Perlukah Penderita Anemia Dewasa Minum Suplemen Zat Besi Saat Puasa?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 06/05/2020
Bagikan sekarang

Penderita anemia harus lebih cermat dalam berpuasa, sebab kekurangan asupan zat besi saat puasa dapat memperparah gejala yang mereka alami. Ini pula yang membuat banyak penderita anemia dewasa bertanya-tanya apakah mereka harus minum suplemen zat besi agar bisa menjalani puasa dengan nyaman.

Orang yang mengalami anemia mempunyai sel darah merah lebih sedikit dibandingkan jumlah normal. Penyakit ini dapat menyebabkan sakit kepala, tubuh lesu, serta masalah kesehatan lain yang dapat mengganggu kelancaran berpuasa. Jika demikian, apakah suplemen zat besi bisa menjadi solusi bagi penderita anemia dewasa yang ingin puasa?

Pengaruh puasa pada penderita anemia

pola pikir tidak bahagia sedih depresi stres pusing

Ada banyak sekali jenis anemia. Namun, yang paling umum adalah anemia defisiensi besi akibat kekurangan asupan zat besi, folat, atau vitamin B12. Tanpa zat gizi tersebut, tubuh Anda tidak bisa membentuk protein pengikat oksigen yang disebut hemoglobin.

Sel darah merah yang kekurangan hemoglobin tidak dapat mengikat oksigen sebanyak sel darah merah normal. Akibatnya, seluruh jaringan tubuh tidak mendapatkan suplai oksigen yang dibutuhkan. Anda pun akhirnya merasa lemas, pusing, atau sesak napas.

Penderita anemia sebetulnya bisa saja menjalani puasa asalkan kebutuhan zat besinya tercukupi dari makanan saat sahur dan berbuka. Anda juga perlu minum lebih banyak dan beristirahat dengan cukup, terutama saat gejala anemia muncul.

Pasalnya, puasa kadang bisa memperparah gejala anemia. Pemicunya biasanya adalah pola makan yang tidak diatur. Tanpa disadari, menu berbuka puasa dan sahur yang Anda konsumsi mungkin tidak mengandung cukup zat besi, folat, atau vitamin B12.

Puasa juga membuat Anda mudah mengalami dehidrasi, apalagi bila Anda tidak minum cukup air ketika sahur dan berbuka puasa. Dehidrasi menyebabkan badan lemas dan sakit kepala sehingga gejala anemia makin bertambah parah.

Selain salah makan dan dehidrasi, gejala anemia saat puasa terkadang juga bertambah parah karena gula darah menurun. Gula darah yang rendah menyebabkan sakit kepala, pusing, serta badan lemas dan gemetar.

Orang yang sehat tanpa anemia pun bisa mengalami berbagai masalah kesehatan saat puasa. Jika Anda menderita anemia, risiko mengalami sakit kepala, lemas, dan gejala sejenisnya tentu menjadi lebih besar lagi.

Perlukah penderita anemia terutama dewasa minum suplemen besi saat puasa?

suplemen zat besi

Anemia biasanya mudah diatasi dengan menambah asupan zat besi dari makanan. Berhubung Anda akan berpuasa, berarti kuncinya adalah memenuhi kebutuhan zat besi dari makanan yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka puasa.

Zat besi banyak terkandung dalam daging merah, sayuran berdaun hijau, buah-buahan dan kacang kering, serta makanan yang diperkaya dengan nutrisi ini. Berikut beberapa sumber zat besi terbaik yang perlu ada dalam menu sahur dan berbuka Anda:

  • Sayur berdaun hijau: bayam, sawi, kale
  • Daging merah: sapi, domba, dan unggas
  • Jeroan: hati, jantung, ginjal, dan lidah sapi
  • Makanan laut: salmon, tuna, dan sarden
  • Produk susu: susu murni, yogurt, keju, dan kefir
  • Kacang-kacangan: kacang kedelai, kacang polong, dan kacang merah
  • Biji-bijian: biji labu dan biji bunga matahari
  • Produk yang diperkaya: sereal, pasta, dan roti

Pola makan kaya zat besi sebenarnya cukup untuk mencegah anemia selama puasa. Bahkan, sebagian besar orang akan terhindar dari anemia defisiensi besi hanya dengan menyertakan beragam makanan tersebut dalam menu harian mereka.

Namun, pola makan saja tidak cukup bagi orang yang lebih rentan terkena anemia seperti ibu hamil, remaja dalam masa menstruasi, dan mereka yang menderita penyakit kronis. Mereka juga memerlukan asupan zat besi tambahan dalam bentuk suplemen.

Suplemen zat besi tidak boleh diminum sembarangan. Penderita anemia yang hendak puasa pun tidak boleh asal minum suplemen zat besi. Jadi, Anda harus berkonsultasi dengan dokter guna menentukan apakah Anda perlu mengonsumsi suplemen ini.

Dampak negatif konsumsi suplemen zat besi

Misoprostol adalah

Walaupun berguna untuk mencegah anemia, suplemen zat besi berbahaya bagi tubuh bila diminum sembarangan. Ini disebabkan karena zat besi dalam jumlah tinggi akan menjadi racun bagi tubuh.

Konsumsi suplemen zat besi tanpa anjuran dokter berisiko mengakibatkan overdosis. Dosis satu kali minum sebesar 10-20 miligram saja sudah dapat menimbulkan gejala keracunan zat besi seperti mual, muntah, dan sakit perut.

Tubuh tidak dapat membuang kelebihan zat besi dengan mudah kecuali melalui perdarahan. Jika kebiasaan minum suplemen terus berlanjut, zat besi bisa menumpuk pada organ-organ tubuh, kemudian menyebabkan kerusakan fatal pada hati dan otak. 

Oleh sebab itu, penderita anemia dewasa tidak minum suplemen besi selama puasa kecuali atas anjuran dokter. Bila dokter tidak mengharuskan Anda minum suplemen, artinya makanan sehari-hari sudah cukup untuk mengatasi gejala yang Anda alami.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Anemia: Best Diet Plan. (2020). Retrieved 14 April 2020, from https://www.healthline.com/health/best-diet-plan-for-anemia#fortified-foods

Are You Anemic? The Signs to Look For. (2020). Retrieved 14 April 2020, from https://www.everydayhealth.com/blood-disorders/anemia/are-you-anemic-signs-look/

Iron deficiency anemia - Symptoms and causes. (2020). Retrieved 14 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034

Iron Deficiency Anemia Secondary to Inadequate Dietary Iron Intake. (2020). Retrieved 14 April 2020, from https://www.healthline.com/health/iron-deficiency-inadequate-dietary-iron#treatment-and-prevention

The Dark Side of Iron - Why Too Much is Harmful. (2020). Retrieved 14 April 2020, from https://www.healthline.com/nutrition/why-too-much-iron-is-harmful#section4

Yang juga perlu Anda baca

7 Tips Sehat Menjalani Puasa Saat Radang Tenggorokan

Saat puasa, daya tahan tubuh bisa turun. Anda pun jadi rentan kena radang tenggorokan. Nah, ini dia caranya agar tetap lancar puasa saat radang tenggorokan.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hari Raya, Ramadan 19/05/2020

4 Cara Mencegah Keluar Air Mani Saat Puasa

Bagi beberapa pria, air mani bisa bocor bahkan saat sedang tidak dirangsang. Ada beberapa cara mudah untuk mencegah air mani keluar saat puasa.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

5 Tips Aman Tetap Jogging Saat Puasa

Jika Anda berencana untuk tetap jogging saat puasa, ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan guna menghindari risiko cedera. Apa saja?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hari Raya, Ramadan 13/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

3 Olahraga yang Bisa Dilakukan Bersama Anak di Rumah Saat Puasa

3 Olahraga yang Bisa Dilakukan Bersama Anak di Rumah Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020
4 Tips Agar Tetap Bugar saat Puasa Selama di Rumah Saja

4 Tips Agar Tetap Bugar saat Puasa Selama di Rumah Saja

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 21/05/2020
5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19/05/2020
Bolehkah Melakukan Suntik KB Saat Puasa?

Bolehkah Melakukan Suntik KB Saat Puasa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19/05/2020