Mengapa Angka Kematian Akibat COVID-19 di Italia Sangat Tinggi?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/04/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Angka kasus dan kematian akibat COVID-19 di Italia terus bertambah besar. Setelah mencapai 12.462 kasus dan 827 kematian pada Rabu (11/3), angka tersebut melonjak menjadi 15.113 kasus dan 1.016 hanya dalam waktu sehari. Angka tersebut menjadikan Italia sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak kedua setelah Tiongkok.

Terdapat beberapa faktor yang menjadi pemicu tingginya kasus dan kematian akibat COVID-19 di Italia. Faktor-faktor ini disinyalir berkaitan dengan usia rata-rata pasien, kondisi kesehatan pasien secara umum, serta upaya pencegahan yang telah dilakukan. Simak ulasan berikut untuk mengetahui informasi selengkapnya.

Mengulik tingginya angka kematian akibat COVID-19 di Italia

kasus COVID-19 di Indonesia

Kasus COVID-19 pertama di Italia muncul pada 15 Februari lalu. Jumlah pasien COVID-19 di Italia saat itu hanya tiga orang, dan angka ini tetap stabil selama empat hari. Berselang satu bulan, jumlah pasien yang tadinya bisa dihitung dengan jari melambung menjadi ribuan.

Italia kini menjadi negara dengan angka kasus dan kematian akibat COVID-19 paling banyak kedua di dunia. Persentase kematiannya pun mencapai 5 persen, lebih tinggi dibandingkan persentase kematian rata-rata dunia yang hanya sebesar 3,4 persen.

Sebanyak 12.839 pasien di Italia dilaporkan sebagai kasus aktif. Dari seluruh kasus aktif tersebut, sebanyak 11.686 pasien diketahui mengalami keluhan ringan dan 1.153 pasien berada dalam kondisi serius, sebagaimana dilansir dari data Worldometers.

Sementara itu, sebanyak 1.258 pasien dinyatakan pulih atau dipulangkan dari rumah sakit, sedangkan 1.016 pasien dilaporkan meninggal dunia. Dari seluruh angka kematian global yang mencapai 4.984 orang, sekitar 20 persennya berasal dari Italia saja.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

80,094

Terkonfirmasi

39,050

Sembuh

3,797

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Hal ini menunjukkan bahwa angka kematian akibat COVID-19 di Italia jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain. Berdasarkan pengamatan dari beberapa sumber, berikut faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebabnya:

1. Banyak penduduk Italia adalah lansia

Italia mempunyai populasi penduduk lanjut usia yang paling banyak seantero Eropa. Menurut sebuah laporan dalam laman The New York Times, sekitar 23% dari seluruh penduduk Italia merupakan lansia berusia 65 tahun atau lebih.

Lansia adalah salah satu kelompok yang paling rentan terjangkit COVID-19 berikut komplikasinya. Komplikasi COVID-19 juga lebih parah pada lansia, bahkan tidak jarang menyebabkan kematian. Hal ini terlihat dari banyaknya pasien meninggal di Italia yang berusia 80 hingga 90-an.

2. Pasien sudah memiliki penyakit tertentu

Seiring bertambahnya usia, seseorang menjadi rentan mengalami penyakit yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh seperti diabetes, kanker, dan sejenisnya. Penyakit ini lantas meningkatkan risiko penularan COVID-19 dan komplikasinya yang berbahaya.

Selain itu, penyakit yang sudah ada juga dapat menurunkan kondisi kesehatan pasien sehingga menghambat pemulihan. Seluruh faktor tersebut akhirnya meningkatkan risiko kematian, seperti yang terjadi pada pasien COVID-19 di Italia.

3. Banyak kasus ringan yang tidak ditangani

pasien covid-19 sembuh

Saat terjadi wabah penyakit, negara yang terdampak perlu mengadakan tes kesehatan untuk mendiagnosis kasus-kasus baru dan mengurangi angka kematian. Korea Selatan menerapkan ini dan akhirnya bisa mengurangi angka kematian hingga hanya sebesar 0,6 persen.

Sayangnya, Italia terlambat melakukan ini sehingga ada banyak kasus baru yang tidak terdeteksi. Pasien yang mengalami gejala ringan pun tidak menjalani pemeriksaan. Akibatnya, kasus COVID-19 yang tadinya ringan lambat laun menjadi parah.

4. Kasus parah menumpuk dalam satu wilayah

Faktor lain yang turut meningkatkan angka kematian akibat COVID-19 di Italia adalah banyaknya pasien yang membutuhkan bantuan medis secara bersamaan. Jika pasien terlalu banyak, tentu sulit bagi tenaga medis khusus COVID-19 untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Kasus seperti ini juga sempat terjadi di Wuhan, Tiongkok. Lonjakan pasien yang begitu besar membuat banyak fasilitas kesehatan menjadi kewalahan. Dampaknya, persentase kematian di Wuhan naik menjadi 5,8 persen, lebih tinggi dari rata-rata global.

Menindaklanjuti tingginya angka kasus dan kematian, Italia telah mengadakan lebih dari 42.000 pemeriksaan kesehatan sejak hari Sabtu (7/3). Akan tetapi, ada kemungkinan wabah telah mencakup wilayah yang lebih luas sehingga pemeriksaan kesehatan akan digencarkan kembali.

Sebagai wujud upaya antisipasi, pemerintah Italia hingga hari ini (13/3) telah menutup bandara dan melarang kapal berlabuh di beberapa pelabuhan. Pihak pemerintah juga menutup banyak sekolah, restoran, serta toko-toko. Tempat yang masih dibuka saat ini hanyalah yang menjual makanan dan obat-obatan.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO Ingatkan Krisis Oksigen Konsentrator, Apa Artinya Bagi COVID-19?

WHO mengatakan adanya krisis oksigen konsentrator mengingat alat tersebut penting untuk menyelamatkan nyawa pasien COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 09/07/2020 . Waktu baca 3 menit

COVID-19 Bisa Menular Lewat Toilet Umum, Ini Cara Menghindarinya

Studi terbaru menunjukkan bahwa COVID-19 mungkin menular lewat toilet umum. Ternyata, seperti ini prosesnya dan cara mencegahnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 06/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Teledermatologi, Layanan Konsultasi Masalah Kulit Online di Tengah Pandemi

Banyak orang yang cukup was-was saat hendak pergi ke rumah sakit di tengah pandemi. Untungnya, teledermatologi hadir saat pandemi COVID-19. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 04/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Benarkah Ruangan Ber-AC Tingkatkan Risiko Penularan COVID-19?

Studi di Tiongkok menunjukkan bahwa COVID-19 bisa menular lewat AC. Namun, banyak pula ahli yang menyanggahnya. Lantas, mana jawaban yang tepat?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 03/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Herbavid-19 COVID-19

WHO Mengonfirmasi Virus COVID-19 Bertahan di Udara (Airborne)

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
new normal

5 Tips Beradaptasi dan Melindungi Diri di Masa New Normal

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13/07/2020 . Waktu baca 6 menit
kalung eucalyptus anti corona buatan kementan

Benarkah Kalung Antivirus Corona Eucalyptus Bisa Tangkal COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Antibodi pasien covid-19

Antibodi Pasien Sembuh COVID-19 Hanya Bertahan 3 Bulan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit