Ilmuwan di Vietnam Temukan Alat Uji Novel Coronavirus yang Murah

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sekelompok ilmuwan di Vietnam telah menemukan alat uji baru untuk mendiagnosis novel coronavirus. Alat uji tersebut dinilai lebih ampuh, mudah, dan akurat dibandingkan alat uji yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, biaya yang diperlukan untuk melakukan satu kali pemeriksaan pun jauh lebih terjangkau.

Infeksi novel coronavirus menyebar dengan amat cepat. Biaya dan durasi pemeriksaan adalah satu dari banyak kendala yang dihadapi otoritas kesehatan seluruh dunia dalam mendeteksinya. Alat uji yang ditemukan ilmuwan di Vietnam seolah menjadi angin segar dalam pencegahan penyebaran virus bernama resmi COVID-19 ini.

Simak informasi berikut untuk mengetahui cara kerjanya.

Mengenal alat uji novel coronavirus yang sudah ada

Sejak kemunculannya pada akhir 2019, infeksi novel coronavirus telah menjangkiti lebih dari 45.000 orang dan mengakibatkan 1.115 orang meninggal dunia. Dari semua yang terinfeksi, sebanyak 8.216 di antaranya berada dalam kondisi serius atau kritis.

Angka kematian akibat COVID-19 kini lebih tinggi dibandingkan wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) tahun 2003 atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS) tahun 2013. Penyakit ini juga memiliki laju penularan yang sangat cepat dan lebih sulit dideteksi.

Guna mendeteksi coronavirus yang menjadi penyebab wabah, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) beberapa waktu lalu telah mengembangkan sebuah alat uji laboratorium. Alat uji tersebut dikenal sebagai ‘CDC 2019-nCoV Real-Time Reverse Transcriptase (RT-PCR) Diagnostic Panel.

Pada saat dikembangkan, RT-PCR masih tergolong sebagai alat uji darurat dan hanya digunakan oleh laboratorium yang sudah memenuhi standar CDC. Saat ini, RT-PCR telah digunakan oleh laboratorium internasional seperti yang dimiliki oleh World Health Organization (WHO) dan Global Influenza Surveillance Response System (GISRS).

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Alat uji RT-PCR digunakan untuk memeriksa sampel lendir orang yang diduga terinfeksi novel coronavirus. Tenaga kesehatan setiap negara perlu memerhatikan kriteria tertentu untuk menentukan siapa saja yang harus menjalani pemeriksaan.

Setelah itu, tenaga kesehatan akan mengambil sampel lendir dari saluran pernapasan bagian atas dan bawah menggunakan swab. Swab adalah salah satu bagian dari alat uji novel coronavirus, bentuknya seperti batang dengan kapas di ujungnya.

Sampel lalu disimpan dalam suhu dingin sebelum dikirim ke laboratorium. Pemeriksaan biasanya memakan waktu beberapa jam, sedangkan hasil tes baru akan keluar setelah 3-5 hari. Jika hasil tes positif, pasien akan diisolasi untuk menjalani perawatan intensif.

Alat deteksi novel coronavirus terbaru di Vietnam

pemeriksaan laboratorium demam berdarah

Kerja sama antara ilmuwan dari Hanoi University of Science and Technology, Vietnam, dan Innogenex International Science and Technology Co. Ltd. menghasilkan kabar yang menggembirakan. Mereka menemukan alat uji baru yang dinilai lebih efektif mendeteksi novel coronavirus.

Para ilmuwan mulai mengembangkan alat uji baru sejak susunan genetik COVID-19 diketahui. Pada Minggu (2/2), National Institute of Hygiene and Epidemiology Vietnam menyatakan telah berhasil menumbuhkan dan mengisolasi virus di laboratorium.

Kesuksesan ini lantas menjadi tombak dalam pengembangan alat uji dan vaksin coronavirus yang kini mewabah. Selang beberapa hari, Dr. Le Quang Hoa selaku pimpinan penelitian mengumumkan bahwa mereka telah menemukan alat uji cepat berbasis teknik Reverse Transcription-Loop-mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP).

RT-LAMP adalah teknik mutakhir yang digunakan untuk mengenali serta menganalisis asam nukleat. Melalui teknik ini, ilmuwan bisa mempelajari asam nukleat dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun.

Asam nukleat adalah sekumpulan molekul yang menjadi penyusun terkecil dari makhluk hidup dan virus. Asam nukleat terbagi menjadi dua, yakni asam ribonukleat (RNA) dan asam deoksiribonukleat (DNA). COVID-19 memiliki asam nukleat berupa RNA.

COVID-19

Teknik RT-LAMP telah lama digunakan oleh ilmuwan untuk mendeteksi RNA berbagai virus yang bersifat patogenik (menimbulkan penyakit). Berdasarkan cara kerja tersebut, para ilmuwan di Vietnam pun menjadikan RT-LAMP sebagai alat uji novel coronavirus.

Total waktu yang diperlukan untuk menganalisis RNA COVID-19 menggunakan RT-LAMP adalah 70 menit, sebagaimana dilansir dari laman Nhan Dan. Analisis terdiri dari dua tahap, yakni pengumpulan RNA virus selama 30 menit serta pelaksanaan uji reaksi RT-LAMP selama 40 menit.

Diagnosis dengan RT-LAMP lebih cepat dibandingkan RT-PCR yang memakan waktu paling sedikit empat jam. Biaya RT-LAMP juga hanya sekitar 15 dolar AS (Rp205.212,00), lebih murah dibandingkan RT-PCR yang sebesar 43 dolar AS (Rp588.274,00).

Vietnam kini menjadi satu-satunya negara yang memiliki alat uji terbaru untuk novel coronavirus. Akan tetapi, para peneliti masih memerlukan setidaknya 12 sampel RNA virus untuk pengujian lebih lanjut sebelum alat ini bisa betul-betul disebarluaskan.

Bagaimana dengan pendeteksian novel coronavirus di Indonesia?

karantina-coronavirus

Hingga hari Rabu (12/2), Indonesia belum mengonfirmasi satu pun kasus infeksi novel coronavirus. Namun, hal ini justru menimbulkan kekhawatiran baru karena ada kemungkinan virus sebenarnya telah memasuki Indonesia tanpa diketahui.

Kekhawatiran tersebut berawal dari laporan media Australia yang menyatakan bahwa Indonesia belum memiliki alat uji novel coronavirus terbaru. Beberapa media menyebut Indonesia belum menerima alat yang dapat mendeteksi virus dengan cepat.

Indonesia saat ini mengandalkan alat yang dapat mengenali semua jenis coronavirus, mulai dari coronavirus penyebab pilek, SARS, hingga MERS. Pemeriksaan memerlukan waktu lima hari, relatif lama untuk mendeteksi novel coronavirus yang menyebar cepat.

Padahal, novel coronavirus telah mencapai negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Menteri Kesehatan Tiongkok belum lama ini juga menyebutkan bahwa novel coronavirus bisa saja menular tanpa gejala.

Waspada, COVID-19 Bisa Menular Sebelum Gejala Muncul

Maka dari itu, WHO mengimbau pemerintah Indonesia untuk meningkatkan persiapan dan kewaspadaan. Sambil menunggu alat uji terbaru untuk novel coronavirus tersedia secara luas, masyarakat Indonesia dapat berperan aktif dengan melakukan upaya pencegahan.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020