Studi: 1 dari 10 Pasien COVID-19 dengan Diabetes Berisiko Meninggal Dunia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Diabetes adalah salah satu kondisi medis yang bisa meningkatkan risiko komplikasi dan kematian pada pasien COVID-19. Sebuah studi terbaru di Prancis bahkan menyebut bahwa satu dari sepuluh pasien COVID-19 penderita diabetes meninggal dalam tujuh hari pertama sejak dirawat di rumah sakit.

Risiko kematian akibat COVID-19 pada pasien diabetes

faktor risiko diabetes gestasional

Beberapa peneliti di Prancis mengamati lebih dari 1.300 pasien COVID-19 yang tersebar di 53 rumah sakit pada rentang waktu tanggal 10-31 Maret. Pasien terdiri dari 89 persen pengidap diabetes tipe 2, 3 persen pengidap diabetes tipe 1, dan sisanya penderita diabetes tipe lain.

Sebagian besar pasien dalam penelitian ini berjenis kelamin laki-laki dengan usia rata-rata 70 tahun. Faktor usia dan jenis kelamin juga diteliti karena studi terdahulu menemukan kaitannya dengan komplikasi berat dan kematian pada pasien COVID-19.

Pada hari ketujuh rawat inap, sekitar 29 persen pasien akhirnya menggunakan ventilator atau meninggal dunia. Secara keseluruhan, jumlah pasien COVID-19 penderita diabetes yang meninggal dunia adalah satu banding sepuluh.

Angka kematian pada pasien yang menggunakan ventilator lebih tinggi lagi. Sebanyak satu dari lima pasien dengan ventilator meninggal dunia dalam waktu tujuh hari rawat inap. Pada akhir penelitian, sebanyak 18 persen pasien dinyatakan sembuh.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

278,722

Terkonfirmasi

206,870

Sembuh

10,473

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Peneliti menduga bahwa kematian pasien bukan akibat gula darah yang tak terkontrol, melainkan komplikasi diabetes. Pada penelitian ini, sebanyak 47 persen pasien mengalami komplikasi mata, ginjal, atau saraf. Sementara 41 persen menderita komplikasi jantung, otak, dan kaki.

Usia pun turut berpengaruh besar. Menurut para peneliti, risiko kematian pasien berusia 65-74 tahun 3 kali lebih besar dibandingkan pasien 55 tahun ke bawah. Pada pasien berusia 75 tahun, risikonya bertambah menjadi 14 kali lipat.

Pasien COVID-19 penderita diabetes juga lebih berisiko meninggal dunia bila mengidap apnea (henti napas mendadak) saat tidur, sesak napas, dan mengalami obesitas. Ada pula dugaan bahwa jenis kelamin laki-laki menambah risikonya.

Dari semua faktor tersebut, kondisi yang paling berpengaruh dalam meningkatkan risiko kematian yakni diabetes, usia lanjut, dan obesitas. Peneliti pun menekankan pentingnya kontrol gula darah dan berat badan untuk mencegah timbulnya komplikasi COVID-19.

Hubungan diabetes dan COVID-19

Penyakit diabetes tidak membuat Anda lebih rentan terjangkit COVID-19. Seperti orang pada umumnya, Anda bisa tertular apabila menghirup droplet atau menyentuh barang yang terkena virus. Inilah pentingnya menerapkan physical distancing dan menjaga kebersihan diri.

Jika Anda menderita diabetes, yang perlu Anda waspadai adalah komplikasinya. Orang lain mungkin bisa sembuh dari COVID-19 dengan karantina di rumah, tapi komplikasi diabetes membuat COVID-19 jadi lebih berbahaya.

Diabetes yang tidak terkontrol dapat memperparah gejala COVID-19. Penyakit ini juga membuat Anda lebih gampang sakit dan kelelahan. Ini sebabnya pasien COVID-19 yang menderita diabetes lebih banyak masuk rumah sakit.

Selain itu, gula darah yang tidak terkendali juga dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh. Apabila fungsi kekebalan menurun, tubuh akan lebih kesulitan melawan infeksi. Coronavirus bisa bertahan lebih lama dalam tubuh dan menimbulkan gejala parah.

droplet covid-19

Tips sehat bagi penderita diabetes selama pandemi

Diabetes adalah salah satu penyakit dengan jumlah penderita terbanyak. Maka dari itu, tingginya angka penderita diabetes yang meninggal akibat COVID-19 tentu memicu kekhawatiran bagi banyak orang.

Anda bisa tetap sehat selama pandemi dengan mengikuti langkah-langkah yang dapat Anda lakukan sebagai berikut.

1. Minum obat sesuai aturan

Obat-obatan dan insulin akan membantu Anda mengontrol gula darah. Selalu minum obat Anda sesuai aturan dokter. Jika ada masalah dengan pengobatan Anda, segera konsultasikan dengan dokter untuk menemukan solusinya.

2. Makan makanan sehat

Catat apa saja yang boleh dan tidak boleh Anda konsumsi. Perbanyak makan sayur dan buah, serta ikuti pula porsi makan yang sudah Anda konsultasikan dengan dokter.

3. Beraktivitas fisik

Aktivitas fisik amat penting dalam pengelolaan diabetes. Coba lakukan aktivitas ringan seperti senam, yoga, atau beres-beres rumah setidaknya 30 menit sehari. Olahraga dilakukan 3-5 kali/minggu. Jika aktivitas tertentu membuat badan Anda tidak enak, gantilah dengan yang lebih ringan.

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

4. Mencegah penularan penyakit

Tetaplah di rumah dan hindari kontak dekat dengan orang yang sakit. Jika harus keluar rumah, kenakan masker dan jaga jarak aman dari orang lain. Biasakan mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer bila tidak tersedia.

Penyakit diabetes berdampak pada tiap sistem dalam tubuh. Jika tidak dikelola dengan baik, penderitanya dapat mengalami komplikasi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, hingga kerusakan saraf.

Komplikasi ini membuat dampak COVID-19 kian parah sehingga meningkatkan risiko penderita diabetes meninggal dunia. Anda dapat mengantisipasinya dengan mengontrol gula darah, meminum obat secara teratur, dan melakukan pencegahan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit