Hidup dengan diabetes? Anda tidak sendiri. Ikut komunitas kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Polifagia, Rasa Lapar Berlebihan meski Sudah Makan Banyak

Polifagia, Rasa Lapar Berlebihan meski Sudah Makan Banyak

Pernahkah merasa masih lapar walaupun sudah makan banyak? Mungkin saja Anda tengah mengalami kondisi yang dalam dunia medis disebut polifagia yang bikin nafsu meningkat.

Apa itu polifagia?

Polifagia adalah istilah medis untuk menggambarkan rasa lapar berlebihan atau peningkatan nafsu makan lebih dari biasanya.

Rasa lapar adalah hal yang wajar dan semua orang pernah merasakannya. Namun, pada kondisi yang juga disebut hiperfagia ini jauh lebih ekstrem dari rasa lapar biasa.

Hal ini dapat menyebabkan rasa lapar yang intens, tapi tidak terpuaskan dengan makan.

Untuk mengatasi rasa lapar berlebihan ini, Anda perlu tahu penyebab yang mendasarinya.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Polifagia merupakan kondisi yang menyerang siapa saja, tetapi lebih umum pada orang dewasa yang memiliki masalah kesehatan tertentu.

Daripada laki-laki, perempuan yang sudah pubertas mungkin lebih sering merasakan kondisi ini.

Tanda dan gejala polifagia

Tanda dan gejala polifagia terutama dari peningkatan nafsu makan yang membuat Anda makan lebih sering dari biasanya. Hiperfagia juga dapat diartikan Anda menjadi sangat cepat lapar.

Sejumlah gejala lain mungkin akan Anda rasakan, tetapi tergantung dengan kondisi kesehatan yang mendasari kondisi ini. Gejala-gejala lain tersebut, berupa:

  • kelelahan,
  • susah tidur,
  • kesulitan konsentrasi,
  • kenaikan atau penurunan berat badan, dan
  • sering buang air kecil.

Kapan harus periksa ke dokter?

Rasa lapar merupakan bagian dari naluri manusia. Namun, rasa lapar yang muncul lebih intens dari biasanya bisa jadi salah satu peringatan dari polifagia.

Jika Anda merasakan rasa lapar yang berlebihan disertai gejala yang mengganggu, jangan sungkan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Hal ini perlu segera Anda lakukan terutama apabila merasakan gejala lain yang cukup serius, termasuk sering buang air kecil, berkeringat, dan kejang.

Penyebab dan faktor risiko polifagia

Berbagai penyebab polifagia mulai dari kondisi ringan hingga cukup berat, mulai dari gaya hidup buruk atau masalah medis tertentu.

1. Pola makan yang buruk

makanan cepat saji

Penyebab paling umum terutama dari pola makan yang buruk, misalnya terlalu banyak makan makanan tinggi karbohidrat dan lemak seperti makanan cepat saji.

Konsumsi jenis makanan ini minim protein dan serat yang membuat Anda cepat kembali lapar.

Selain nafsu makan yang besar, buruknya pola makan juga mungkin membuat Anda gampang mengalami kelelahan, rambut rontok, gusi berdarah, atau kenaikan berat badan.

2. Diabetes

Diabetes menyebabkan gula darah tinggi yang meningkatkan nafsu makan. Sebagai salah satu gejala diabetes, polifagia juga menandakan hiperglikemia atau tingginya kadar gula darah.

Polifagia akibat hiperglikemia sering terjadi pada pasien diabetes yang tidak mengontrol kadar gula darah, seperti melewatkan obat diabetes dan waktu makan.

Pasien diabetes dengan gula darah (glukosa) tidak terkontrol dapat menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan gula dalam darah ini dengan baik.

Glukosa yang tidak masuk ke dalam sel lantas membuat tubuh mengirim sinyal ke otak untuk menandakan bahwa orang dengan diabetes merasa lapar.

Menurut Diabetes UK, polidipsia (cepat haus) atau poliuria (sering buang air kecil) juga menjadi tanda dan gejala diabetes selain polifagia.

Gejala-gejala ini umumnya akan muncul saat gula darah berada di atas 180 hingga 200 mg/dL.

3. Hipoglikemia

Rendahnya kadar gula darah atau hipoglikemia juga bisa menyebabkan polifagia. Kondisi ini mungkin terjadi pada pasien diabetes yang mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Namun, orang tanpa diabetes juga bisa mengalami hipoglikemia, seperti kelebihan dosis obat malaria (quinine), minum alkohol berlebihan, atau terkena hepatitis.

Selain nafsu makan berlebihan, polifagia juga bisa menimbulkan sakit kepala, badan gemetar, berkeringat, dan sulit untuk memusatkan perhatian.

Kondisi ini dapat dikatakan kritis bila sudah menimbulkan kekejangan dan penglihatan kabur.

4. Hipertiroid

Hipertiroid adalah kondisi kelenjar tiroid bekerja terlalu aktif. Akibatnya, kadar hormon tiroid berlebihan mengganggu metabolisme, salah satunya meningkatkan nafsu makan.

Selain rasa lapar berlebihan, hipertiroid juga menyebabkan tubuh berkeringat, rasa cemas, rambut rontok, susah tidur, dan berat badan turun tanpa penyebab yang jelas.

5. Premenstrual syndrome (PMS)

nafsu makan bertambah saat pms

Wanita yang sedang mengalami premenstrual syndrome (PMS) berisiko lebih tinggi untuk mengalami nafsu makan berlebihan.

Hal ini terjadi akibat meningkatnya hormon estrogen dan progesteron, tetapi serotonin menurun. Akibatnya, Anda mungkin menginginkan makan makanan yang tinggi gula dan lemak

Selain hiperfagia, gejala-gejala lain yang umumnya mengiringi premenstrual syndrome, antara lain perut kembung, lekas marah, lelah, dan diare.

6. Stres dan depresi

Polifagia juga bisa terjadi saat Anda mengalami stres atau depresi yang parah. Hal ini karena keduanya bisa memicu hormon stres atau kortisol meningkat.

Nafsu makan berlebihan akibat stres ini umumnya bagian dari respon emosional untuk mengalihkan diri dari emosi negatif, baik secara sadar maupun tidak.

Orang yang mengalami stres atau depresi juga umumnya akan merasakan nyeri otot, sakit perut, susah tidur, dan lemas.

7. Gangguan tidur

Sejumlah gangguan tidur, seperti sleep apnea atau insomnia, dapat membuat tubuh kesulitan mengontrol hormon yang mengatur rasa lapar.

Alhasil, kebiasaan kurang tidur ini dapat menyebabkan polifagia yang umum terjadi pada orang yang memiliki gangguan tidur.

8. Penyebab lainnya

Penggunaan jangka panjang pada sejumlah obat-obatan, seperti kortikosteroid, antihistamin, dan antidepresan untuk gangguan kemasan bisa menjadi penyebab polifagia.

Beberapa penyakit langka juga dapat menyebabkan kondisi ini, termasuk sindrom Kleine-Levin and sindrom Prader-Willi yang memicu nafsu makan yang besar.

Hal apa yang meningkatkan risiko terkena kondisi ini?

Berkaitan sejumlah penyebab di atas, beberapa faktor risiko di bawah ini dapat meningkatkan peluang Anda terkena polifagia.

  • Menerapkan pola makan yang buruk.
  • Kualitas tidur buruk, terutama karena gangguan tidur.
  • Memiliki diabetes, tapi tidak menjalankan perawatan sesuai anjuran dokter.
  • Memiliki masalah kesehatan yang berkaitan dengan kelenjar tiroid dan hormon yang mengatur nafsu makan.
  • Menggunakan kortikosteroid dan obat lainnya tanpa pengawasan dokter.

Diagnosis polifagia

Pada kebanyakan kasus, polifagia merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan dokter. Untuk mencari tahu penyebabnya, dokter akan lebih dahulu melakukan diagnosis.

Dokter umumnya akan lebih dahulu melihat riwayat kesehatan Anda secara terperinci, lalu mengamati berbagai hal, meliputi:

  • kebiasaan makan,
  • gejala lain yang menyertai,
  • lamanya kondisi ini terjadi, dan
  • riwayat kesehatan keluarga.

Berdasarkan informasi tersebut, dokter dapat mengetahui penyebab polifagia yang Anda alami. Selain itu, tes lain mungkin Anda perlukan untuk mengetahui penyebab pastinya.

Dokter bisa melakukan tes gula darah untuk mendiagnosis diabetes atau tes fungsi tiroid untuk mengetahui kondisi hipertiroid yang mungkin Anda alami.

Pengobatan polifagia

konsultasi dokter

Pengobatan hiperfagia harus disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya. Hal ini karena rasa lapar mungkin tidak akan hilang hanya dengan makan saja.

Pasien diabetes yang mengalami polifagia harus minum obat diabetes dan suntik insulin sesuai anjuran dokter. Sementara itu, pasien dengan gangguan tiroid akan diresepkan obat-obatan yang mengontrol kerja kelenjar tiroid.

Jika Anda mengalami stres, depresi, atau gangguan kecemasan, pengobatan bisa dilakukan dengan minum obat antidepresan, mengikuti konseling, dan terapi perilaku bila dibutuhkan.

Hiperfagia pada wanita yang PMS, tidak memerlukan obat khusus. Dokter lebih mengarahkan Anda untuk mengendalikan diri dari keinginan untuk makan makanan yang tidak sehat.

Tidak hanya itu, dokter akan meminta untuk mengubah gaya hidup jadi lebih sehat karena ini berpengaruh pada kadar gula darah, tingkat stres, dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Pengobatan di rumah untuk polifagia

Selain melakukan pengobatan, orang yang mengalami gangguan nafsu makan yang besar ini juga perlu melakukan perawatan di rumah seperti berikut ini.

  • Ikuti aturan pola makan sehat, meliputi pilihan makanan bergizi dengan porsi dan waktu makan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
  • Pola dan asupan makan mungkin perlu disesuaikan untuk pasien diabetes, hipertiroid, atau kondisi lain dengan berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi.
  • Olahraga rutin yang membantu mengendalikan kadar gula darah, meningkatkan kualitas tidur, dan membantu mengurangi stres.
  • Stres yang memengaruhi perilaku makan dapat diatasi dengan latihan pernapasan, meditasi, atau sekadar melakukan hobi, seperti membaca atau menonton film.
  • Meningkatkan kualitas tidur dengan sleep hygiene, seperti tidur lebih awal serta hindari bermain ponsel, menonton TV, atau makan besar sebelum tidur.

Apapun pengobatannya, cara ampuh mencegah polifagia adalah menjaga pola hidup sehat.

Anda perlu menerapkan tips pola makan sehat yang sesuai porsi dan waktunya. Kemudian, lakukan olahraga secara rutin dan beristirahat yang cukup.

Bila ada pertanyaan lebih lanjut, konsultasikanlah ke dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Anda atau keluarga hidup dengan diabetes?

Anda tidak sendiri. Ayo gabung bersama komunitas pasien diabetes dan temukan berbagai cerita bermanfaat dari pasien lainnya. Daftar sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Polyphagia – Increased Appetite. Diabetes UK. (2019). Retrieved 15 October 2021, from https://www.diabetes.co.uk/symptoms/polyphagia.html

Diabetes: Stress & Depression. Cleveland Clinic. (2015). Retrieved 15 October 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/14891-diabetes-stress–depression

Hyperthyroidism – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 15 October 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hyperthyroidism/symptoms-causes/syc-20373659

Sleep Apnea – Causes & Symptoms. Sleep Foundation. (2021). Retrieved 15 October 2021, from https://www.sleepfoundation.org/sleep-apnea

Premenstrual Syndrome (PMS). Harvard Health. (2019). Retrieved 15 October 2021, from https://www.health.harvard.edu/a_to_z/premenstrual-syndrome-pms-a-to-z

Heymsfield, S. B., Avena, N. M., Baier, L., Brantley, P., Bray, G. A., Burnett, L. C., Butler, M. G., Driscoll, D. J., Egli, D., Elmquist, J., Forster, J. L., Goldstone, A. P., Gourash, L. M., Greenway, F. L., Han, J. C., Kane, J. G., Leibel, R. L., Loos, R. J., Scheimann, A. O., Roth, C. L., … Zinn, A. R. (2014). Hyperphagia: current concepts and future directions proceedings of the 2nd international conference on hyperphagia. Obesity (Silver Spring, Md.), 22 Suppl 1(0 1), S1–S17. https://doi.org/10.1002/oby.20646

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 4 hari lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan