Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sebuah studi di Inggris melaporkan hubungan yang kuat antara jenis kelamin laki-laki dan risiko kematian akibat COVID-19. Laporan ini dibuat setelah dilakukan penelitian pada 17.000 orang dewasa yang tertular COVID-19. 

Dalam studi yang dilaporkan Catherine Gebhard dalam jurnal Biomedcentral: Biology of Sex Differences menulis sekitar 60% kematian akibat COVID-19 terjadi pada laki-laki.

Gebhard menjelaskan, berdasarkan data dari negara asal virus tersebut yaitu China, COVID-19 lebih mematikan bagi laki-laki yang terinfeksi daripada perempuan. Tingkat kematian pada laki-laki di China sebesar 2,8%, sedangkan pada perempuan berada di angka 1,7%.

Apa alasan dan risiko perburukan gejala COVID-19 pada laki-laki?

Faktor kekebalan tubuh atau kemampuan respons imun

respon imun laki-laki lebih lemah terhadap covid-19

Laki-laki lebih berisiko mengalami gejala buruk COVID-19 karena perbedaan repons kekebalan tubuh. Perbedaan kekuatan respons kekebalan tubuh ini juga terjadi pada beberapa penyakit lain. 

Faktor kekebalan tubuh memang seringkali berpengaruh cukup besar dalam setiap penyakit termasuk COVID-19. Antibodi pada tubuh perempuan secara konsisten merespons vaksin musiman dengan lebih kuat dibanding pada laki-laki. 

Perbedaan utama dalam kemampuan respons antibodi antara laki-laki dan perempuan terjadi selama fase awal infeksi SARS-CoV-2. Hal ini dijelaskan dalam studi yang dipublikasikan jurnal Nature. Salah satu tim peneliti, Takahashi Takehiro, menuliskan bahwa peradangan lebih besar terjadi lebih banyak pada pasien COVID-19 berjenis kelamin laki-laki.

Studi ini juga mengamati bagaimana perbedaan jenis kelamin memengaruhi kekuatan respons sitokin di mana laki-laki menunjukkan tingkat sitokin yang lebih tinggi. Tingkat sitokin yang tinggi bisa menyebabkan peradangan. Peradangan seperti ini pada dasarnya dapat berguna untuk membunuh patogen, tapi reaksi berlebih dapat menimbulkan demam lebih tinggi dan gejala buruk COVID-19 lainnya.

Dalam kasus COVID-19 yang parah, peradangan akibat kebanyakan sitokin dapat merusak paru-paru. Selama terjadi peradangan tersebut sistem imun melepas molekul yang bersifat racun bagi si virus tapi juga menjadi racun bagi jaringan paru-paru.

Akibatnya, terjadi penumpukan cairan di paru-paru dan mengurangi oksigen yang tersedia di tubuh untuk berfungsi normal. Ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan, syok, dan berpotensi kegagalan banyak organ.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

538,883

Terkonfirmasi

450,518

Sembuh

16,945

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Infeksi COVID-19 cenderung terjadi lebih lama pada laki-laki

laki-laki covid-19

Studi yang dilakukan Takehiro juga menemukan bahwa laki-laki memiliki jumlah sel T lebih rendah dibanding perempuan. Sel T atau limfosit T adalah sel darah putih yang memainkan salah satu peran utama dalam sistem kekebalan tubuh. Kekuatan sel T dapat membunuh virus yang masuk ke dalam tubuh seperti halnya antibodi.

Ketika Sel-T diaktifkan untuk merespons infeksi SARS-CoV-2, tubuh laki-laki dengan tingkat Sel-T yang rendah memungkinkan untuk menderita lebih parah.

Namun, dengan mengetahui informasi tersebut, dokter dapat membantu dan memperlakukan pasien laki-laki lebih serius agar dapat mencapai kesembuhan. Dengan risiko biologis bawaan yang lebih besar maka laki-laki perlu waspada tentang jarak sosial, mencuci tangan, dan mengenakan masker.

Kepatuhan yang lebih tinggi terhadap perlindungan pencegahan infeksi, terutama pada laki-laki dapat  mengurangi risiko infeksi. Selain itu juga mengurangi peningkatan risiko penyakit parah dan kematian akibat COVID-19.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit