Kafein merupakan zat stimulan yang paling banyak dikonsumsi orang-orang. Pasalnya, kafein banyak ditemukan dalam kopi, teh, cokelat, minuman energi, dan obat-obatan. Kafein bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas sistem saraf pusat secara kimiawi. Karena itu kafein cenderung dikonsumsi untuk meningkatkan fokus dan konsentrasi, bagi beberapa orang kafein diperlukan agar dapat terjaga. Inilah mengapa banyak orang zaman sekarang tidak bisa berhenti ngopi. 

Meskipun aman dikonsumsi, kafein dapat menimbulkan efek ketergantungan. Jika Anda berhenti ngopi atau mengonsumsi kafein dalam bentuk lainnya, maka akan timbul gejala putus kafein atau caffeine withdrawal. Hal tersebut dapat terjadi dengan tingkatan ringan hingga berat, tergantung pada seberapa banyak biasanya Anda mengonsumsi kafein.

Mengenal putus kafein (caffeine withdrawal)

Putus kafein dapat dikatakan sebagai efek samping dari konsumsi kafein. Hal ini berupa gejala yang muncul ketika seseorang berhenti ngopi kopi secara tiba-tiba. Meskipun kafein aman, zat tersebut dapat menimbulkan ketergantungan yang serius.

Paling tidak kafein dalam takaran 100 miligram (mg) per hari saja sudah bisa bikin ketergantungan. Karena tubuh sudah ketergantungan, berhenti mengonsumsi kafein pun akan memicu gejala putus kafein.

Anda mungkin masih tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari meski mengalami gejala putus kafein. Akan tetapi, kondisi putus kafein ini dikategorikan sebagai gangguan mental pada American Psychiatric Association’s Diagnostic dan Statistical Manual of Mental Disorders (DSM).

Ini yang bakal terjadi kalau berhenti ngopi tiba-tiba

Kafein menyebabkan perubahan pada kadar zat kimia yang bertanggung jawab untuk menghantarkan sinyal-sinyal informasi dalam otak melalui neurotransmitter. Zat-zat tersebut antara lain adalah asetilkolin, serotonin dan norepinefrin. Karena tiba-tiba terjadi perubahan pada keseimbangan zat kimia di otak saat Anda berhenti ngopi, muncullah gejala putus kafein.

Salah satu gejala yang paling sering dikeluhkan adalah penurunan konsentrasi ketika tidak mengonsumsi kopi. Beberapa gejala ketergantungan lainnya yang juga dapat muncul di antaranya:

  • Sakit kepala
  • Lemas
  • Tidak enak badan, seperti mau flu
  • Nyeri otot
  • Sembelit (susah buang air besar)
  • Mual
  • Mudah mengantuk
  • Depresi
  • Merasa grogi
  • Cenderung merasa bad mood

Pola munculnya gejala putus kafein dapat berbeda pada beberapa orang. Gejala tersebut pada umumnya muncul 12 hingga 24 jam setelah konsumsi kafein terakhir dan dapat bertahan dalam hitungan dua hingga sembilan hari.

Semakin sering Anda minum kopi setiap hari, semakin besar pula kemungkinan Anda mengalami gejala-gejala di atas ketika berhenti ngopi. Mengonsumsi kafein kembali ketika gejala putus kafein muncul akan cepat meringankan gejala putus kafein. Akan tetapi, Anda jadi tambah susah untuk menekan kebiasaan ngopi terlalu banyak.

Hal yang menyebabkan seseorang mengalami putus kafein

Tidak semua orang mengalami gejala putus kafein ketika sedang mencoba berhenti ngopi. Munculnya gejala tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal di bawah ini.

1. Kondisi fisik

Kondisi kesiapan sistem saraf pusat mempengaruhi bagaimana gejala putus kafein muncul. Gejala kafein akan lebih mungkin muncul pada orang yang sulit berkonsentrasi tanpa mengonsumsi kafein dibandingkan dengan orang yang tidak butuh kopi untuk berkonsentrasi.

Beberapa orang bahkan tidak mengalami gejala putus kafein dan hanya sekitar 50 persen yang mengalami gejala putus kafein yang berat.

2. Seberapa sering konsumsi kafein

Semakin sering seseorang mengonsumsi kafein atau minum kopi, maka kemungkinan semakin banyak gejala putus kafein yang dapat dialami.

3. Sumber kafein yang dikonsumsi

Kopi biasanya mengandung sekitar 135 mg kafein, minuman energi sekitar 160  mg, sedangkan teh berkisar 15-40 mg. Nah, semakin besar kandungan kafein dari minuman yang biasanya Anda konsumi, maka lebih besar pula risiko Anda mengalami gejala putus kafein.

4. Ketergantungan

Kalau Anda sudah ketergantungan dengan kopi atau kafein, Anda akan semakin rentan mengalami gejala putus kopi. Bahkan melewatkan satu atau dua cangkir sehari saja sudah bisa membuat Anda merasakan gejala-gejalanya.

Bagaimana mengatasinya?

Jika Anda ingin berhenti mengonsumsi kafein tapi sudah ketergantungan, gejala putus kafein tidak bisa dihindari lagi. Namun, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melewati masa-masa penyesuaian tersebut:

  • Jangan langsung berhenti. Sebaiknya kurangi jatah ngopi secara perlahan sampai Anda bisa berhenti sepenuhnya.
  • Perbanyak minum air putih.
  • Ganti sumber kafein dengan yang lebih rendah kadar kafeinnya. Misalnya Anda biasa minum minuman energi, ganti dulu dengan kopi. Kalau Anda seringnya minum kopi, ganti dengan teh.
  • Mulailah berolahraga rutin sebagai pengganti zat stimulan bagi otak.
  • Tidur yang cukup untuk mengurangi rasa kantuk dan lelah.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca