Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Gejala umum coronavirus (COVID-19) yang sudah diketahui sejauh ini antara lain demam, batuk kering, dan sesak napas. Ada pula laporan gejala tidak umum seperti diare dan sakit tenggorokan. Namun, perkumpulan dokter THT Inggris, ENT UK, baru-baru ini melaporkan gejala lain dari COVID-19 yang perlu diwaspadai, yakni hilang penciuman dan pengecapan.

COVID-19 adalah penyakit infeksi yang menyerang sistem pernapasan. Oleh sebab itu, gejalanya pun tidak jauh dari gangguan pernapasan serta berkurangnya kemampuan indera terkait. Lalu, apa yang harus Anda lakukan bila mengalami hilang penciuman dan pengecapan selama menghadapi pandemi COVID-19?

Hilang penciuman dan pengecapan pada pasien coronavirus (COVID-19)

penyakit anosmia

Laporan terkait gejala baru coronavirus disampaikan oleh beberapa dokter THT dari The Royal College of Surgeons, Inggris. Pada laporan tersebut, disebutkan bahwa hilang penciuman atau anosmia memang kerap terjadi saat seseorang terinfeksi virus.

Sebanyak 40% kasus anosmia pada orang dewasa disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan atas. Berdasarkan laporan gejala yang dialami pasien di beberapa negara, ternyata sekitar 10-15% pasien COVID-19 juga mengalami kondisi yang sama.

Selain hilang penciuman, pasien COVID-19 juga dapat mengalami gejala berupa hilang pengecapan atau dysgeusia. Tingkat keparahannya berbeda pada tiap orang. Ada yang kemampuan mengecap dan menciumnya hanya berkurang, serta ada yang hilang sama sekali.

Gejala hilang penciuman sudah pernah dilaporkan oleh sejumlah negara. Pada sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Februari lalu, di Korea Selatan ada sekitar 30% dari 2.000 pasien positif COVID-19 yang mengalami gangguan penciuman.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

28,818

Terkonfirmasi

8,892

Sembuh

1,721

Meninggal Dunia

Sementara di Jerman, hasil survei University Hospital Bonn menunjukkan sekitar 70% pasien mengeluhkan hilangnya penciuman dan pengecapan selama beberapa hari. Kasus serupa juga ditemukan di Iran, Amerika Serikat, Prancis, dan Italia bagian utara.

Menurut Dr. Claire Hopkins selaku presiden British Rhinological Society, hal ini perlu ditanggapi dengan waspada. Pasalnya, orang yang mengalami gejala hilang penciuman kemungkinan besar merupakan pasien tidak terdeteksi yang tanpa sadar memperluas penyebaran coronavirus.

Mereka tidak mengalami gejala umum seperti demam, dan malah mengalami gangguan pada indra penciuman dan pengecapan. Sayangnya, hilang penciuman dan pengecapan belum dikenali sebagai gejala COVID-19 sehingga ada banyak orang yang tidak menyadari dirinya terjangkit coronavirus.

Apa yang harus Anda lakukan bila mengalami gejala ini?

World Health Organization (WHO) maupun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) hingga kini belum mengonfirmasi hilang penciuman dan pengecapan sebagai gejala COVID-19. Pasalnya, temuan ini masih perlu dikaji lebih lanjut.

Penetapan gejala secara sembarangan juga bisa menimbulkan kecemasan pada orang-orang yang memang telah lama menderita anosmia. Padahal, kondisi mereka mungkin disebabkan oleh alergi, infeksi sinus, atau pertumbuhan polip pada hidung.

Jika semua orang yang mengalami anosmia diminta menjalani karantina diri, akan ada banyak kasus coronavirus yang bersifat false positive. Ini berarti seseorang yang menunjukkan gejala COVID-19 dianggap positif walaupun kenyataannya keliru.

Kendati belum ditetapkan sebagai gejala COVID-19, setiap orang yang merasa mengalami hilang penciuman dan pengecapan secara mendadak tetap diminta untuk waspada. Terlebih lagi bila Anda tidak memiliki riwayat kondisi penyebab anosmia, seperti:

  • Sinus dan polip pada hidung
  • Cedera hidung atau cedera saraf hidung
  • Rutin meminum obat-obatan dengan efek samping anosmia
  • Terpapar bahan kimia beracun
  • Pernah menjalani terapi radiasi pada kepala atau leher
  • Menderita penyakit Alzheimer, Parkinson, dan multiple sclerosis
  • Mengalami gangguan hormon, kurang gizi, atau lahir dengan cacat bawaan

Apabila Anda mengalami hilang penciuman dan pengecapan, tidak menunjukkan gejala COVID-19, tetapi berisiko terjangkit COVID-19, sebaiknya lakukan karantina diri selama 14 hari. Anda tergolong berisiko bila pernah berkontak erat dengan penderita.

Sementara itu, jika Anda mengalami hilang penciuman dan pengecapan, tetapi berisiko rendah dan tidak menunjukkan gejala apa pun, ENT UK menyarankan untuk melakukan karantina diri selama setidaknya tujuh hari.

ENT UK dalam laporannya menyampaikan bahwa upaya ini dilakukan demi mencegah penularan dari pasien COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala. Dengan demikian, tenaga medis akan mampu mendeteksi pasien baru dan menangani pasien dalam perawatan.

Selama masa karantina, jangan lupa menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan pakai sabun. Batasi kontak dengan orang lain, gunakan masker saat sakit, dan perbanyak konsumsi makanan bergizi seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Coronavirus COVID-19. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://umiamihealth.org/en/alerts/coronavirus-covid-19

Loss of smell could be a symptom of COVID-19. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.livescience.com/covid-19-symptoms-loss-smell-taste.html

Losing sense of smell may be a hidden symptom of coronavirus, doctors warn. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.washingtonpost.com/health/2020/03/23/coronavirus-sense-of-smell/

Loss of sense of smell as marker of COVID-19 infection. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.entuk.org/sites/default/files/files/Loss%20of%20sense%20of%20smell%20as%20marker%20of%20COVID.pdf

Anosmia: Symptoms, Causes, and Treatments. (2020). Retrieved 24 March 2020, from https://www.webmd.com/brain/anosmia-loss-of-smell#1

Kang, J., Lee, Y., Han, K., Kim, S., & Lee, K. (2020). Epidemiology of Anosmia in South Korea: A Nationwide Population-Based Study. Nature, 10(1). doi: 10.1038/s41598-020-60678-z

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab Angka Kasus COVID-19 di Korea Selatan Kembali Melonjak

Lonjakan kasus COVID-19 di Korea Selatan kini tengah menjadi pusat perhatian dunia. Lantas, apa yang menyebabkan berita mengejutkan ini terjadi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 04/06/2020

Panduan Mempersiapkan Diri untuk Cegah Penularan COVID-19 di Tempat Kerja

Saat PSBB dicabut, para karyawan yang bekerja #dirumahaja harus kembali ke kantor. Bagaimana cara mencegah penularan COVID-19 di tempat kerja?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 03/06/2020

Bagaimana Jika Sekolah Dibuka Selama Pandemi COVID-19?

Orangtua khawatir jika sekolah kembali dibuka pada tahun ajaran baru. Apakah sekolah yang dibuka selama pandemi COVID-19 aman bagi anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 03/06/2020

Perhatikan Penggunaan Disinfektan yang Baik Agar Aman dan Efektif Cegah Penyebaran Virus

Sebelum menggunakan disinfektan, ada baiknya Anda memahami cara menggunakan larutan tersebut dengan baik dan benar agar efektif dan tidak memberbahayakan.

Ditulis oleh: Roby Rizki
dr. Mikhael Yosia, BMedSci.

Direkomendasikan untuk Anda

Saran Kemenkes untuk Manfaatkan Obat Tradisional Sebagai Pencegah COVID-19

Saran Kemenkes untuk Manfaatkan Obat Tradisional Sebagai Pencegah COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
Cara Atasi Rasa Cemas Saat Kembali ke Kantor di Tengah Pandemi

Cara Atasi Rasa Cemas Saat Kembali ke Kantor di Tengah Pandemi

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
Menelusuri Jumlah Kasus Positif COVID-19 Anak di Indonesia

Menelusuri Jumlah Kasus Positif COVID-19 Anak di Indonesia

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 04/06/2020
Dinilai Belum Aman, Uji Klinis Hydroxychloroquine untuk Obat COVID-19 Ditunda

Dinilai Belum Aman, Uji Klinis Hydroxychloroquine untuk Obat COVID-19 Ditunda

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 04/06/2020