Waspada, COVID-19 Bisa Menular Sebelum Gejala Muncul

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Menteri Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, Ma Xiaowei, mengatakan bahwa seseorang bisa terinfeksi COVID-19 tanpa menunjukkan gejala. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers hari Minggu (27/1). Menurutnya, orang-orang yang terinfeksi mungkin saja telah menyebarkan virus tanpa menyadarinya.

COVID-19 yang kini tengah merebak di seluruh dunia telah menginfeksi lebih dari satu juta orang dan mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dunia. Tanpa gejala yang spesifik, penyebaran virus dikhawatirkan dapat bertambah luas.

Silent carrier lebih berbahaya

Seiring dengan semakin besarnya jumlah kasus pasien yang positif terinfeksi COVID-19, WHO pun mendeklarasikan penyebaran virus ini sebagai pandemi. Dari banyaknya kasus yang dilaporkan, ternyata beberapa kasus positif di antaranya juga terjadi pada pasien-pasien yang tidak menunjukkan gejala.

Bahkan, mungkin saja masih banyak kumpulan kasus yang tidak terdeteksi. Hal ini tentunya membuat banyak orang mulai merasa khawatir bahwa banyak orang di sekitar atau dirinya sendiri yang sebenarnya memiliki virus namun tidak merasakan gejala penyakitnya.

Orang-orang tersebut dikenal dengan nama silent carrier. Kebanyakan para silent carrier tidak memiliki gejala saat menjalani tes, tapi lambat laun gejala mulai terlihat setelah beberapa hari setelahnya.

Ada juga yang merasakan gejala infeksi ringan dan membiarkannya karena merasa dirinya masih baik-baik saja dan tidak cukup sakit untuk sampai mencari bantuan medis. Terlebih banyak dari mereka yang lolos saat skrining umum seperti pemeriksaan suhu tubuh.

Nantinya, tanpa sadar mereka bisa menularkan virus pada orang-orang yang dekat atau sering berkontak. Jika telah terjadi, maka golongan yang paling berisiko seperti lansia atau orang-orang dengan penyakit lainnya akan menjadi golongan yang paling merasakan dampaknya.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

25,216

Terkonfirmasi

6,492

Sembuh

1,520

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Bagaimana COVID-19 bisa menular tanpa gejala?

bepergian saat coronavirus

Peneliti dari berbagai belahan dunia hingga kini masih berupaya memahami penularan COVID-19, terutama terkait gejala yang ditimbulkannya. Pasalnya, infeksi virus berkode 2019-nCoV ini memiliki gejala yang mirip dengan gangguan pernapasan lain.

Pada awal kemunculannya, para petugas kesehatan menganggap virus penyebab COVID-19 sebagai airborne yang menyebar di udara. Namun, setelah melakukan pengamatan sedemikian rupa, WHO pun mengumumkan bahwa penyebaran virus terjadi melalui tetesan kecil yang keluar dari mulut atau hidung seseorang yang terinfeksi saat sedang berbicara, batuk, atau bersin.

Tidak ada perbedaan skema penularan COVID-19 di antara orang-orang yang menunjukkan gejala maupun yang tanpa gejala. Dua penularan yang paling sering terjadi adalah penularan antar manusia dan penularan dari benda-benda yang sudah terkontaminasi virus.

Penularan antar manusia bisa terjadi jika seseorang melakukan kontak atau berada di dekat orang yang terinfeksi dalam jarak kurang dari 2 meter. Tetesan yang keluar tersebut bisa mendarat di atas kulit, area hidung atau mulut, bisa juga terhirup sampai paru-paru.

Sedangkan penularan dari benda terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang telah terpapar oleh virus. Meski demikian, penularan ini bukanlah cara penularan yang umum terjadi.

Infeksi COVID-19 sebenarnya bukan penyakit tanpa gejala. Dari pengamatan terhadap ratusan pasien, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah melaporkan gejala yang cukup bervariasi, antara lain demam, batuk, dan sesak napas.

gejala dan komplikasi coronavirus

Suhu tubuh menjadi indikator pemeriksaan di tempat umum

Sumber: Traveller

Otoritas kesehatan di sejumlah negara kini menjadikan gejala demam sebagai indikator saat melakukan pemeriksaan di pintu masuk negara. Pengunjung yang memiliki panas melebihi 38 derajat celsius akan mendapatkan Health Alert Card dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Kendati efektif mencegah penularan virus, cara ini ternyata masih memiliki kekurangan. Virus penyebab COVID-19 sama seperti virus lainnya yang memiliki masa inkubasi. Masa inkubasi adalah jangka waktu sejak seseorang terinfeksi hingga gejala pertama muncul.

CDC meyakini COVID-19 memiliki masa inkubasi selama 2-14 hari. Selama masa inkubasi, orang-orang yang terinfeksi akan tampak tanpa gejala. Mereka mungkin menjalani kegiatan seperti biasa tanpa menyadari bahwa tubuhnya membawa virus.

Penularan lebih mudah dicegah jika virus baru menyebar setelah gejala muncul. Inilah yang terjadi pada wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2003 lalu. Sebelum virus sempat menular, tenaga medis sudah bisa mendeteksinya karena pasien mengalami kumpulan gejala.

Sebaliknya, ada pula penyakit yang dapat menular selama masa inkubasi, di antaranya flu, cacar, dan kemungkinan infeksi novel coronavirus. Pada kasus seperti ini, pasien tanpa gejala sekalipun mungkin telah menyebarkan virus ke banyak orang sekaligus.

Apa Itu Herd Immunity dan Hubungannya dengan COVID-19?

Cara mengantisipasi COVID-19

terlalu sering mencuci tangan

Setelah mengetahui bagaimana cepat dan mudahnya penyebaran virus penyebab COVID-19, upaya antisipasi untuk melindungi diri Anda dan orang-orang terdekat pun harus dilakukan.

Hingga kini pun belum ditemukan vaksin untuk mencegah penularan novel coronavirus. Guna mengantisipasi COVID-19 yang bisa ditularkan dari carrier tanpa gejala, Anda bisa melakukan upaya pencegahan dengan cara berikut:

  • Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun, paling tidak selama 20 detik.
  • Menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit atau menunjukkan gejala.
  • Tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut tanpa mencuci tangan.
  • Menggunakan masker bila bermukim di wilayah berisiko.
  • Menutup mulut menggunakan lengan bagian dalam atau tisu ketika bersin dan batuk. Segera buang tisu yang telah dipakai ke tempat sampah.
  • Tetap di rumah ketika sakit.
  • Membersihkan barang-barang yang sering disentuh.

Infeksi COVID-19 mungkin muncul tanpa gejala, tapi penyakit ini sebenarnya berdampak buruk pada tubuh penderitanya. Jika Anda merasa mengalami gejala infeksi atau pernah bepergian ke wilayah yang terkena wabah ini, segera periksakan diri Anda ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020