Toksisitas Glukosa, Kondisi Gula Darah Tinggi (Hiperglikemia) Kronis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Kondisi gula darah tinggi atau hiperglikemia belum tentu menandakan Anda memiliki diabetes. Siapa pun sebenarnya bisa memiliki kadar gula darah tinggi. Walaupun sebagian besar mereka yang punya gula darah tinggi telah terdiagnosis diabetes mellitus. Tak hanya diabetes, kadar gula darah yang tinggi juga bisa menyebabkan toksisitas glukosa (gula darah).

Apa itu toksisitas glukosa?

Toksisitas glukosa atau glucotoxicity merupakan kondisi tingginya kadar gula darah dalam jangka panjang (kronis) sehingga mengakibatkan kerusakan sel beta dalam pankreas secara permanen. Kondisi ini kemudian menyebabkan penurunan produksi hormon insulin.

Sel beta membantu tubuh Anda menghasilkan dan melepaskan hormon insulin. Insulin berfungsi membantu penyerapan glukosa atau gulah darah ke dalam sel tubuh sehingga sel dapat mengubahnya menjadi energi. Proses metabolisme gula darah dengan bantuan insulin ini membantu menjaga kadar gula darah tetap dalam batas normal.

Kadar gula darah yang tinggi, alias hiperglikemia dapat menurunkan kemampuan sel beta dalam menghasilkan insulin.

Kondisi gula darah tinggi ini belum tentu menunjukan bahwa Anda terkena diabetes. Namun, memang Anda berisiko tinggi mengalami diabetes atau dapat dikatakan Anda memiliki prediabetes.

Tingginya kadar gula darah menyebabkan sel beta terus-menerus melepaskan insulin ke dalam aliran darah. Sel beta yang bekerja terlalu keras lama kelamaan akan kelelahan dan fungsi kerjanya akan menurun hingga akhirnya menyebabkan kerusakan secara permanen.

Dalam studi ilmiah berjudul Glucose Toxicity, dijelaskan bahwa toksisitas gula darah merupakan kondisi yang dapat mengarah pada penyakit diabetes tipe 2. Pasalnya, toksisitas glukosa juga dapat menyebabkan resistensi insulin yang merupakan faktor penyebab dari diabetes tipe 2.

Tanda dan gejala toksisitas glukosa

glukosa darah

Gejala gula darah tinggi atau tanda-tanda yang mungkin terjadi jika mengalami toksisitas glukosa adalah:

  • Sering merasa haus
  • Sering buang air kecil
  • Penglihatan kabur
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Mulut kering
  • Luka sulit sembuh

Kapan perlu waspada akan risiko diabetes?

Cara terbaik untuk memeriksa apakah Anda mengalami toksisitas glukosa adalah dengan mengecek kadar gula darah dan insulin secara teratur.

Hiperglikemia kronis bisa ditandai dengan kadar gula darah yang bisa mencapai 240 (mg/dL) dalam waktu lama. Apabila Anda mengalaminya, segera temui dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Jika Anda tidak memiliki diabetes atau belum memeriksakan kadar gula darah, dokter akan menyarankan untuk melakukan tes A1C.

Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar gula darah rata-rata dalam tiga bulan terakhir. Jika Anda memiliki kadar gula darah puasa di atas 126 mg/dl atau A1C lebih dari 6,5 persen, Anda memiliki risiko yang tinggi terkena diabetes.

Apa yang menyebabkan toksisitas gula darah?

Berbagai hal dapat menjadi penyebab kadar gula darah tinggi penyebab toksisitas gula dalam waktu lama (hiperglikemia kronis) antara lain seperti:

  • Penggunaan obat-obatan yang memicu kenaikan gula darah
  • Stres oksidatif yaitu kondisi yang mengacu pada melimpahnya radikal bebas di dalam tubuh
  • Pola makan yang kurang sehat dan tidak teratur
  • Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan karbohidrat
  • Kurang aktif bergerak dan jarang berolahraga
  • Tidak dapat mengelola stres dengan baik

Cara mengatasi toksisitas glukosa

Toksisitas gula darah diobati dengan menurunkan kadar gula darah Anda. Hal ini bisa dilakukan dengan mengatur asupan makanan, melakukan olahraga yang teratur, mendapatkan suntikan insulin, dan minum obat penurun gula darah.

Mengonsumsi obat diabetes atau antioksidan, seperti metformin dan troglitazone, mungkin bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk toksisitas glukosa yang disebabkan oleh stres oksidatif.

Namun, konsumsi obat-obatan tersebut tentunya harus dilakukan di bawah pengawasan dokter. Untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, pastikan Anda berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu.

Bagaimana cara mencegahnya?

Berikut adalah dua cara efektif yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terjadinya toksisitas glukosa:

1. Pola makan sehat

Anda dapat mengurangi risiko terkena toksisitas glukosa dengan mengurangi kadar gula darah Anda melalui pola makan yang sehat. Langkah pertama dalam melakukan ini adalah dengan mengatur asupan karbohidrat.

Bukan berarti Anda harus menghindari makanan yang mengandung karbohidrat sama sekali. Yang terpenting adalah, pastikan bahwa Anda mengonsumsinya dalam batas wajar.

Menurut American Diabetes Association, batas karbohidrat harian akan bergantung pada berat, tinggi badan, dan tingkat aktivitas Anda.

Sebagai acuan, Anda sebaiknya mengonsumsi sebanyak 30-75 gram karbohidrat dalam satu porsi makanan.  Untuk camilan, cukup dengan 15-30 gram karbohidrat saja untuk sekali makan.

Berisiko Sebabkan Diabetes, Ini Makanan dan Minuman Penyebab Gula Darah Tinggi

2. Mengelola stres dengan baik

Mengurangi stres juga bisa membantu mencegah lonjakan gula darah. Tingkat stres sangat memengaruhi keseimbangan kadar gula darah. Hal ini karena stres dapat menghambat produksi insulin pada tubuh.

Oleh karena itu, penting untuk mengatasi stres yang membebani pikiran Anda. Cobalah untuk menceritakan masalah yang Anda alami pada orang-orang terdekat. Hindari juga memaksakan diri Anda untuk berpikir positif.

Meditasi, latihan pernapasan, dan latihan relaksasi lainnya adalah beberapa cara yang bisa membantu Anda menenangkan diri ketika stres. Anda juga bisa melakukan yoga yang tidak hanya baik untuk pengelolaan stres, tapi juga merupakan jenis olahraga yang membantu menurunkan kadar gula darah.

Jika Anda mengalami beberapa tanda toksisitas gula darah, segera konsultasikan pada dokter Anda guna memperoleh diagnosis yang tepat. Jika tidak diobati, kondisi ini berisiko mengarah pada diabetes serta kemunculan penyakit komplikasi diabetes yang lebih cepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Semakin bertambah usia seseorang, pada umumnya semakin banyak penyakit yang diderita. Apa saja penyakit pada lansia yang sering terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Begini Trik Mudah untuk Mengurangi Konsumsi Gula

Mengurangi gula tak semudah berhenti minum teh pakai gula atau menghindari makan cake. Ada banyak makanan sehari-hari yang ternyata mengandung gula tinggi.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kanker Tiroid

Kanker tiroid dapat terjadi baik dengan atau tanpa gejala. Supaya lebih mengenal gejala, penyebab, dan pengobatannya, simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Penyakit Kanker Lainnya 5 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

10 Cara Ampuh Mencegah Penyakit Jantung dan Kekambuhannya

Kabar baik, berbagai masalah jantung dapat Anda cegah. Cara mencegah penyakit jantung pun beragam. Apa saja tindakan pencegahan penyakit jantung?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Jantung, Kesehatan Jantung 5 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
mencegah diabetes sejak dini

3 Langkah Lindungi Keluarga untuk Mencegah Diabetes Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
mencegah diabetes pada keluarga

Ibu, Ini Cara Cegah Risiko Diabetes pada Keluarga Tercinta Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 11 menit
bisul atau abses

Bisul

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 9 November 2020 . Waktu baca 10 menit
apakah diabetesi boleh makan mi instan

Efek Makan Mi untuk Penderita Diabetes dan Tips Aman Mengonsumsinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit