Begini Cara Mengatur Perawatan Kanker Selama Wabah COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sampai saat ini, pandemi coronavirus (COVID-19) telah menyebabkan lebih dari 337.000 kasus secara global dan menelan sekitar 14.600 korban jiwa. Peningkatan kasus dan pasien COVID-19 yang ada di rumah sakit di beberapa negara tentu  khawatir, terutama pasien kanker selama masa perawatan jalan.

Lantas, bagaimana mengatur perawatan kanker yang harus dijalani selama pandemi COVID-19?

Mengatur perawatan pasien kanker selama COVID-19

kesehatan jiwa pasien kanker

Virus COVID-19 memang berdampak cukup serius pada setiap aspek kehidupan masyarakat, termasuk sistem pelayanan kesehatan. Salah satu aspek yang cukup berpengaruh selama pandemi COVID-19 adalah perawatan pada pasien kanker. 

Orang yang menderita kanker terlihat lebih berisiko terinfeksi virus SARS-CoV-2 dibandingkan mereka yang tidak terkena kanker. Maka itu, beberapa lembaga dan pelayanan kesehatan mencoba lebih bersiap diri untuk mengelola wabah yang sudah menelan belasan ribu korban jiwa. 

Banyak dari mereka yang berbagi pengetahuan dalam mengelola sistem perawatan kanker selama pandemi ini berlangsung mengingat fokus dunia tertuju pada COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

23,165

Terkonfirmasi

5,877

Sembuh

1,418

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Menurut artikel dari Journal of the National Comprehensive Cancer Network, faktor terpenting dalam menjalani perawatan kanker selama wabah berlangsung adalah komunikasi terbuka. Baik antara staf rumah sakit, pasien, orang yang merawat, dan masyarakat umum. 

Lalu, dokter Anda mungkin akan meninjau kembali rencana perawatan kanker, termasuk risiko jika terdapat perubahan. Pada beberapa kasus hal ini akan membutuhkan diskusi tentang modifikasi rencana perawatan. 

Hal tersebut dikarenakan manfaat dan risiko perawatan tertentu mungkin akan memiliki pengaruh berbeda terkait risiko COVID-19. 

pengobatan kanker payudara

Umumnya, kebanyakan rumah sakit menggunakan layanan konsultasi via telepon sebagai cara agar pasien tidak lama menunggu di rumah sakit dan untuk mendapatkan nomor panggil. 

Dengan begitu, risiko penularan COVID-19 bisa dikurangi dan dapat menunggu dengan aman di rumah masing-masing. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait perawatan pasien kanker selama pandemi COVID-19.

  • Hindari kontak dengan orang yang menunjukkan gejala coronavirus
  • Memperhatikan gejala yang berkaitan, seperti demam atau batuk 
  • Mengurangi penggunaan transportasi umum atau tidak bepergian saat jam sibuk
  • bekerja dari rumah
  • menghindari keramaian, pertemuan besar, atau di ruang publik
  • tetap berkomunikasi dengan teman dan keluarga via telepon atau media sosial
  • menggunakan telepon atau layanan daring untuk menghubungi dokter

Kesimpulannya, baik masyarakat biasa maupun pasien kanker perlu menjalani social distancing, yaitu menjaga jarak dengan orang lain sekitar 1-2 meter untuk mengurangi risiko penularan. 

Risiko yang dihadapi pasien kanker terkait coronavirus

komplikasi kanker hati

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pasien kanker lebih berisiko terinfeksi coronavirus dibandingkan mereka yang tidak memiliki kanker. Terlebih lagi, ketika mereka sedang menjalani perawatan kanker selama wabah COVID-19, seperti:

  • sedang menjalani atau selesai menerima kemoterapi dalam tiga bulan terakhir
  • mendapatkan imunoterapi atau perawatan antibodi berkelanjutan untuk kanker
  • memiliki perawatan kanker yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh
  • menjalani radioterapi secara intensif untuk kanker paru-paru
  • melakukan transplantasi sumsum tulang atau sel induk dalam enam bulan terakhir
  • masih mengonsumsi atau menggunakan obat penekan kekebalan tubuh
  • pasien kanker darah atau sumsum tulang yang sedang dalam tahap pengobatan

Walaupun demikian, sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung perubahan perawatan atau kemoterapi yang diberhentikan pada pasien kanker.

Maka itu, sangat tidak dianjurkan untuk menghentikan imunosupresi atau terapi anti kanker secara rutin. Hal ini dikarenakan belum ada bukti dengan menunda atau menghentikan pengobatan dapat mengurangi risiko COVID-19. 

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Pilihan lain pengobatan kanker selama pandemi coronavirus

Sebenarnya, American Society of Clinical Oncology telah membuat beberapa pilihan perawatan kanker lain jika penularan virus semakin parah. Beberapa poin di bawah ini merupakan pertimbangan yang mungkin dapat didiskusikan dengan dokter terkait perawatan pasien kanker selama wabah COVID-19. 

  • menghentikan kemoterapi bagi pasien yang menerima terapi perawatan
  • mengganti kemoterapi dari IV ke terapi oral untuk beberapa pasien tertentu
  • memberikan jeda kemoterapi selama dua minggu jika terjadi penularan lokal 
  • mempertimbangkan kelayakan pemberian obat terapi di rumah

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan jika terapi ditunda hingga dihentikan, seperti jumlah siklus terapi yang telah selesai dan toleransi terapi terhadap pasien. Penting untuk mengingat bahwa mengubah terapi dapat berpengaruh terhadap risiko kanker kambuh.

Selama pandemi ini berlangsung, fokus pemerintah dan rumah sakit mungkin tertuju pada pasien dengan gejala terkait. Bahkan, peningkatan kasus di sebagian besar negara juga menimbulkan tantangan bagi dokter dan pasien kanker, seperti:

  • kekurangan staf karena risiko penyebaran
  • keterbatasan fasilitas, seperti tempat tidur, ventilasi, dan peralatan lainnya
  • larangan bepergian mengurangi akses donor internasional untuk transplantasi

Maka itu, jangan lupa berkonsultasi dengan dokter, baik tentang kondisi terkini hingga rencana perawatan kanker selama wabah COVID-19. 

Adakah kendala memperoleh obat-obatan untuk pasien kanker?

obat kemoterapi minum

Sebenarnya, sampai saat ini kekurangan obat untuk pasien kanker akibat wabah coronavirus belum terjadi, terutama di negara-negara maju. Beberapa negara sudah mempersiapkan diri menghadapi dampak penyebaran virus dengan memiliki stok obat generik, seperti parasetamol. 

Walaupun demikian, tidak ada salahnya untuk memperkaya diri dengan informasi terbaru terkait wabah penyakit ini dan pengobatan yang Anda jalani. 

Hal yang perlu Anda ingat terkait perawatan kanker selama pandemi COVID-19 adalah tidak perlu mengubah cara pemesanan resep atau minum obat selama tidak ada instruksi dari dokter. 

Jika pasien merasa khawatir dan membeli jumlah obat dalam jumlah yang berlebihan, hal itu justru akan berpengaruh ke pasien lainnya. Mereka mungkin tidak mendapatkan jatah obat-obatan dan produk medis yang dibutuhkan karena kekurangan obat akibat pembelian yang berlebihan. 

Perawatan pada pasien kanker selama pandemi COVID-19 harus selalu dengan instruksi dokter. Baik rencana pengobatan hingga frekuensi konsultasi ke rumah sakit.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 22/05/2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 21/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit kawasaki covid-19 anak

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
minum alkohol membunuh coronavirus

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020
dampak pandemi mental remaja

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020