kaki dan akhirnya melumpuhkan. Mycetoma yang disebabkan oleh jamur (Eumycetoma) atau bakteri filamen (Actinomycetoma) ini punya nama lain “Madura foot” — eits, bukan dari Madura yang ada di Indonesia, loh! Mycetoma pertama kali diidentifikasi di Madurai, India, pada pertengahan abad ke -19

Mycetoma biasanya muncul pada pekerja pertanian atau pada individu yang berjalan tanpa alas kaki dalam kondisi kering dan berdebu.

3. Complex Regional Pain Syndrome (CRPS)

CRPS adalah penyakit yang menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, sehingga membuat pengidapnya mengalami kelelahan kronis akibat kekurangan tenaga. CPRS disebabkan oleh kerusakan sistem saraf dan sistem saraf pusat di otak. Rasa sakitnya dapat begitu merusak hingga menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Seseorang yang menderita CRPS akan merasa tubuhnya panas seperti terbakar dan mengalami rasa nyeri yang menusuk tubuh serta sensasi berdenyut-denyut. Hal ini juga dapat menyebabkan mati rasa, bengkak, nyeri sendi, dan insomnia.

4. Kusta

Kusta adalah infeksi kulit yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Kusta banyak ditemukan di Indonesia. Kusta menyebabkan peradangan pada kulit, mata, saraf dan saluran pernapasan sehingga akhirnya bisa menyebabkan hilangnya bagian tubuh yang tampak mengerikan dan kehilangan penglihatan.

Gejala kusta yang paling umum adalah bercak berwarna pucat di kulit yang tersebar acak dan lama-lama terasa kebas. Bagian tubuh yang terinfeksi akan hilang tergerogoti bakteri. Gejala kusta biasanya muncul dalam tiga sampai lima tahun setelah terpapar bakteri M. leprae. Beberapa orang tidak mengalami gejala sampai 20 tahun kemudian.

Jarak waktu antara kontak dengan bakteri dan kemunculan gejala bisa sangat lama, membuat dokter sulit menentukan diagnosis kapan dan di mana kusta awalnya menginfeksi. Kesulitan diagnosis inilah yang membuat pengobatan bisa terlambat, dan akhirnya berakibat fatal.

5. Cacing Filaria (Cacing Loa Loa)

Cacing filaria adalah parasit yang suka hidup di mata dan merupakan penyebab utama kedua kebutaan di seluruh dunia. Cacing filaria tidak hanya membahayakan kesehatan mata. Bila cacing ini masuk ke bagian tubuh lain, penderitanya bisa mengalami kaki gajah. Gejala potensial lainnya termasuk ruam, sakit perut, arthritis, dan papula.

6. Vibrio vulnificus

Bakteri ini masuk ke tubuh melalui kerang mentah, lewat luka terbuka, serta sengatan ubur-ubur yang dapat menyebabkan infeksi parah. Penyakit ini menyebabkan beberapa gejala termasuk muntah, diare hebat, dermatitis, dan sakit perut yang parah.

Tak hanya itu, Vibrio vulnificus juga melemahkan sistem kekebalan tubuh, mempengaruhi hati dan aliran darah dan akhirnya dapat mematikan jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Kondisi ini terjadi karena tingginya suhu dan penurunan kadar garam di pantai yang menyebabkan tingginya patogen.

7. Pica

Pica adalah gangguan makan yang ditandai dengan perilaku makan yang tidak wajar, yaitu keinginan memakan benda-benda yang sebenarnya tidak untuk dimakan. Pica yang paling umum terjadi adalah keinginan untuk memakan salah satu benda berikut ini: tanah, kapur tulis, batang korek api, serat kain, kertas, pasta gigi, puntung rokok dan abu rokok, serpihan cat kering, dan lem.

Tergantung pada jenis barang yang dimakan, pica bisa menyebabkan infeksi parah pada organ tubuhnya dan dapat mematikan. Pica biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan biasanya berlangsung hanya beberapa bulan. Namun, kemungkinannya akan lebih sulit ditangani pada anak yang mengalami kecacatan.

8. Fibrodysplasia Ossificans Progressiva (FOP)

Fibrodysplasia Ossificans Progressiva (FOP) adalah kelainan akibat mutasi genetik yang menyebabkan jaringan otot dan jaringan ikat tubuh, seperti tendon dan ligamen, tergantikan oleh tulang padat secara bertahap. Pembentukan tulang abnormal di luar kerangka aslinya ini lama-kelamaan akan menghambat pergerakan dan membuat penderitanya tampak seperti patung. Proses ini umumnya menjadi terlihat pada anak usia dini, dimulai dengan leher dan bahu, kemudian ke bawah tubuh dan masuk ke dalam tungkai.

FOP disebabkan oleh mutasi genetik, yaitu gen ACVR1. Gen ini terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan tulang yang membuat mereka bermutasi menjadi lebih banyak.

9. Clarkson’s disease

Sindrom kebocoran kapiler sistemik adalah kelainan langka yang ditandai dengan kebocoran plasma dari pembuluh darah. Hal ini menyebabkan pembengkakan. Gejalanya berawal dari kenaikan pembuluh darah kecil (kapiler) yang mendadak dan tak dapat dijelaskan. Jika tidak diobati, dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian. Kondisi ini juga disebut penyakit Clarkson’s disease.

10. Elephant man syndrom

Kasus ini awalnya terjadi pada seorang pria asal Inggris pada tahun 1862. Ia mengalami perubahan tekstur kulit yang menjadi menebal kasar, menyerupai kulit gajah. Kelainan langka ini ditandai dengan pertumbuhan berlebih dari berbagai organ dan jaringan tubuh. Organ dan jaringan yang terserang kelainan ini tumbuh tidak proporsional dengan bagian tubuh lainnya.

Pertumbuhan berlebih ini memengaruhi beda ukuran sisi kanan dan kiri tubuh. Pola pertumbuhan dari organ atau jaringan yang berlebih ini sangat bervariasi namun dapat memengaruhi hampir seluruh bagian tubuh.

Baca Juga:

Sumber