WHO Nyatakan COVID-19 Sebagai Pandemi, Bagaimana Cara Menghadapinya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Rabu (11/3) secara resmi menyatakan COVID-19 sebagai pandemi global. Ia juga mendorong tiap negara untuk melakukan langkah yang diperlukan guna menghadapi pandemi COVID-19 dan menghentikan penyebarannya.

Mengacu data yang terkumpul dalam laman Worldometers, COVID-19 telah menyebar ke 124 negara dari hampir seluruh benua, kecuali Antartika. Kendati COVID-19 mampu menyebar dengan cepat, ada beberapa persiapan yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi pandemi ini dan melindungi diri dari risiko penularan.

COVID-19 secara resmi dinyatakan sebagai pandemi

kasus COVID-19 di Indonesia

Dirjen WHO mengumumkan status COVID-19 sebagai pandemi dalam pertemuan di Jenewa, Swiss, pada hari yang sama. Pengumuman ini dilakukan setelah WHO melihat tingginya angka kematian akibat COVID-19 di Italia selama beberapa pekan terakhir.

Ini merupakan kali kedua WHO mengumumkan suatu wabah sebagai pandemi sejak merebaknya flu babi pada 2009 lalu. Penyebaran flu babi saat itu mencakup lebih dari 206 negara dan mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal dunia.

Kasus COVID-19 kini telah mencapai lebih dari 125.000 orang dan menyebabkan 4.634 kematian di seluruh dunia. Melihat tingginya angka kasus dan penyebaran, WHO pun mengumumkan wabah ini sebagai kondisi darurat dengan tingkat kewaspadaan tertinggi.

Status tersebut lalu diperbarui setelah WHO melakukan penilaian terhadap COVID-19 berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Hasil penilaian menunjukkan bahwa karakteristik yang dimiliki COVID-19 cukup untuk membuatnya disebut sebagai pandemi.

Walau demikian, Tedros mengatakan bahwa setiap negara tetap bisa menghadapi pandemi COVID-19 serta mengubah arahnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan yakni mempersiapkan rumah sakit, melatih dan melindungi tenaga kesehatan, serta saling menjaga kesehatan satu sama lain.

WHO juga telah mengamati pola penyebaran COVID-19 dan menemukan potensi untuk mengendalikannya. Menurut Tedros, ini adalah pandemi pertama yang disebabkan oleh coronavirus, tapi juga sekaligus pandemi pertama yang sangat mungkin dikendalikan.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

563,680

Terkonfirmasi

466,178

Sembuh

17,479

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Cara menghadapi pandemi COVID-19

dampak psikologis karantina

COVID-19 menular dengan cepat dan berdampak pada banyak aspek. Ini sebabnya setiap orang perlu berjaga-jaga guna melindungi diri dan orang terdekatnya, terutama mengingat status COVID-19 yang kini sudah menjadi pandemi global.

Begitu wabah penyakit menjadi suatu pandemi, dampaknya tidak hanya terasa pada segi kesehatan fisik. Aspek lain seperti kondisi psikologis, sosial, bahkan ekonomi pun bisa saja terkena pengaruhnya.

Guna menghindari dampak yang tidak diharapkan, berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan selama menghadapi pandemi COVID-19:

1. Tidak panik

Pandemi dapat menimbulkan rasa cemas dan kepanikan, apalagi bila Anda tidak tahu harus berbuat apa. Namun, kepanikan justru akan membuat Anda tidak dapat berpikir jernih, atau bahkan melakukan tindakan-tindakan yang keliru dan berisiko.

Sebisa mungkin, cobalah untuk mengelola rasa cemas selama menunggu kabar terbaru tentang wabah ini. Fokuslah pada upaya sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mencegah infeksi COVID-19, misalnya mencuci tangan dan menjaga kesehatan.

2. Mencari informasi dari sumber yang tepercaya

Pada awal terjadinya pandemi, informasi yang simpang-siur akan bermunculan. Tugas Anda menyaring informasi yang masuk agar Anda hanya memperoleh informasi dari sumber yang tepercaya dan bisa dipertanggungjawabkan.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar menghadapi pandemi COVID-19, carilah dari situs atau media sosial pemerintah dan badan kesehatan. Anda pun bisa bertanya pada tenaga medis atau membaca laporan jurnal. Hindari informasi dari grup chat yang belum jelas kebenarannya.

physical distancing

3. Mencegah penularan penyakit

Salah satu upaya terpenting yang perlu Anda lakukan untuk menghadapi pandemi COVID-19 adalah mencegah penularannya. Berikut langkah-langkah pencegahan yang bisa Anda terapkan:

  • Mencuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 40-60 detik.
  • Menggunakan hand sanitizer berbahan alkohol bila tidak tersedia air dan sabun.
  • Menutup mulut dan hidung saat batuk serta bersin.
  • Tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan.
  • Mengunjungi rumah sakit bila Anda merasakan gejala demam, batuk atau sesak.
  • Tetap di rumah saat merasa tidak enak badan.

4. Mempersiapkan kebutuhan penting

Saat menghadapi pandemi COVID-19, orang-orang dengan risiko penularan yang tinggi mungkin harus melakukan karantina diri untuk sementara. Selama karantina, Anda akan memerlukan persediaan penting yang terdiri dari:

  • Makanan yang awet dan air untuk dua minggu.
  • Obat-obatan, termasuk obat pereda nyeri dan obat untuk keluhan ringan.
  • P3K, masker untuk orang yang sakit, vitamin, suplemen, dan sejenisnya.
  • Produk kebersihan seperti sabun dan sampo, deodoran, pembalut, dan sejenisnya.
  • Alat bersih-bersih, termasuk kantong sampah, desinfektan, pemutih, dan sejenisnya.
  • Multivitamin dan mineral. Meningkatkan daya tahan tubuh tidak hanya dengan mengonsumsi vitamin C, tetapi juga dibutuhkan kombinasi beberapa vitamin dan mineral.

Jenis vitamin lain yang Anda perlukan contohnya vitamin A, E, serta B kompleks. Fungsi vitamin adalah menjaga sel-sel kekebalan tubuh bekerja dengan normal.

Agar sistem imun kuat, Anda juga memerlukan mineral seperti selenium, zinc, dan zat besi. Selenium menjaga kekuatan sel dan mencegah kerusakan DNA. Lalu zinc memicu respons kekebalan tubuh. Selain itu, zat besi membantu penyerapan vitamin C.

Persiapkan tersebut berdasarkan kebutuhan Anda dan keluarga. Masa karantina biasanya memakan waktu dua minggu, jadi Anda tidak perlu menyediakan stok secara berlebihan.

Hal-Hal yang Harus Dilakukan Ketika Merasakan Gejala COVID-19

5. Mengarantina Diri

Selain keempat hal di atas, poin terakhir ini juga harus menjadi perhatian. Jika habis bepergian ke negara yang terindikasi virus COVID-19, Anda harus mengarantina atau mengisolasi diri sendiri selama 14 hari di rumah.

COVID-19 kini dinyatakan sebagai pandemi yang memerlukan perhatian khusus. Meski demikian, masyarakat tidak perlu tenggelam dalam kepanikan karena wabah ini cukup terkendali dan bisa dicegah dengan beberapa langkah sederhana.

Apabila pandemi COVID-19 telah mencapai lingkungan tempat tinggal Anda, lakukan langkah-langkah menghadapi pandemi sesuai instruksi yang tersedia. Jaga kesehatan dan segera periksakan diri ke rumah sakit rujukan bila Anda atau salah satu anggota keluarga mengalami gejala.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Selama pandemi ada tren peningkatan angka kehamilan yang berakhir dengan stillbirth atau bayi lahir mati, di mana bayi meninggal di dalam rahim. Kenapa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Lebih dari 50% penularan COVID-19 terjadi dari orang tanpa gejala (OTG) termasuk mereka yang berada di tahap awal infeksi dan masih belum bergejala.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Banyak pasien COVID-19 mengalami infeksi kedua meski telah sembuh. Berapa lama antibodi yang dihasilkan pada saat infeksi pertama bisa bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Beda swab PCR dan rapid test

Semua Hal tentang Rapid Test & Tes Swab yang Perlu Kamu Tahu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 3 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
obat anti-depresan covid-19

Obat Antidepresan untuk Menangani COVID-19, Benarkah Ampuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 3 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
bayi dengan antibodi covid-19

Bayi di Singapura Lahir dengan Antibodi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 3 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit