Kasus Merebak Hingga Afrika, Waspada COVID-19 Ada di Level Tertinggi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah SARS-CoV-2 telah menyebar dari Tiongkok ke 68 negara di dunia, WHO menaikkan peringatan kewaspadaan ke level tertinggi. Waspada penyebaran wabah COVID-19 ini, termasuk ke beberapa negara di Afrika yang sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh WHO.

“Kita berada di tingkat kewaspadaan level tertinggi  atau tingkat penilaian risiko tertinggi dalam hal penyebaran dan dampak,” ucap Mike Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO

Saat ini, Selasa (3/3) COVID-19 mewabah ke puluhan negara di semua benua –kecuali Antartika. Virus ini telah menginfeksi lebih dari 90 ribu orang termasuk dua di antaranya di Indonesia.

Ryan menegaskan, imbauan ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan. “Ini adalah pengecekan realitas untuk setiap pemerintahan di planet ini: Bangun, bersiap-siap, virus ini mungkin sedang dalam perjalanan ke sana dan Anda harus siap. Anda memiliki kewajiban untuk warga negara Anda, Anda memiliki kewajiban untuk dunia,” tegasnya.

Waspada wabah COVID-19 di negara-negara di Afrika

Afrika Waspada COVID-19

Sebelum adanya kasus positif di COVID-19 di Afrika, WHO telah mengingatkan agar negara-negara Afrika harus lebih waspada dalam pencegahan COVID-19. WHO khawatir saat satu kasus COVID-19 menginfeksi di Afrika maka itu akan mewabah dengan cepat. 

Selama berminggu-minggu, para pejabat kesehatan telah memperingatkan bahwa skenario terburuk untuk wabah ini menyebar ke Afrika, di mana banyak negara dengan sistem kesehatan yang rapuh. 

Karena setelah membatasi mobilitas keluar masuk negara langkah selanjutnya yang terpenting adalah pada penerapan dan pelaksanaan langkah-langkah deteksi, pencegahan penularan, dan kontrol ketat.

Penerapan serangkaian intervensi teknis dan operasional yang luas tergantung pada fasilitas kesehatan dan infrastruktur laboratorium masing-masing negara.

Jurnal The Lancet berjudul Preparedness and vulnerability of African countries against importations of COVID-19 juga menjabarkan evaluasi kesiapan negara-negara di Afrika dalam menghadapi wabah ini.

Dalam laporan tersebut para peneliti memberikan pemodelan bagaimana COVID-19 berpotensi menginfeksi negara-negara di Afrika dan mereka harus waspada. Termasuk perkiraan sejauh mana negara tersebut bisa menangani kasus COVID-19 ini.

Para peneliti dalam jurnal itu membagi negara-negara di Afrika ke dalam dua kategori.  

  • Pertama negara yang memiliki kapasitas sedang hingga tinggi, bisa dikatakan mereka mapan dalam merespons COVID-19. Negara-negara tersebut yakni Mesir, Aljazair, dan Afrika Selatan. 
  • Sedangkan masuk kategori kedua adalah negara yang rentan dan memiliki kapasitas lemah dalam merespons wabah. Yakni Nigeria, Ethiopia, Sudan, Angola, Tanzania, Ghana, dan Kenya.

Menurut laporan tersebut, negara-negara dalam kategori kedua ini kemungkinan besar tidak siap untuk mendeteksi kasus dan tidak mampu membatasi penularannya. 

Aljazair, Ethiopia, Afrika Selatan, dan Nigeria adalah bagian dari 13 negara prioritas utama yang diidentifikasi oleh WHO berdasarkan jumlah dan volume penerbangan langsung ke Tiongkok.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

75,699

Terkonfirmasi

35,638

Sembuh

3,606

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Kondisi Afrika dalam menghadapi COVID-19

Di Afrika per Senin (2/3), di Mesir terjadi dua kasus, di Algeria 3 kasus, dan satu Nigeria di kota besar padat penduduk Lagos.

“Saya ingin meyakinkan semua orang Nigeria bahwa kami telah meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan kami sejak kasus pertama di Tiongkok. Kami akan menggunakan semua sumber daya yang disediakan oleh pemerintah untuk menangani kasus ini,” kata Menteri Kesehatan Nigeria Osagie Ehanire dalam sebuah pernyataan yang di unggah di akun sosial media official.

mencegah tertular coronavirus

Satu kasus positif COVID-19 di salah satu kota terpadat di Afrika ini menimbulkan banyak kekhawatiran dan meningkatkan kewaspadaan. Kekhawatiran meningkat karena kasus ini bisa cepat menyebar ke seluruh kota.

Beberapa mengatakan Nigeria telah siap dan waspada menghadapi COVID-19 melihat bagaimana mereka menangani Ebola dalam kurun waktu 2014-2016. Selain Ebola, mereka memiliki pengalaman melawan campak, kolera, dan polio, di antara banyak penyakit menular lainnya.

Pengalaman penanganan Ebola tidak cukup?

Namun beberapa ahli mengatakan COVID-19 bukan Ebola. Mereka berbeda dalam penularannya. COVID-19 adalah virus pernapasan dan lebih menular, dengan batuk atau bersin cukup untuk membuat seseorang tertular. Perbedaan ini menjadi salah satu alasan Afrika perlu lebih waspada soal COVID-19.

Laporan Jurnal The Lancet itu juga menyebut, beberapa negara tetap tidak dilengkapi dengan baik. Beberapa negara bahkan tanpa kapasitas diagnostik untuk pengujian virus secara cepat. Jadi jika ada kasus suspek harus membawa sampel untuk diuji di luar negeri. 

Hal ini mungkin secara kritis menunda identifikasi kasus suspek, menunda masa isolasi mereka, dan mempengaruhi kemungkinan penularan penyakit.

Apakah Vitamin Bisa Membantu Cegah Tertular COVID-19?

WHO saat ini mendukung negara-negara untuk meningkatkan kapasitas diagnostik mereka. Di wilayah Afrika, kapasitas ini sekarang telah berkembang dan menjadi rujukan sejumlah besar negara. Kapasitas laboratorium ini masih dibatasi karena kekurangan personel yang terlatih untuk menjalankan tes, dan stok material yang tidak memadai untuk melakukan tes ini.

Di beberapa negara di Afrika, sumber daya untuk menyiapkan ruang karantina atau untuk melacak kontak kasus positif seperti yang direkomendasikan oleh WHO mungkin langka. 

Karena meski 74 persen negara di Afrika memiliki rencana kesiapsiagaan menghadapi penyebaran virus sejenis influenza namun sebagian sudah ketinggalan jaman –yang digunakan untuk penanganan virus H1N1 2009. Fasilitas ini dianggap tidak memadai untuk waspada menghadapi COVID-19 di Afrika. 

Beberapa negara ini tidak memiliki kapasitas mapan untuk memulangkan warga negaranya yang berada di Hubei seperti yang dilakukan negara-negara lain. 

“Temuan ini bisa mampu membantu menginformasikan keadaan mendesak untuk membantu dan memberi dukungan pada negara-negara di Afrika yang rentan,” tulis jurnal tersebut dalam rekomendasinya.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Ruangan Ber-AC Tingkatkan Risiko Penularan COVID-19?

Studi di Tiongkok menunjukkan bahwa COVID-19 bisa menular lewat AC. Namun, banyak pula ahli yang menyanggahnya. Lantas, mana jawaban yang tepat?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 03/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Menghadapi Masa Transisi dari Terapi Langsung ke Terapi Online Selama Pandemi

Siapa sangka bahwa kini Anda dapat menjalani terapi via online, terutama di masa pandemi COVID-19? Yuk, simak apa saja yang perlu dipersiapkan.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 03/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Pelacakan Kontak Dapat Menekan Angka Penyebaran Kasus COVID-19

Pelacakan kontak orang yang positif maupun diduga terinfeksi COVID-19 sangat penting dilakukan agar penyebaran virus bisa diperlambat. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Tinggal Sendiri Selama Pandemi, Apa yang Harus Diperhatikan?

Hidup sendirian tidak selamanya menyenangkan. Ada kalanya tinggal sendiri bisa menimbulkan rasa kesepian yang parah, terutama selama pandemi COVID-19.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Antibodi pasien covid-19

Antibodi Pasien Sembuh COVID-19 Hanya Bertahan 3 Bulan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Oksigen covid-19 Krisis oksigen

WHO Ingatkan Krisis Oksigen Konsentrator, Apa Artinya Bagi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 09/07/2020 . Waktu baca 3 menit
toilet umum covid-19

COVID-19 Bisa Menular Lewat Toilet Umum, Ini Cara Menghindarinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 06/07/2020 . Waktu baca 5 menit
teledermatologi saat pandemi

Teledermatologi, Layanan Konsultasi Masalah Kulit Online di Tengah Pandemi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 04/07/2020 . Waktu baca 6 menit