Serupa tapi Tak Sama, Ini Perbedaan SARS dan Coronavirus COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 April 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

COVID-19 dan SARS memang berasal dari satu payung besar virus yang sama, yaitu coronavirus. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Yuk, kenali perbedaan antara coronavirus yang menyebabkan SARS dan virus yang menimbulkan COVID-19. 

Perbedaan coronavirus COVID-19 dengan SARS

cara mencegah covid-19

Wabah COVID-19 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok ini memang sering disamakan dengan SARS yang membuat resah dunia tahun 2003. 

Keduanya pun berawal dari negara yang sama, yaitu Tiongkok. Namun, seperti yang Anda ketahui bahwa virus yang menyebabkan COVID-19 dinamakan sebagai SARS-CoV-2 dan merupakan jenis baru. 

Maka itu, para ahli awalnya tidak bisa mengidentifikasi jenis virus yang menyebabkan COVID-19. Akan tetapi, mereka tahu bahwa virus tersebut berasal dari coronavirus yang mirip dengan SARS dan MERS. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

381,910

Terkonfirmasi

305,100

Sembuh

13,077

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Berikut ini beberapa perbedaan yang bisa Anda kenali terkait COVID-19 dengan SARS.

1. Gejala yang ditimbulkan

gejala novel coronavirus

Salah satu perbedaan antara coronavirus COVID-19 dengan SARS yang cukup terlihat adalah gejala yang ditimbulkan. 

Walaupun gejala COVID-19 dengan SARS terlihat mirip dan sama-sama menyerang sistem pernapasan, keduanya ternyata mempunyai sedikit perbedaan. 

Menurut CDC, gejala umum yang dialami oleh pasien positif COVID-19 cukup mirip dengan penyakit lainnya, seperti:

  • demam lebih dari 38°C
  • batuk kering
  • sesak napas. 

Sementara itu, pasien yang menderita SARS mengalami gejala yang lebih bervariasi, seperti:

  • demam
  • batuk
  • badan terasa lemas dan nyeri
  • sakit kepala 
  • sesak napas
  • diare 

Sekilas memang terlihat sama, tetapi pada beberapa kasus terdapat pasien yang positif COVID-19 tanpa menunjukkan gejala apapun. Walaupun demikian, pasien yang seperti ini masih dapat menularkan virusnya kepada orang lain. 

Maka itu, coronavirus COVID-19 dan SARS dapat dibedakan melalui gejala yang memang terlihat mirip, tetapi sebenarnya berbeda. 

gejala dan komplikasi coronavirus

2. Tingkat keparahan

wabah coronavirus

Selain gejala, perbedaan lainnya yang cukup terlihat antara coronavirus COVID-19 dengan SARS adalah tingkat keparahan. Angka kasus COVID-19 memang jauh lebih tinggi dibandingkan SARS. 

Namun, diperkirakan bahwa terdapat 20% pasien COVID-19 yang perlu dirawat di rumah sakit dan sedikit beberapa diantara mereka membutuhkan alat bantu pernapasan, seperti ventilator. Hal ini karena kebanyakan pasien mengembangkan penyakit yang cukup serius akibat infeksi virus, seperti pneumonia. 

Sementara itu, SARS menyebabkan kondisi yang lebih parah secara umum dibandingkan COVID-19. Diperkirakan terdapat 20 sampai 30% pasien SARS yang membutuhkan ventilator selama perawatan. 

Walaupun demikian, perkiraan tingkat kematian COVID-19 akan bervariasi mengingat angkanya masih terus bertambah dan tergantung pada faktor lainnya. Mulai dari kondisi negara yang terinfeksi hingga karakteristik populasi. 

Vitamin Cegah COVID-19

Sampai saat ini persentase kematian COVID-19 diperkirakan antara 0.25 hingga 4 persen. Namun, jumlah pasien yang sembuh jauh lebih banyak dibandingkan pasien yang meninggal dunia, sehingga dapat dikatakan angka kematiannya lebih rendah dibandingkan SARS. 

Hal ini dikarenakan SARS disebut-sebut lebih mematikan dibandingkan coronavirus COVID-19 dengan persentase kematian sekitar 10 persen dari jumlah keseluruhan kasus. Selain itu, efek COVID-19 pada kelompok tertentu ternyata berbeda dibandingkan SARS. 

3. Penularan

lockdown kota karena COVID-19

Satu hal yang cukup membuat SARS dan coronavirus COVID-19 menjadi sangat berbeda adalah tingkat penularan. Berbeda dengan SARS, COVID-19 memiliki jumlah kasus yang cukup tinggi karena lebih mudah menginfeksi dari satu orang ke orang lainnya.

Hal ini mungkin dikarenakan jumlah virus pasien COVID-19 terdapat pada hidung dan tenggorokan tak lama setelah gejala muncul. 

Penularan ini cukup berbeda dengan SARS. Pada kasus SARS, jumlah virus akan terus bertambah banyak saat virus sudah ‘tinggal’ di dalam tubuh selama beberapa hari. 

Maka itu, penularan COVID-19 jauh lebih mudah karena ketika gejala awal baru saja terjadi, virus dapat menyebar ke orang lain lebih awal sebelum kondisi pasien memburuk. 

Bahkan, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa pasien positif COVID-19 dapat menularkan virus sebelum gejala muncul. Kasus yang seperti ini tidak ditemukan pada SARS, sehingga penularan COVID-19 jauh lebih cepat. 

4. Genom 

virus corona atau covid-19

Baru-baru ini terdapat sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet yang mengungkapkan informasi genetik lengkap (genom) SARS-CoV-2. SARS-CoV-2 merupakan sebutan virus yang menyebabkan COVID-19. 

Di dalam penelitian tersebut terlihat bahwa SARS-CoV-2 sangat terkait dengan coronavirus yang ada pada kelelawar ketimbang virus yang menyebabkan penyakit SARS. Hal ini membuktikan bahwa COVID-19 memiliki kesamaan genetik dengan virus SARS sebesar 79 persen. 

Satu hal yang perlu Anda ingat bahwa ketika virus memasuki sel, mereka perlu berinteraksi dengan protein pada permukaan sel, alias reseptor. Lalu, virus akan menyebar lewat protein pada permukaan tersebut. 

Pada saat virus ini dianalisis dengan coronavirus lainnya, hasilnya cukup menarik, yaitu SARS-CoV-2 lebih mirip dengan coronavirus yang ada pada kelelawar. 

Bagaimana Wabah Novel Coronavirus akan Berakhir?

5. Proses pengikatan virus

penanganan COVID-19 di Indonesia

Sebenarnya, sampai saat ini para ahli masih dalam proses penelitian untuk melihat bagaimana proses pengikatan coronavirus COVID-19 dan perbedaannya dengan SARS. Hasilnya cukup bervariasi karena penelitian ini dilakukan dengan protein, tidak dalam virus secara keseluruhannya. 

Menurut penelitian dari Cell, SARS-CoV-2 dengan SARS-CoV sebenarnya memakai reseptor sel inang yang sama. Kedua virus ini juga menggunakan protein virus yang dipakai untuk memasuki sel inang dan mengikat reseptor dengan keterikatan (afinitas)  yang sama. 

Akan tetapi, penelitian lainnya mencoba membandingkan area protein virus yang bertanggung jawab untuk mengikat reseptor sel inang. Peneliti melihat bahwa pengikatan SARS-CoV-2 berikatan dengan reseptor sel inang dengan afinitas lebih tinggi dibandingkan SARS. 

Intinya, apabila coronavirus COVID-19 memiliki afinitas lebih tinggi untuk reseptor sel inangnya, hal ini dapat menjelaskan mengapa COVID-19 lebih mudah menyebar dibandingkan SARS. 

6. Pengobatan

enularan COVID-19 toilet-19 di Indonesia

Sampai saat ini memang belum ada obat yang secara khusus dapat menyembuhkan coronavirus COVID-19 dan SARS. 

Tim dokter sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menggabungkan beberapa obat antivirus dengan obat lainnya agar pasien lebih sehat dan tubuh mampu melawan virus. Mulai dari lopinavir, ritonavir, hingga chloroquine dipakai untuk meringankan gejala pasien.

Sementara itu, pasien SARS sudah terbukti efektif dapat diobati dengan lopinavir, ritonavir, serta obat antivirus spektrum luas terbaru bernama remdesivir.

Terlebih lagi, pada pasien COVID-19 yang memerlukan ventilator, obat-obatan yang diberikan pun akan berbeda. Selain obat antivirus, pasien dengan kondisi seperti ini juga membutuhkan infus, oksigen, dan obat-obatan lainnya yang sesuai dengan gejala mereka. 

tes antibodi COVID-19

Maka itu, pasien COVID-19 perlu dirawat di rumah sakit atau melakukan karantina sendiri agar kondisinya dapat dipantau dan tidak memudahkan virus menginfeksi orang lain. 

Coronavirus COVID-19 dan SARS memang lebih banyak memiliki kesamaan. Namun, penting untuk mengetahui apa saja perbedaan yang dimiliki agar terlihat bahwa penyakit apa yang sebenarnya yang dialami. 

Jangan lupa untuk melakukan upaya mencegah penularan COVID-19 dengan menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh serta menjaga jarak dengan orang lain, alias physical distancing.

Mudik Saat Pandemi COVID-19 Berbahaya, Ini Sebabnya

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Kepadatan penduduk suatu kota dapat memengaruhi lama waktu pandemi COVID-19 berlangsung. Kota besar diprediksi bakal lebih lama mengalami pandemi, mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Di tengah pandemi COVID-19, China juga sedang diserang wabah lain dari infeksi norovirus yakni penyakit yang menyebabkan peradangan usus.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Berita Luar Negeri, Berita 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit