Penyakit yang menyerang kejiwaan atau psikis manusia memang sulit dipahami. Tak seperti penyakit flu atau kanker, gejala gangguan jiwa tidak semudah itu dikenali. Tetapi bukan berarti mustahil. Untuk mengenal isu ini lebih dalam, pertama Anda harus buang dulu berbagai pemikiran yang salah atau mitos gangguan jiwa berikut ini.

1. Saya tidak mungkin jadi gila

Gangguan jiwa identik dengan kegilaan. Kegilaan sendiri biasanya digambarkan sebagai kondisi yang terlihat jelas, misalnya orang yang berpakaian compang-camping dan bicara sendirian di pinggir jalan. Karenanya, banyak orang menganggap dirinya tidak mungkin jadi gila. Padahal, tidak pernah ada batas yang jelas antara kegilaan dan kewarasan.

Menurut riset kesehatan dasar (Riskedas) yang dicatat oleh Kementerian Kesehatan, di Indonesia terdapat sekitar 14 juta orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) ringan seperti gangguan cemas atau depresi dan 400.000 ODGJ berat seperti skizofrenia. Gangguan ini bisa menyerang siapa saja, tanpa melihat status sosial, agama, ras, suku, etnis, jenis kelamin, atau usia.

2. Penyakit jiwa disebabkan masa kecil tidak bahagia

Ada stigma yang beredar dalam masyarakat bahwa gangguan jiwa pasti disebabkan oleh sifat seseorang yang lemah atau keras kepala. Banyak orang juga mencari pembenaran atas gangguan yang dialami dengan menyalahkan masa kecil yang tidak bahagia atau keimanan seseorang yang lemah.

Pada kenyataannya, setiap ODGJ memiliki lebih dari satu faktor risiko penyebab. Gangguan jiwa tidak bisa disebabkan oleh satu hal saja, melainkan beberapa faktor misalnya genetik, lingkungan, gaya hidup, cedera kepala, dan kecacatan saat lahir.

3. Penderita gangguan jiwa hanya membesar-besarkan kondisinya saja

Salah satu mitos gangguan jiwa yang berbahaya adalah penderitanya hanya mendramatisir keadaan saja. Perlu diketahui, gangguan jiwa adalah kondisi serius di mana penderitanya tidak bisa sepenuhnya mengendalikan perasaan, pikiran, dan perbuatannya. ODGJ tidak bisa “membaik” sendiri, mereka membutuhkan dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah, dan komunitas sosialnya. Pada kebanyakan kasus, justru sebagian masyarakat lah yang meremehkan kasus-kasus ODGJ.

4. Penderita penyakit jiwa cenderung melakukan tindak kekerasan

ODGJ memiliki kecenderungan melakukan tindak kekerasan yang sama dengan orang-orang pada umumnya, tidak lebih tinggi. Menurut sejumlah riset, hanya 3-5% dari pelaku tindak kekerasan yang menderita gangguan jiwa tertentu. Penelitian justru membuktikan bahwa ODGJ sepuluh kali lebih sering jadi korban kekerasan daripada jadi pelaku. Di beberapa wilayah di Indonesia, ODGJ diasingkan, dilecehkan, bahkan hingga dipasung.

5. Orang mencoba bunuh diri hanya untuk cari perhatian

ODGJ hanya akan bunuh diri ketika segala cara untuk menyelesaikan masalah dan mendapatkan bantuan sebelumnya sudah gagal. Dalam keadaan waras sepenuhnya, tidak ada orang yang akan mencoba bunuh diri. Keinginan bunuh diri atau obsesi terhadap kematian merupakan gejala serius gangguan jiwa yang harus segera ditangani.

6. Gangguan jiwa tidak bisa disembuhkan

Anda mungkin pernah dengar mitos gangguan jiwa yang menyebutkan bahwa penyakit yang menyerang psikis manusia itu tidak akan bisa sembuh. Itu sudah jadi bawaan atau takdir seseorang. Ini salah, karena gangguan jiwa tertentu seperti kecanduan, kleptomania, depresi, atau serangan panik bisa diatasi dan dipulihkan sepenuhnya. Dengan penanganan yang tepat misalnya psikoterapi, konseling, dan obat yang diresepkan dokter, gangguan jiwa bisa diatasi.

Memang ada beberapa jenis gangguan jiwa yang tidak bisa sembuh total, misalnya skizofrenia. Akan tetapi, Anda masih bisa mengendalikan gejala dan mengurangi intensitasnya. Maka, bukan mustahil bagi ODGJ berat untuk menjalani kehidupan normal seperti bekerja, berkeluarga, dan berkarya.  

7. Gangguan jiwa hanya bisa menyerang orang dewasa

Setengah jenis gejala gangguan kejiwaan muncul pada usia di bawah 14 tahun. Tiga perempat jenis gangguan jiwa muncul pada usia di bawah 24 tahun. Gangguan bipolar, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan makan, serta skizofrenia mungkin saja dialami oleh balita, anak, dan remaja, bukan hanya orang dewasa.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca