Studi: Negara yang Wajibkan Vaksin BCG Miliki Kasus COVID-19 Lebih Rendah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ilmuwan hingga saat ini belum menemukan obat maupun vaksin untuk menangkal COVID-19. Namun, sebuah studi terbaru menyebutkan bahwa angka kematian akibat COVID-19 cenderung lebih rendah di negara yang mewajibkan pemberian vaksin BCG. Vaksin ini diduga memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh pasien.

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Sementara itu, vaksin bacillus Calmette-Guerin (BCG) digunakan untuk menangkal patogen (bibit penyakit) yang sama sekali berbeda dengan coronavirus. Lantas, apa kaitan antara keduanya? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Kaitan antara vaksin BCG dan COVID-19

vaksin meningitis untuk haji

Tingkat keparahan COVID-19 di tiap negara berbeda-beda, dan hal ini belum diketahui alasannya. Banyak ilmuwan pun mencoba menjawab pertanyaan ini melalui berbagai penelitian, salah satunya membahas hubungan antara vaksinasi BCG dan COVID-19.

Menurut penelitian tersebut, negara yang mewajibkan vaksinasi BCG memiliki angka kasus dan kematian akibat COVID-19 yang lebih rendah. Bahkan, angka kematian ini enam kali lipat lebih rendah dibandingkan negara tanpa kewajiban vaksinasi BCG.

BCG merupakan vaksin untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri M. tuberculosis. Vaksin BCG diberikan di banyak negara, terutama negara dengan angka kasus TBC yang tinggi seperti Indonesia.

Gonzalu Otazu selaku pimpinan penelitian tersebut mulai mempelajari pengaruh vaksin BCG setelah melihat rendahnya kasus COVID-19 di Jepang. Beda dengan kebanyakan negara, Jepang kini masih bisa mengatasi COVID-19 tanpa menerapkan lockdown.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

111,455

Terkonfirmasi

68,975

Sembuh

5,236

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Otazu melansir sejumlah studi pendahulu yang menyebutkan bahwa vaksin BCG tidak hanya efektif melawan TBC, tapi juga penyakit lain. Ia dan timnya pun mengumpulkan data terkait negara mana saja yang mengharuskan warganya mendapat vaksin BCG.

Mereka berfokus pada negara-negara berpenghasilan tinggi dengan kasus COVID-19 yang tinggi. Amerika Serikat dan Italia misalnya, hanya menyarankan vaksinasi BCG bagi orang-orang yang berisiko terjangkit TBC.

Sementara itu, Spanyol, Prancis, Jerman, Iran, dan Inggris dulu mewajibkan vaksinasi BCG massal, tapi menghentikannya beberapa puluh tahun lalu. Tiongkok menerapkan kebijakan vaksinasi BCG, tapi tidak dijalankan dengan baik hingga tahun 1976.

Di sisi lain, Jepang dan Korea yang tampak berhasil menghadapi pandemi COVID-19, memiliki kebijakan vaksinasi BCG yang berjalan dengan baik. Sayangnya, Otazu tidak mempelajari kondisi negara berpenghasilan rendah karena tidak bisa disimpulkan.

ibuprofen covid-19

Ampuhkah vaksin BCG menangkal COVID-19?

Efek samping vaksin hepatitis B

Salah satu penelitian yang paling awal membahas kaitan vaksinasi BCG dan COVID-19 dilakukan oleh Mihai Netea, seorang ahli penyakit infeksi dari University Medical Center di Belanda. 

Menurut penelitian Netea, vaksin BCG membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih sensitif terhadap serangan patogen. Setiap ada patogen yang menyerang dengan cara yang mirip bakteri TBC, tubuh dapat melawannya dengan sistem kekebalan yang lebih kuat.

Vaksin BCG dibuat dari bakteri TBC yang sudah dilemahkan. Jadi, bakteri ini tidak akan menyebabkan penyakit saat berada dalam tubuh. Sebagai gantinya, sistem imun justru menggunakan bakteri TBC sebagai penanda bila suatu hari tubuh terserang infeksi.

Bahaya Efek COVID-19 pada Penderita Penyakit Jantung

Jika sewaktu-waktu Anda terkena virus atau bakteri, sistem kekebalan tubuh sudah siap dengan pertahanan yang diperlukan untuk melawan patogen tersebut. Rupanya, sistem pertahanan dari vaksin BCG juga berpotensi mencegah COVID-19.

Walaupun belum dapat dipastikan, sedikitnya enam negara kini melakukan uji coba dengan memberikan vaksin BCG kepada tenaga kesehatan dan lansia. Pasalnya, mereka adalah kelompok yang paling berisiko terjangkit COVID-19.

Mereka akan dipantau selama beberapa pekan untuk melihat apakah vaksin ini ampuh menangkal SARS-CoV-2. Hingga diperoleh hasil penelitian terbaru, para ilmuwan masih harus berupaya menemukan cara mengatasi atau mencegah penularan COVID-19.

Haruskah Anda mendapatkan vaksin BCG?

Otazu turut mengatakan sekalipun vaksin BCG terbukti efektif mencegah COVID-19, ini bukan alasan untuk menimbun vaksin seperti halnya masker dan hand sanitizer. Pada akhirnya, hal ini belum dapat dipastikan sebelum dilakukan uji klinis.

Pemberian vaksin BCG juga bukanlah satu-satunya cara untuk menghambat penularan COVID-19. Pandemi ini hanya dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan tangan, membatasi jarak melalui physical distancing, serta memelihara daya tahan tubuh.

Tidak ada satu pun negara yang mampu menghadapi COVID-19 hanya karena seluruh warganya pernah mendapatkan vaksin BCG. World Health Organization (WHO) pun belum mengonfirmasi kebenaran penelitian baru ini.

Maka dari itu, setiap orang perlu ambil bagian dalam melakukan upaya pencegahan demi menekan angka kasus dan kematian.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin COVID-19 Moderna Memasuki Tahap Akhir Uji Kllinis

Vaksin COVID-19 buatan Moderna menunjukkan hasil positif dan akan memasuki tahap akhir uji klinis. Vaksin ini akan diuji coba pada 30.000 orang relawan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Menkes Mengganti Istilah PDP, ODP, dan OTG, Apa Artinya Bagi Penanganan COVID-19?

Kemenkes menghapus istilah PDP, ODP, dan OTG. Sebagi gantinya pemerintah menetapkan beberapa istilah baru untuk digunakan dalam penanganan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

WHO Mengonfirmasi Virus COVID-19 Bertahan di Udara (Airborne)

Selain melalui droplet, COVID-19 juga menular lewat sebaran di udara (airborne). Hal ini sudah dikonfirmasi oleh WHO. Begini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14/07/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Tips Beradaptasi dan Melindungi Diri di Masa New Normal

New normal dapat menjadi tantangan bagi sebagian orang. Namun, hal terpenting adalah Anda tetap harus melindungi kesehatan dengan langkah berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
new normal
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor
asuransi di masa pandemi

5 Manfaat Punya Asuransi di Masa Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit
vaksin covid-19 oxford

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 5 menit