Begini Cara Mengatur Perawatan Kanker Selama Wabah COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24/06/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sampai saat ini, pandemi coronavirus (COVID-19) telah menyebabkan lebih dari 337.000 kasus secara global dan menelan sekitar 14.600 korban jiwa. Peningkatan kasus dan pasien COVID-19 yang ada di rumah sakit di beberapa negara tentu  khawatir, terutama pasien kanker selama masa perawatan jalan.

Lantas, bagaimana mengatur perawatan kanker yang harus dijalani selama pandemi COVID-19?

Mengatur perawatan pasien kanker selama COVID-19

kesehatan jiwa pasien kanker

Virus COVID-19 memang berdampak cukup serius pada setiap aspek kehidupan masyarakat, termasuk sistem pelayanan kesehatan. Salah satu aspek yang cukup berpengaruh selama pandemi COVID-19 adalah perawatan pada pasien kanker. 

Orang yang menderita kanker terlihat lebih berisiko terinfeksi virus SARS-CoV-2 dibandingkan mereka yang tidak terkena kanker. Maka itu, beberapa lembaga dan pelayanan kesehatan mencoba lebih bersiap diri untuk mengelola wabah yang sudah menelan belasan ribu korban jiwa. 

Banyak dari mereka yang berbagi pengetahuan dalam mengelola sistem perawatan kanker selama pandemi ini berlangsung mengingat fokus dunia tertuju pada COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

135,123

Terkonfirmasi

89,618

Sembuh

6,021

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Menurut artikel dari Journal of the National Comprehensive Cancer Network, faktor terpenting dalam menjalani perawatan kanker selama wabah berlangsung adalah komunikasi terbuka. Baik antara staf rumah sakit, pasien, orang yang merawat, dan masyarakat umum. 

Lalu, dokter Anda mungkin akan meninjau kembali rencana perawatan kanker, termasuk risiko jika terdapat perubahan. Pada beberapa kasus hal ini akan membutuhkan diskusi tentang modifikasi rencana perawatan. 

Hal tersebut dikarenakan manfaat dan risiko perawatan tertentu mungkin akan memiliki pengaruh berbeda terkait risiko COVID-19. 

pengobatan kanker payudara

Umumnya, kebanyakan rumah sakit menggunakan layanan konsultasi via telepon sebagai cara agar pasien tidak lama menunggu di rumah sakit dan untuk mendapatkan nomor panggil. 

Dengan begitu, risiko penularan COVID-19 bisa dikurangi dan dapat menunggu dengan aman di rumah masing-masing. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait perawatan pasien kanker selama pandemi COVID-19.

  • Hindari kontak dengan orang yang menunjukkan gejala coronavirus
  • Memperhatikan gejala yang berkaitan, seperti demam atau batuk 
  • Mengurangi penggunaan transportasi umum atau tidak bepergian saat jam sibuk
  • bekerja dari rumah
  • menghindari keramaian, pertemuan besar, atau di ruang publik
  • tetap berkomunikasi dengan teman dan keluarga via telepon atau media sosial
  • menggunakan telepon atau layanan daring untuk menghubungi dokter

Kesimpulannya, baik masyarakat biasa maupun pasien kanker perlu menjalani social distancing, yaitu menjaga jarak dengan orang lain sekitar 1-2 meter untuk mengurangi risiko penularan. 

Risiko yang dihadapi pasien kanker terkait coronavirus

komplikasi kanker hati

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pasien kanker lebih berisiko terinfeksi coronavirus dibandingkan mereka yang tidak memiliki kanker. Terlebih lagi, ketika mereka sedang menjalani perawatan kanker selama wabah COVID-19, seperti:

  • sedang menjalani atau selesai menerima kemoterapi dalam tiga bulan terakhir
  • mendapatkan imunoterapi atau perawatan antibodi berkelanjutan untuk kanker
  • memiliki perawatan kanker yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh
  • menjalani radioterapi secara intensif untuk kanker paru-paru
  • melakukan transplantasi sumsum tulang atau sel induk dalam enam bulan terakhir
  • masih mengonsumsi atau menggunakan obat penekan kekebalan tubuh
  • pasien kanker darah atau sumsum tulang yang sedang dalam tahap pengobatan

Walaupun demikian, sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung perubahan perawatan atau kemoterapi yang diberhentikan pada pasien kanker.

Maka itu, sangat tidak dianjurkan untuk menghentikan imunosupresi atau terapi anti kanker secara rutin. Hal ini dikarenakan belum ada bukti dengan menunda atau menghentikan pengobatan dapat mengurangi risiko COVID-19. 

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Pilihan lain pengobatan kanker selama pandemi coronavirus

Sebenarnya, American Society of Clinical Oncology telah membuat beberapa pilihan perawatan kanker lain jika penularan virus semakin parah. Beberapa poin di bawah ini merupakan pertimbangan yang mungkin dapat didiskusikan dengan dokter terkait perawatan pasien kanker selama wabah COVID-19. 

  • menghentikan kemoterapi bagi pasien yang menerima terapi perawatan
  • mengganti kemoterapi dari IV ke terapi oral untuk beberapa pasien tertentu
  • memberikan jeda kemoterapi selama dua minggu jika terjadi penularan lokal 
  • mempertimbangkan kelayakan pemberian obat terapi di rumah

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan jika terapi ditunda hingga dihentikan, seperti jumlah siklus terapi yang telah selesai dan toleransi terapi terhadap pasien. Penting untuk mengingat bahwa mengubah terapi dapat berpengaruh terhadap risiko kanker kambuh.

Selama pandemi ini berlangsung, fokus pemerintah dan rumah sakit mungkin tertuju pada pasien dengan gejala terkait. Bahkan, peningkatan kasus di sebagian besar negara juga menimbulkan tantangan bagi dokter dan pasien kanker, seperti:

  • kekurangan staf karena risiko penyebaran
  • keterbatasan fasilitas, seperti tempat tidur, ventilasi, dan peralatan lainnya
  • larangan bepergian mengurangi akses donor internasional untuk transplantasi

Maka itu, jangan lupa berkonsultasi dengan dokter, baik tentang kondisi terkini hingga rencana perawatan kanker selama wabah COVID-19. 

Adakah kendala memperoleh obat-obatan untuk pasien kanker?

obat kemoterapi minum

Sebenarnya, sampai saat ini kekurangan obat untuk pasien kanker akibat wabah coronavirus belum terjadi, terutama di negara-negara maju. Beberapa negara sudah mempersiapkan diri menghadapi dampak penyebaran virus dengan memiliki stok obat generik, seperti parasetamol. 

Walaupun demikian, tidak ada salahnya untuk memperkaya diri dengan informasi terbaru terkait wabah penyakit ini dan pengobatan yang Anda jalani. 

Hal yang perlu Anda ingat terkait perawatan kanker selama pandemi COVID-19 adalah tidak perlu mengubah cara pemesanan resep atau minum obat selama tidak ada instruksi dari dokter. 

Jika pasien merasa khawatir dan membeli jumlah obat dalam jumlah yang berlebihan, hal itu justru akan berpengaruh ke pasien lainnya. Mereka mungkin tidak mendapatkan jatah obat-obatan dan produk medis yang dibutuhkan karena kekurangan obat akibat pembelian yang berlebihan. 

Perawatan pada pasien kanker selama pandemi COVID-19 harus selalu dengan instruksi dokter. Baik rencana pengobatan hingga frekuensi konsultasi ke rumah sakit.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pasien Kanker Selama Pandemi: Cegah COVID-19, Rawat Kankernya

Selama masa pandemi, pasien kanker harus menjalani pengobatannya sesuai yang dijadwalkan dokter dengan tetap memperhatikan pencegahan penularan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 07/08/2020 . Waktu baca 6 menit

Waspadai Hubungan Erat Sakit Jantung dan COVID-19 Selama Pandemi

COVID-19 dianggap sebagai penyakit pernapasan yang menyerang paru-paru, tapi bahayanya pada jantung juga sesuatu yang patut diwaspadai.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster-klaster Penularan COVID-19 Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Inilah Alasan Vaksin COVID-19 Sinovac Uji Klinis di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China akan diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Adakah alasan tertentu dalam pemilihan negara ini?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 04/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

suplemen lipi covid-19

LIPI Lakukan UJi Klinis Kandidat Suplemen Herbal COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 13/08/2020 . Waktu baca 4 menit
dampak covid-19 otak

COVID-19 Picu Kerusakan Saraf dan Otak Jangka Panjang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11/08/2020 . Waktu baca 4 menit
ibu terinfeksi covid-19 bisa menyusui langsung tidak asi perah

Ibu Positif COVID-19 Bisa Menyusui Tanpa Menularkan ke Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 08/08/2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 di transportasi umum kereta

Risiko Penularan COVID-19 di Kereta dan Pencegahannya

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 4 menit