Remaja Pengguna Vape Berisiko Tinggi Jadi Perokok Tembakau di Kemudian Hari

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Tobacco Control menjelaskan bahwa para remaja yang tidak pernah merokok tembakau di SMA, memiliki kecendurungan merokok tembakau pada tahun berikutnya, jika mereka adalah pengguna vape. Temuan ini berkontribusi terhadap bukti-bukti yang mendukung bahwa vape atau rokok elektrik adalah jembatan untuk mulai merokok tembakau di kalangan remaja.

Remaja pengguna vape rentan menjadi perokok tembakau

Bermula dari penasaran, akhirnya malah keterusan. Begitulah perilaku para remaja yang awalnya hanya ikutan tren mencoba vape dan akhirnya malah mengisap rokok tembakau. Sebuah penelitian menemukan bahwa remaja SMA pengguna vape, empat kali lebih mungkin akan beralih ke rokok tembakau pada tahun berikutnya, dibandingkan dengan remaja SMA lainnya yang bukan pengguna rokok elektrik.

Penelitian ini melibatkan sampel sebanyak 350 remaja yang dipilih secara acak. Para responden disurvei tentang merokok dan kebiasaan vaping semasa SMA. Lalu setahun kemudian para reseponden tersebut disurvei kembali mengenai perkembangannya.

Hasilnya, di antara remaja yang mengaku menggunakan vape, namun tidak pernah mencoba rokok tembakau, 31 persennya kemudian beralih ke rokok tembakau pada tahun berikutnya. Sebaliknya, di kalangan remaja yang tidak merokok tembakau ataupun vaping, hanya 7 persen yang kemudian mencoba rokok tembakau pada tahun berikutnya.

Penggunaan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko remaja terhadap risiko merokok tembakau. Meskipun 80 persen dari anak-anak SMA tersebut mengatakan bahwa rokok tembakau lebih berbahaya, mereka yang vaping di masa SMA itu malah justru memiliki kecenderungan untuk mengubah pandangan mereka jika rokok tembakau nyatanya lebih sedikit risikonya dibanding rokok elektrik.

Apa benar vape lebih aman?

Vape sering diiklankan sebagai sebuah alternatif yang lebih aman dari pada rokok tembakau, karena uap yang terkandung dalam rokok elektrik mengandung lebih sedikit bahan kimia yang berbahaya bagi manusia dibandingkan rokok tembakau. Namun para peneliti masih menyelidiki efek kesehatan dari rokok jenis ini, dan beberapa penelitian sudah mengungkapkan jika vape masih menimbulkan bahaya kesehatan seperti pemicu serangan jantung.

Faktor lain yang menyebabkan pengguna vape beralih ke rokok tembakau

“Remaja yang mulai vaping mengaku menggunakan jenis rokok ini karena menawarkan beragam rasa yang menggugah selera. Selain itu, mereka beranggap tidak ada akibat kesehatan secara langsung dan menyimpulkan bahwa bahaya rokok itu dilebih-lebihkan,” kata para peneliti.

Memang para peneliti mencatat bahwa penelitian tersebut tidak dapat membuktikan bahwa vape menyebabkan remaja menjadi perokok tembakau. Hanya saja, penelitian ini memperhitungkan beberapa faktor yang dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko merokok, seperti jenis kelamin, etnis, kebiasaan orang tua, bahkan pendidikan.

Beda usia memang berbeda pula alasannya mencoba rokok elektrik. Pada kelompok yang lebih tua, mereka justru memilih menggunakan vape untuk berhenti merokok.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca