Cara Mendiagnosis COVID-19 pada Tubuh Manusia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 April 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Tidak hanya diagnosis covid-19, baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejak kemunculannya pada akhir 2019, COVID-19 telah menginfeksi lebih dari satu juta orang di sejumlah negara. Tenaga medis pun perlu berupaya ekstra agar tidak salah menentukan diagnosis, sebab COVID-19 memiliki gejala yang mirip dengan gangguan pernapasan pada umumnya.

World Health Organization (WHO) mengimbau setiap kalangan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dalam bentuk apa pun. Gejala merupakan petunjuk utama dalam diagnosis COVID-19 yang kini telah ditetapkan sebagai pandemi.

Mengenal gejala sebelum diagnosis COVID-19

mudah tertular flu

Virus penyebab COVID-19, SARS-CoV-2, termasuk dalam kelompok besar coronavirus yang menyerang saluran pernapasan manusia dan binatang. Pada manusia, virus ini bisa menyebabkan gangguan pernapasan ringan hingga berat.

Gangguan pernapasan ringan akibat coronavirus biasanya berupa pilek biasa atau flu. Diagnosis terhadap kedua penyakit tersebut biasanya lebih mudah, tidak seperti COVID-19 yang baru-baru ini ditemukan.

Sejauh ini, ilmuwan telah menemukan enam tipe coronavirus yang menginfeksi manusia. Dua di antaranya adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

SARS-CoV-2 adalah tipe virus terbaru sekaligus ketujuh yang ditemukan. Gejala infeksi SARS-CoV-2 mirip dengan penyakit SARS dan MERS, tapi dampak virus ini sangat tergantung pada kondisi tubuh pasien.

Sebelum melakukan diagnosis terhadap COVID-19, pasien dan tenaga kesehatan perlu mengenali gejalanya terlebih dahulu. Secara umum, infeksi coronavirus menimbulkan gejala berupa:

  • demam tinggi
  • batuk
  • hidung meler
  • sakit tenggorokan
  • sakit kepala
  • tidak enak badan
Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

538,883

Terkonfirmasi

450,518

Sembuh

16,945

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Selain gejala tersebut, COVID-19 juga menimbulkan gejala khas berupa sesak napas. Ketika pasien diperiksa dengan rontgen dada, terdapat bercak pada paru-paru yang mirip dengan pneumonia.

Pasien yang telah mendapat diagnosis COVID-19 juga menunjukkan tingkat keparahan yang beragam. Beberapa pasien tampak mengalami sakit ringan seperti halnya penderita pilek, tapi ada pula yang menderita gejala parah hingga kritis.

Gejala yang umum tersebut membuat tenaga medis kesulitan dalam mengenali orang yang terinfeksi. Sebagai solusinya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerbitkan kriteria pasien yang perlu diinvestigasi serta prosedur diagnosisnya.

Haruskah Anda mengikuti tes diagnosis?

komix

Tes diagnosis awalnya ditujukan bagi orang yang mengalami gejala gangguan pernapasan atau pernah bepergian ke wilayah terdampak wabah. Mengingat tingginya risiko penularan di lokasi tes dan terbatasnya alat, tes diagnosis kini diprioritaskan bagi kelompok berikut:

1. Kelompok A

Kelompok ini terdiri dari Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang baru pulang dari zona merah, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) beserta keluarganya, dan tenaga kesehatan yang terpapar pasien selama perawatan.

2. Kelompok B

Kelompok ini berisikan orang-orang yang harus berinteraksi dengan orang banyak karena tuntutan pekerjaan. Mereka rawan tertular sehingga disarankan menjalani rapid test untuk diagnosis awal.

3. Kelompok C

Kelompok ini terdiri atas masyarakat yang tidak termasuk kelompok A ataupun B, tapi menunjukkan gejala mirip COVID-19.

Metode diagnosis COVID-19

Alur diagnosis COVID-19 terdiri dari dua tahap. Tahap pertama yakni rapid test sebagai metode deteksi awal, sedangkan tahap selanjutnya adalah tes polymerase chain reaction (PCR) dengan menggunakan sampel cairan tubuh pasien.

Berikut tahap-tahapnya:

1. Rapid test

Ini adalah metode skrining awal untuk mengetahui keberadaan antibodi dalam tubuh yang digunakan untuk melawan virus penyebab COVID-19. Petugas akan mengambil sampel darah dari jari pasien, lalu diteteskan ke alat.

Sampel darah pada alat rapid test lalu ditetesi kembali dengan cairan untuk mendeteksi antibodi. Setelah 10-15 menit, akan muncul hasil berupa garis pada alat tersebut. Jika hasilnya positif, artinya pasien pernah terpapar virus dan saat ini sedang terinfeksi.

Meski cepat, rapid test rentan memberikan hasil negatif. Ini disebabkan karena antibodi baru terbentuk setelah 6-7 hari sejak terpapar virus. Maka dari itu, pasien negatif perlu menjalani rapid test kedua pada 7-10 setelah tes pertama.

2. Real time polymerase chain reaction (RT-PCR)

RT-PCR merupakan tes diagnosis COVID-19 yang lebih akurat dari rapid test. Tes ini dilakukan dengan mempelajari susunan genetika virus dalam laboratorium untuk mengetahui keberadaan virus dalam tubuh. 

Pertama-tama, petugas kesehatan akan mengambil sampel air liur serta cairan dari tenggorokan dan saluran pernapasan bawah. Sampel kemudian disimpan terlebih dulu dalam suhu dingin sebelum diperiksa.

Setelah sampel tiba di laboratorium, para peneliti akan mengeluarkan asam nukleat yang menyimpan genom virus. Mereka lalu memperkuat bagian genom yang hendak diteliti dengan teknik reverse transcription polymerase chain reaction.

Teknik tersebut membuat sampel virus menjadi lebih besar sehingga bisa dibandingkan dengan susunan genetik SARS-CoV-2. Ada 100 asam nukleat dan dua gen yang diteliti dari virus ini. Jika sampel virus pasien memiliki dua gen tersebut, hasil tes dinyatakan positif.

Jika hasil diagnosis menunjukkan infeksi COVID-19

perawatan tubuh pasien kanker

Jangan panik apabila hasil tes Anda positif. Pasien positif mempunyai tiga kemungkinan, yaitu:

  • Tetap sehat tanpa gejala apa pun
  • Sakit ringan yang ditandai dengan demam ringan atau batuk serta masih mampu beraktivitas
  • Sakit berat yang ditandai dengan demam tinggi, sesak napas, tidak bisa beraktivitas, serta menderita penyakit lain

Sebagian besar pasien COVID-19 mengalami sakit ringan atau tanpa gejala sama sekali. Pasien dengan kondisi ini disarankan untuk menjalani isolasi di rumah selama 14 hari. Jangan keluar rumah kecuali untuk pergi ke rumah sakit.

COVID-19 Menyebar Lewat Droplet Bukan Udara, Ini Penjelasannya

Usahakan Anda tidur di kamar terpisah selama menjalani isolasi. Gunakan kamar mandi terpisah apabila memungkinkan. Hindari kontak dengan anggota keluarga yang lain serta jangan berbagi alat makan dan peralatan pribadi.

Jaga jarak aman bila harus berada satu ruangan dengan anggota keluarga yang lain. Gunakan masker dan tutup mulut Anda dengan tisu saat batuk atau bersin. Jika tidak ada tisu, gunakan lengan baju untuk menutup mulut dan hidung Anda.

Cuci tangan Anda secara rutin menggunakan air dan sabun. Bersihkan pula permukaan barang yang sering Anda gunakan. Apabila gejala memburuk, segera periksakan diri Anda ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan penanganan.

Proses diagnosis mungkin tidak hanya menunjukkan infeksi COVID-19, tapi juga penyakit lain. Pada kondisi seperti ini, tenaga kesehatan yang berwenang juga akan memberikan pengobatan tambahan untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit