Infeksi Coronavirus dan Paramyxovirus, Apa Bedanya?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Topik mengenai paramyxovirus sempat melejit di tengah ramainya berita tentang wabah COVID-19 yang kini merebak di berbagai negara. Usut punya usut, paramyxovirus dan coronavirus penyebab COVID-19 adalah dua jenis virus yang sama-sama menyerang sistem pernapasan manusia.

Selain itu, coronavirus dan paramyxovirus memiliki kemiripan bentuk dan karakteristik. Kedua virus ini juga dibawa oleh kelelawar serta dapat berpindah spesies ke manusia. Lantas, apakah keduanya sama-sama berbahaya, dan apa saja penyakit yang ditimbulkannya pada manusia?

Perbedaan coronavirus dan paramyxovirus

novel coronavirus menyebabkan pneumonia

Keterkaitan antara coronavirus dan paramyxovirus berawal ketika wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) terjadi tahun 2003 lalu. Para peneliti saat itu mencurigai tiga jenis virus yang mungkin menjadi penyebabnya, yakni paramyxovirus, coronavirus, serta metapneumovirus.

SARS adalah penyakit pada sistem pernapasan yang bisa mengakibatkan sesak napas parah, pneumonia, hingga kematian. Setelah investigasi lebih lanjut, akhirnya diketahui bahwa SARS disebabkan oleh coronavirus baru dengan tipe SARS-CoV.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

27,549

Terkonfirmasi

7,935

Sembuh

1,663

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Wabah COVID-19 juga disebabkan oleh coronavirus, tapi tipenya berbeda dan nama resminya adalah SARS-CoV-2. Coronavirus dari tipe SARS-CoV-2 dan paramyxovirus sama-sama dapat menyerang sistem pernapasan, tetapi keduanya memiliki beberapa perbedaan. Berikut di antaranya:

1. Struktur virus

Nama coronavirus berasal dari bahasa Latin ‘corona’ yang berarti mahkota. Pasalnya, coronavirus memiliki bentuk bulat atau tidak beraturan dengan banyak molekul protein yang membentuk semacam mahkota pada permukaannya. Mahkota inilah yang membuat coronavirus dapat menginfeksi sel inang dan memperbanyak diri.

Paramyxovirus mempunyai bentuk yang lebih tidak beraturan, tetapi virus ini terkadang juga dijumpai dalam bentuk hampir bulat. Permukaannya dipenuhi dengan molekul gula dan protein, hanya saja bentuknya tidak menyerupai mahkota seperti coronavirus.

Coronavirus dan paramyxovirus sama-sama memiliki susunan kode genetik berbentuk rantai tunggal yang disebut RNA. RNA keduanya tersimpan dalam pusat virus dan akan keluar begitu virus menempel pada sel inang untuk memperbanyak diri.

2. Penyakit yang ditimbulkan

Coronavirus menimbulkan sejumlah penyakit pada sistem pernapasan, dari pilek dan flu hingga penyakit yang parah dan bisa menyebabkan kematian. Penyakit parah tersebut antara lain SARS, Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan COVID-19.

Paramyxovirus juga menyerang sistem pernapasan seperti coronavirus, tapi gejala dan penyakit yang ditimbulkannya lebih beragam. Infeksi paramyxovirus bisa menyebabkan pneumonia, bronkiolitis, campak, dan gondong. Pada beberapa kasus, paramyxovirus juga bisa menyerang otak.

3. Gejala infeksi

mengatasi batuk berdahak

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan beberapa gejala yang dialami oleh pasien positif terinfeksi coronavirus. Mereka umumnya mengalami demam tinggi, batuk, dan sesak napas yang bervariasi dari ringan hingga parah. Gejala dapat berlangsung selama 2-14 hari.

Infeksi paramyxovirus pada saluran pernapasan juga memiliki gejala yang mirip dengan COVID-19. Selain demam dan batuk, penyakit ini turut menyebabkan hidung mampet, nyeri dada, sakit tenggorokan, dan sejumlah gejala lainnya.

Pada penyakit gondong, pasien akan mengalami gejala berupa rasa lelah, penurunan nafsu makan, dan pembengkakan kelenjar di leher. Sementara pada penyakit campak, akan tampak gejala gangguan pernapasan disertai bercak kemerahan pada tubuh.

gejala dan komplikasi coronavirus

4. Penanganan

Sejauh ini, tidak ada metode standar untuk mengobati pasien terinfeksi coronavirus dan paramyxovirus. Perawatan ditujukan untuk meringankan gejala dan mengoptimalkan kondisi pasien sehingga sistem kekebalan tubuh pasien dapat melawan virus.

Salah satu tipe paramyxovirus, yakni henipavirus, dapat ditangani dengan obat antivirus yang disebut ribavirin. Risiko penyakit campak dan gondong kini juga sangat rendah berkat adanya imunisasi.

Sementara itu, belum ditemukan obat ataupun vaksin untuk COVID-19. Para peneliti kini tengah mempelajari obat HIV, antivirus berupa remdesivir, serta obat antimalaria untuk mengatasi COVID-19. Namun, pencarian obat dan vaksin COVID-19 tampaknya masih akan memakan banyak waktu.

Bahaya Menggunakan Cairan Antiseptik pada Diffuser

Jumlah kasus COVID-19 hingga Senin (24/2) telah menyentuh angka 79.561 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11.569 pasien berada dalam kondisi serius, 25.076 pasien telah pulih, dan 2.619 pasien dilaporkan telah meninggal dunia.

Coronavirus dan paramyxovirus sama-sama dapat menginfeksi saluran pernapasan manusia serta menyebabkan sejumlah penyakit. Kendati demikian, keduanya memicu jenis penyakit yang berbeda dan perlu ditangani dengan cara yang berbeda pula.

Guna mencegah infeksi virus secara umum, pastikan Anda mencuci tangan secara rutin dan mengenakan masker yang tepat. Sedapat mungkin, hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit ataupun hewan penyebar virus.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Selain mendeteksi keberadaan COVID-19 di tubuh, antibodi dapat digunakan untuk melawan virus terutama pasien yang pulih dari SARS. Apa hubungan keduanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 28/05/2020

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bagaimana Sesi Konseling Bersama Psikolog dan Psikiater Selama Pandemi

Bagaimana Sesi Konseling Bersama Psikolog dan Psikiater Selama Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
potong rambut salon covid-19

Potong Rambut di Salon Saat COVID-19 Ada Aturannya, Lho!

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
makan di luar rumah saat pandemi

Amankah Makan di Luar Rumah di Tengah Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020