Coronavirus pada Sperma, Bisakah Menular Lewat Hubungan Seks?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Para peneliti di Tiongkok mendapatkan temuan baru terkait COVID-19. Mereka menemukan coronavirus pada sampel sperma pria yang positif terjangkit COVID-19. Temuan ini tentu menuai tanda tanya. Mungkinkah COVID-19 menular melalui hubungan seksual?

Setelah memasuki tubuh, SARS-CoV-2 diketahui dapat menyebar hingga ke paru-paru, ginjal, dan saluran pencernaan. Belum ada dugaan bahwa coronavirus dapat ditemukan pada sperma, meskipun bukan berarti mustahil. Lantas, bagaimana cara SARS-CoV-2 memasuki sistem reproduksi dan apa pengaruhnya bagi tubuh?

Kata peneliti tentang coronavirus pada sperma pasien

Sumber: Fertility Center of San Antonio

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 38 pasien di Shangqiu, Tiongkok, yang sedang menjalani pengobatan COVID-19. Sebanyak 15 pasien diambil sampel spermanya saat masih menunjukkan gejala COVID-19, sedangkan sampel lainnya diambil dari 23 pasien yang baru pulih.

Sampel sperma kemudian diteliti untuk mendeteksi keberadaan SARS-CoV-2. Hasilnya, sebanyak enam sampel mengandung bahan genetik yang menyusun virus bermahkota tersebut. Jumlah ini setara dengan 16% dari total peserta penelitian.

Bila diuraikan, empat sampel berasal dari 15 pasien yang sakit, sedangkan dua sampel berasal dari 23 pasien yang baru pulih. Belum dipastikan apakah perbedaan angka ini berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien saat pengambilan sampel.

Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya di Wuhan, Tiongkok. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 12 pasien yang baru saja pulih, berbeda dengan penelitian terbaru yang lebih berfokus pada pasien dengan gejala berat.

Mereka saat itu juga menemukan bahan genetik penyusun coronavirus pada beberapa sampel sperma pasien. Perbedaan hasil dengan penelitian di Shangqiu mungkin ada kaitannya dengan tingkat keparahan penyakit dan waktu pengambilan sampel.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

207,203

Terkonfirmasi

147,510

Sembuh

8,456

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Bagaimana SARS-CoV-2 bisa berada di sperma?

motilitas sperma

Testis, plasenta, dan sistem saraf pusat adalah contoh tempat pada tubuh yang dikenal sebagai immunoprivileged sites. Tempat-tempat ini mampu menyesuaikan diri dengan zat asing yang masuk ke tubuh tanpa memanggil sistem imun.

Ketika SARS-CoV-2 menginfeksi paru-paru, sel paru-paru dan sistem imun di dalamnya akan merespons dengan memanggil lebih banyak sel darah putih. Sel darah putih dapat membunuh virus, tapi proses ini juga memicu peradangan dan kerusakan jaringan paru.

Tempat-tempat yang termasuk immunoprivileged sites sedikit berbeda karena mereka terlindung dari peradangan dan kerusakan. Namun, virus kadang diuntungkan oleh hal ini. Bukannya hancur, SARS-CoV-2 justru bertahan dan ikut terlindung di dalamnya.

Penemuan virus pada immunoprivileged sites, sebenarnya bukan baru kali ini terjadi. Virus Ebola sebelumnya pernah ditemukan pada sperma pasien yang berhasil sembuh. Coronavirus dari tipe lain juga pernah terdeteksi pada sperma pasien yang terinfeksi.

gejala dan komplikasi coronavirus

Para peneliti belum sepenuhnya paham bagaimana SARS-CoV-2 dapat bertahan pada sperma. Mereka juga belum dapat menyimpulkan pengaruhnya pada kesehatan pasien maupun pengobatan. Pasalnya, hasil penelitian tentang topik ini masih amat beragam.

Salah satunya dilaporkan dalam penelitian pada jurnal Fertility and Sterility. Penelitian ini berfokus pada pasien yang sudah pulih selama hampir sebulan. Di antara 34 pria yang diteliti, tidak ada satu pun yang sampel spermanya mengandung coronavirus.

Bisakah COVID-19 menular lewat hubungan seksual?

kentut vagina

Temuan terkait coronavirus pada sperma pasien tentu menimbulkan kecemasan bagi sebagian orang. Terlebih lagi karena bahan genetik virus masih bisa dideteksi setelah pasien pulih dari COVID-19. Namun, Anda tidak perlu cemas akan hal ini.

Walaupun peneliti menemukan virus pada sperma, yang mereka temukan sebenarnya adalah bahan genetik penyusun virus, bukan SARS-CoV-2 dalam bentuk virus utuh. Bahan genetik tersebut tidak memiliki kemampuan menginfeksi seperti halnya virus.

COVID-19 memang dapat menular saat Anda berhubungan seksual, tapi penularannya kemungkinan besar bukan melalui sperma. Penularan terjadi karena Anda melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Ketika terjadi kontak dekat, Anda bisa saja menghirup droplet (percikan air liur) mengandung virus atau menyentuh sesuatu yang terkontaminasi virus. Virus kemudian masuk ke dalam tubuh saat Anda menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan.

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Masih banyak yang belum kita ketahui tentang COVID-19 dan virus penyebabnya, SARS-CoV-2. Meskipun terkesan tidak lazim, coronavirus yang ditemukan pada sperma pasien mungkin dapat menjadi petunjuk bagi para ilmuwan yang meneliti COVID-19.

Masyarakat setidaknya bisa sedikit tenang karena COVID-19 belum terbukti menular melalui hubungan seks. Penularan utama tetaplah melalui droplet, dan Anda dapat melindungi diri dengan cara mencuci tangan serta menerapkan physicial distancing.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Pria 33 tahun yang tertular COVID-19 dua kali setelah dinyatakan sembuh pada akhir Maret. Apakah kekebalan terhadap infeksi kedua tidak terbentuk?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Amerika Izinkan Perawatan COVID-19 dengan Plasma Darah Pasien Sembuh, Apa itu?

Plasma darah pasien sembuh dipercaya mampu menjadi terapi untuk menangani pasien COVID-19. Meski begitu keefektifannya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Melawan COVID-19: Jangan Ada Lagi Tenaga Medis yang Gugur

Penyebaran COVID-19 belum bisa dihentikan, ratusan nyawa tidak berhasil diselamatkan, termasuk para dokter dan tenaga medis yang melawan di garis depan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 2 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Risiko Penularan COVID-19 di Bioskop

Penularan COVID-19 di bioskop bisa terjadi dari banyak jalur penularan, mulai dari cipratan langsung droplet, sentuhan dengan permukaan, hingga airborne.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 1 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

uji coba vaksin covid-19

Perkembangan Terakhir Sejumlah Calon Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 7 menit
anak covid-19 peradangan multisistem

Sindrom Peradangan Multisistem, Gejala COVID-19 Berbahaya pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Polusi dapat Meningkatkan Risiko Gejala Berat COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit
gejala covid-19 dan dampak jangka panjang

Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 Berbahaya yang Datang Diam-diam

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 7 September 2020 . Waktu baca 4 menit