Gerhana matahari total adalah kejadian yang cukup langka, tergantung dari mana lokasi Anda berada. Namun pada umumnya “kunjungan” ini bisa berkisar antara 2-3 kali dalam setahun untuk beberapa titik di belahan dunia hingga setiap 375 tahun sekali di belahan dunia lainnya. Bahkan, ada beberapa lokasi di Bumi yang hanya kedapatan menonton fenomena ini sekali dalam 36 abad. Wow!

Nah, kabarnya gerhana matahari total selanjutnya akan tiba pada 21 Agustus 2017 mendatang dan bisa terlihat jelas dari beberapa wilayah di Amerika Utara. Belum pasti apakah gerhana matahari ini juga akan terlihat dari Indonesia. Namun jika ya, jangan sekali-kali Anda tergoda untuk menatap gerhana matahari dengan mata telanjang. Karena meski jarak matahari dengan bumi lumayan jauh, sekitar 150 juta kilometer, menatap matahari langsung masih dapat menyebabkan kerusakan mata serius dan terkadang tak dapat dipulihkan.

Kenapa kita tidak bisa menatap matahari langsung?

Ada alasan kenapa kita tidak bisa (dan tidak boleh) menatap matahari langsung. Sederhananya, menatap matahari dalam keadaan normal memang sangat sulit karena sinarnya yang terlalu terang dan menyilaukan. Namun respon memicingkan mata karena kesilauan atau buru-buru mencari peneduh — baik itu dengan tangan atau kacamata hitam — merupakan reaksi naluriah manusia untuk sebisa mungkin menghindari kontak langsung dengan sinar matahari demi keselamatan dirinya.

Silau adalah bentuk pertahanan diri manusia dari sinar matahari

Matahari pada dasarnya merupakan sumber ledakan panas mahadashyat yang terjadi terus-menerus. Begitu Anda memutuskan untuk melihat matahari dengan mata telanjang, sengatan sinar matahari akan mulai “memanggang” bola mata. Sinar UV adalah jenis sinar matahari yang paling bisa merusak mata, terutama bila dipantulkan pasir, salju atau air. Kornea (lapisan terluar mata yang transparan) akan melepuh dan retak akibat paparan sinar UV berlebih.

Proses ini sangat mirip dengan bagaimana sinar matahari bisa membakar kulit, yang mungkin pernah Anda alami ketika panas-panasan di luar. Gejala kondisi ini, yang dikenal dengan fotokeratitis, biasanya muncul beberapa jam setelah kerusakan terjadi dan menyebabkan produksi air mata berlebihan, mata merah dan meradang, serta sensasi kesat seperti Anda telah menggosok mata dengan kertas amplas.

Jadi, ketika Anda memandang tepat ke arah matahari sebentar saja, panas yang diproduksi akan terkonsentrasi sangat dashyat pada retina sehingga cukup untuk membakar dan menghanguskannya. Parahnya lagi, karena retina tidak memiliki reseptor rasa sakit, Anda tidak tahu kerusakannya telah terjadi sampai terlambat.

Sinar matahari bisa merusak mata

Jika Anda berani dan tahan untuk menatap matahari lebih lama lagi, kemudian Anda akan mengalami kerusakan retina dan makula. Retina merupakan jaringan di bagian belakang mata untuk meproyeksikan gambar ke otak, yang amat sensitif terhadap cahaya.

Pada keadaan normalnya, pupil mata akan mengecil saat terkena cahaya terang, namun jumlah cahaya yang masuk ke mata terkonsentrasi pada jaringan makula. Paparan sinar UV yang berlebihan akibat menatap matahari terlalu lama kemudian membakar retina, yang dapat menyebabkan mata buta sebagian sementara hingga kebutaan permanen yang berbentuk lingkaran hitam tepat di tengah bidang penglihatan Anda.

Lantas, kenapa kita juga tidak boleh menatap gerhana matahari langsung? Kan matahari akan seluruhnya atau sebagian tertutupi oleh bayangan hitam? Bukankah ini jauh lebih aman? Eits. Belum tentu. Melihat gerhana matahari, baik total maupun sebagian, dengan mata telanjang juga sama berbahayanya. Begini penjelasannya.

Jangan menatap gerhana matahari langsung dengan mata telanjang

Menatap matahari saat gerhana matahari tidak jauh berbeda dengan menatap matahari pada hari biasa. Perbedaannya adalah kita biasanya akan otomatis refleks alami berpaling kesilauan dari sinar matahari jika kita menatap terlalu lama. Ini sudah diatur secara alami oleh otak.

Nah, suasana teduh selama gerhana matahari menurunkan kewaspadaan diri sehingga kita “lupa” untuk memicingkan mata dan berlama-lama memandang angkasa. Pupil juga otomatis melebar ketika memandang langit yang mendung. Tanpa disadari ini dapat meningkatkan jumlah radiasi sinar UV yang mendarat di retina dan membuat Anda lebih rentan mengalami kerusakan mata.

Gerhana matahari tidak pernah aman untuk dilihat dengan mata telanjang, apapun jenisnya (sebagian, sabit, cincin, total, maupun fase “perjalanan” dari sebagian hingga total). Bahkan ketika hampir 99% permukaan matahari gelap tertutupi bulan, secerah kecil cincin tipis sinar matahari yang menyembul dari balik bulan masih memancarkan cukup sinar UV yang dapat membakar mata Anda, ungkap Ralph Chou, seorang profesor emeritus optometri di Universitas of Waterloo di Ontario, pada Space. Efeknya akan sama saja seperti ketika Anda memelototi matahari langsung.

Tapi bisakah manusia benar-benar buta setelah melihat gerhana matahari? Mungkin tidak akan langsung demikian, namun kerusakan yang Anda alami bisa sangat parah sehingga mata tidak akan lagi bisa melihat dengan baik secara mendetail. Sampai saat ini ada lebih dari 100 kasus kerusakan mata serius dan permanen yang disebabkan oleh orang-orang yang terlalu lama menatap gerhana matahari, ungkap Ralph Chou. Namun, ada cara mudah untuk menghindari kerusakan ini: Pakailah kacamata pelindung saat melihat gerhana matahari.

Pakai kacamata hitam saat gerhana tidak cukup untuk melindungi mata

Sepasang kacamata hitam biasa tidak akan cukup melindungi mata dari sinar UV selama gerhana matahari. Untuk bisa memandang (dan memfoto) gerhana matahari, Anda perlu kacamata atau filter kamera yang dirancang khusus untuk gerhana matahari. Lensa khusus ini dapat mengurangi intesitas cahaya yang masuk ke mata hingga ke taraf aman.

Penting untuk memastikan Anda menggunakan perangkat ini dengan benar. Letakkan lensa/kacamata tepat di depan mata, lalu baru mendongak untuk melihat matahari. Jangan pernah lepas sementara masih melihat matahari sampai bulan benar-benar menutupi matahari, atau ketika Anda berpaling dari gerhana.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca