Serupa tapi Tak Sama, Ini Perbedaan SARS dan Coronavirus COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

COVID-19 dan SARS memang berasal dari satu payung besar virus yang sama, yaitu coronavirus. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Yuk, kenali perbedaan antara coronavirus yang menyebabkan SARS dan virus yang menimbulkan COVID-19. 

Perbedaan coronavirus COVID-19 dengan SARS

cara mencegah covid-19

Wabah COVID-19 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok ini memang sering disamakan dengan SARS yang membuat resah dunia tahun 2003. 

Keduanya pun berawal dari negara yang sama, yaitu Tiongkok. Namun, seperti yang Anda ketahui bahwa virus yang menyebabkan COVID-19 dinamakan sebagai SARS-CoV-2 dan merupakan jenis baru. 

Maka itu, para ahli awalnya tidak bisa mengidentifikasi jenis virus yang menyebabkan COVID-19. Akan tetapi, mereka tahu bahwa virus tersebut berasal dari coronavirus yang mirip dengan SARS dan MERS. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,851

Terkonfirmasi

6,057

Sembuh

1,473

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Berikut ini beberapa perbedaan yang bisa Anda kenali terkait COVID-19 dengan SARS.

1. Gejala yang ditimbulkan

gejala novel coronavirus

Salah satu perbedaan antara coronavirus COVID-19 dengan SARS yang cukup terlihat adalah gejala yang ditimbulkan. 

Walaupun gejala COVID-19 dengan SARS terlihat mirip dan sama-sama menyerang sistem pernapasan, keduanya ternyata mempunyai sedikit perbedaan. 

Menurut CDC, gejala umum yang dialami oleh pasien positif COVID-19 cukup mirip dengan penyakit lainnya, seperti:

  • demam lebih dari 38°C
  • batuk kering
  • sesak napas. 

Sementara itu, pasien yang menderita SARS mengalami gejala yang lebih bervariasi, seperti:

  • demam
  • batuk
  • badan terasa lemas dan nyeri
  • sakit kepala 
  • sesak napas
  • diare 

Sekilas memang terlihat sama, tetapi pada beberapa kasus terdapat pasien yang positif COVID-19 tanpa menunjukkan gejala apapun. Walaupun demikian, pasien yang seperti ini masih dapat menularkan virusnya kepada orang lain. 

Maka itu, coronavirus COVID-19 dan SARS dapat dibedakan melalui gejala yang memang terlihat mirip, tetapi sebenarnya berbeda. 

gejala dan komplikasi coronavirus

2. Tingkat keparahan

wabah coronavirus

Selain gejala, perbedaan lainnya yang cukup terlihat antara coronavirus COVID-19 dengan SARS adalah tingkat keparahan. Angka kasus COVID-19 memang jauh lebih tinggi dibandingkan SARS. 

Namun, diperkirakan bahwa terdapat 20% pasien COVID-19 yang perlu dirawat di rumah sakit dan sedikit beberapa diantara mereka membutuhkan alat bantu pernapasan, seperti ventilator. Hal ini karena kebanyakan pasien mengembangkan penyakit yang cukup serius akibat infeksi virus, seperti pneumonia. 

Sementara itu, SARS menyebabkan kondisi yang lebih parah secara umum dibandingkan COVID-19. Diperkirakan terdapat 20 sampai 30% pasien SARS yang membutuhkan ventilator selama perawatan. 

Walaupun demikian, perkiraan tingkat kematian COVID-19 akan bervariasi mengingat angkanya masih terus bertambah dan tergantung pada faktor lainnya. Mulai dari kondisi negara yang terinfeksi hingga karakteristik populasi. 

Vitamin Cegah COVID-19

Sampai saat ini persentase kematian COVID-19 diperkirakan antara 0.25 hingga 4 persen. Namun, jumlah pasien yang sembuh jauh lebih banyak dibandingkan pasien yang meninggal dunia, sehingga dapat dikatakan angka kematiannya lebih rendah dibandingkan SARS. 

Hal ini dikarenakan SARS disebut-sebut lebih mematikan dibandingkan coronavirus COVID-19 dengan persentase kematian sekitar 10 persen dari jumlah keseluruhan kasus. Selain itu, efek COVID-19 pada kelompok tertentu ternyata berbeda dibandingkan SARS. 

3. Penularan

lockdown kota karena COVID-19

Satu hal yang cukup membuat SARS dan coronavirus COVID-19 menjadi sangat berbeda adalah tingkat penularan. Berbeda dengan SARS, COVID-19 memiliki jumlah kasus yang cukup tinggi karena lebih mudah menginfeksi dari satu orang ke orang lainnya.

Hal ini mungkin dikarenakan jumlah virus pasien COVID-19 terdapat pada hidung dan tenggorokan tak lama setelah gejala muncul. 

Penularan ini cukup berbeda dengan SARS. Pada kasus SARS, jumlah virus akan terus bertambah banyak saat virus sudah ‘tinggal’ di dalam tubuh selama beberapa hari. 

Maka itu, penularan COVID-19 jauh lebih mudah karena ketika gejala awal baru saja terjadi, virus dapat menyebar ke orang lain lebih awal sebelum kondisi pasien memburuk. 

Bahkan, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa pasien positif COVID-19 dapat menularkan virus sebelum gejala muncul. Kasus yang seperti ini tidak ditemukan pada SARS, sehingga penularan COVID-19 jauh lebih cepat. 

4. Genom 

virus corona atau covid-19

Baru-baru ini terdapat sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet yang mengungkapkan informasi genetik lengkap (genom) SARS-CoV-2. SARS-CoV-2 merupakan sebutan virus yang menyebabkan COVID-19. 

Di dalam penelitian tersebut terlihat bahwa SARS-CoV-2 sangat terkait dengan coronavirus yang ada pada kelelawar ketimbang virus yang menyebabkan penyakit SARS. Hal ini membuktikan bahwa COVID-19 memiliki kesamaan genetik dengan virus SARS sebesar 79 persen. 

Satu hal yang perlu Anda ingat bahwa ketika virus memasuki sel, mereka perlu berinteraksi dengan protein pada permukaan sel, alias reseptor. Lalu, virus akan menyebar lewat protein pada permukaan tersebut. 

Pada saat virus ini dianalisis dengan coronavirus lainnya, hasilnya cukup menarik, yaitu SARS-CoV-2 lebih mirip dengan coronavirus yang ada pada kelelawar. 

Bagaimana Wabah Novel Coronavirus akan Berakhir?

5. Proses pengikatan virus

penanganan COVID-19 di Indonesia

Sebenarnya, sampai saat ini para ahli masih dalam proses penelitian untuk melihat bagaimana proses pengikatan coronavirus COVID-19 dan perbedaannya dengan SARS. Hasilnya cukup bervariasi karena penelitian ini dilakukan dengan protein, tidak dalam virus secara keseluruhannya. 

Menurut penelitian dari Cell, SARS-CoV-2 dengan SARS-CoV sebenarnya memakai reseptor sel inang yang sama. Kedua virus ini juga menggunakan protein virus yang dipakai untuk memasuki sel inang dan mengikat reseptor dengan keterikatan (afinitas)  yang sama. 

Akan tetapi, penelitian lainnya mencoba membandingkan area protein virus yang bertanggung jawab untuk mengikat reseptor sel inang. Peneliti melihat bahwa pengikatan SARS-CoV-2 berikatan dengan reseptor sel inang dengan afinitas lebih tinggi dibandingkan SARS. 

Intinya, apabila coronavirus COVID-19 memiliki afinitas lebih tinggi untuk reseptor sel inangnya, hal ini dapat menjelaskan mengapa COVID-19 lebih mudah menyebar dibandingkan SARS. 

6. Pengobatan

enularan COVID-19 toilet-19 di Indonesia

Sampai saat ini memang belum ada obat yang secara khusus dapat menyembuhkan coronavirus COVID-19 dan SARS. 

Tim dokter sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menggabungkan beberapa obat antivirus dengan obat lainnya agar pasien lebih sehat dan tubuh mampu melawan virus. Mulai dari lopinavir, ritonavir, hingga chloroquine dipakai untuk meringankan gejala pasien.

Sementara itu, pasien SARS sudah terbukti efektif dapat diobati dengan lopinavir, ritonavir, serta obat antivirus spektrum luas terbaru bernama remdesivir.

Terlebih lagi, pada pasien COVID-19 yang memerlukan ventilator, obat-obatan yang diberikan pun akan berbeda. Selain obat antivirus, pasien dengan kondisi seperti ini juga membutuhkan infus, oksigen, dan obat-obatan lainnya yang sesuai dengan gejala mereka. 

tes antibodi COVID-19

Maka itu, pasien COVID-19 perlu dirawat di rumah sakit atau melakukan karantina sendiri agar kondisinya dapat dipantau dan tidak memudahkan virus menginfeksi orang lain. 

Coronavirus COVID-19 dan SARS memang lebih banyak memiliki kesamaan. Namun, penting untuk mengetahui apa saja perbedaan yang dimiliki agar terlihat bahwa penyakit apa yang sebenarnya yang dialami. 

Jangan lupa untuk melakukan upaya mencegah penularan COVID-19 dengan menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh serta menjaga jarak dengan orang lain, alias physical distancing.

Mudik Saat Pandemi COVID-19 Berbahaya, Ini Sebabnya

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020