Virus Baru Ditemukan di Brasil, Dipastikan Tidak Menginfeksi Manusia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 13/02/2020 . 6 menit baca
Bagikan sekarang

Beberapa ilmuwan di Brasil belum lama ini telah mengidentifikasi jenis virus baru yang misterius. Temuan yang akhirnya diberi nama yaravirus ini memiliki susunan gen asing yang tidak dapat dikenali, bahkan belum tercatat sama sekali dalam penelitian maupun dunia sains secara keseluruhan.

Meski demikian, para ilmuwan tersebut memastikan bahwa yaravirus tidak menginfeksi sel tubuh manusia. Virus berukuran besar ini lebih banyak berinteraksi dengan amoeba serta mikroba sejenisnya yang banyak ditemukan di perairan. Simak informasi berikut untuk mengetahui seperti apa karakteristik dan penyebaran virus asing ini.

Asal-muasal ditemukannya yaravirus

Sumber: Wikimedia Commons

Bumi dipenuhi oleh jutaan spesies makhluk hidup, tetapi jumlah ini belum mencakup beragam spesies mikroba asing yang belum ditemukan oleh para ilmuwan. Salah satu spesies misterius yang baru-baru ini terungkap adalah yaravirus dari Brasil.

Penemuan yaravirus berawal dari kegiatan sekelompok ilmuwan asal Brasil beberapa tahun lalu. Mereka mengumpulkan sampel air dari anak aliran Danau Pampulha, yakni danau buatan yang terletak di kota Belo Horizonte, Brasil.

Para ilmuwan tersebut hendak mencari virus berukuran besar dengan banyak susunan gen yang sering kali menginfeksi amoeba. Amoeba adalah makhluk hidup bersel tunggal dengan bentuk berubah-ubah yang dapat dibedakan dari bakteri.

Saat sampel air yang terkumpul disatukan dengan sel-sel amoeba, para ilmuwan justru mendapati temuan baru. Alih-alih memperoleh virus berukuran besar yang menginfeksi amoeba, mereka malah menemukan virus-virus yang berukuran lebih kecil.

Jônatas Abrahão, profesor departemen mikrobiologi Federal University of Minas Gerais, Brasil, menyebutkan bahwa virus yang menginfeksi amoeba biasanya berukuran lebih dari 200 nanometer. Sementara itu, virus yang mereka temukan hanya berukuran 80 nanometer, tergolong kecil dibandingkan virus-virus pada umumnya.

Melansir laman Science Mag, virus tersebut lantas diberi nama ‘yaravirus’. ‘Yara’, atau dalam bahasa aslinya dikenal sebagai ‘Iara’, adalah sosok ratu air dalam mitologi Brasil. Nama ini lekat dengan air yang menjadi tempat awal ditemukannya virus tersebut.

Meski ukuran dan susunan gennya termasuk kecil, yaravirus bisa menginfeksi amoeba seperti halnya virus berukuran besar. Selain itu, para ilmuwan pun menemukan hal lain yang tidak kalah unik. Virus tersebut ternyata memiliki gen yang tidak dapat dikenali.

Virus misterius tanpa gen yang bisa dikenali

Virus hepatitis B

Hal yang tidak biasa dari yaravirus bukan hanya ukuran dan target infeksinya. Ketika para ilmuwan mencoba mempelajari susunan gen virus tersebut, tidak ada gen yang cocok dengan susunan gen lain yang telah ditemukan sebelumnya.

Beberapa gen yaravirus mirip dengan gen yang terdapat pada virus berukuran besar, tapi belum jelas apakah keduanya berkaitan. Kendati ada gen yang mirip dengan virus besar, virus tersebut juga tidak dapat dikategorikan sebagai virus besar mengingat ukurannya yang mungil.

Para ilmuwan juga telah berupaya mencocokkan gen virus asal Brasil tersebut dengan data ribuan susunan gen virus yang telah ditemukan. Ada 74 gen pada yaravirus dan hanya enam yang menunjukkan kemiripan dengan gen virus lain. Namun, hal tersebut lagi-lagi tidak membawa petunjuk apa pun.

Abrahão dan rekan-rekannya merasa masih perlu mempelajari aspek lain dari virus unik tersebut. Mereka kemungkinan harus mengisolasi virus tersebut dan mencari virus-virus sejenisnya untuk membantu proses analisis.

Di sisi lain, Elodie Ghedin, ahli virus dan parasit dari New York University, Amerika Serikat, justru menyatakan tidak terkejut dengan ditemukannya yaravirus. Hal tersebut didasarkan pada pengalamannya mencari virus di air limbah dan saluran pernapasan.

Menurutnya, lebih dari 95% virus yang ditemukan di air limbah tidak memiliki kecocokan susunan gen dengan data gen virus yang sudah ada. Setiap kali para ilmuwan mencari keberadaan virus, kemungkinan besar mereka akan menemukan jenis virus baru.

Yaravirus bukan satu-satunya virus baru

Virus hepatitis C

Ketika Abrahão dan timnya menemukan yaravirus untuk pertama kalinya, para ilmuwan di belahan dunia yang lain juga sedang mengalami hal yang sama. Christopher Buck dan Michael Tisza dari National Cancer Institute Amerika Serikat misalnya, menemukan beberapa virus dari kelompok yang sama dengan human papillomavirus (HPV).

HPV adalah virus yang dapat menyebabkan kanker serviks. Selain HPV, mereka juga menemukan virus lain yang tidak berbahaya, tetapi berkaitan dengan kanker kandung kemih pada pasien penyakit ginjal yang menjalani operasi transplantasi ginjal.

Buck dan timnya menemukan total 2.500 virus, dan 600 di antaranya adalah virus yang baru diketahui dalam dunia sains. Belum dipastikan apakah virus-virus tersebut dapat memicu masalah kesehatan, tapi temuan ini adalah kabar baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Pada kasus yaravirus, Abrahão dan rekan-rekannya memastikan bahwa virus tersebut bukan merupakan ancaman bagi kesehatan manusia. Virus asing tersebut diketahui hanya menginfeksi amoeba yang terdapat di perairan.

Para ilmuwan memiliki dua teori terkait yaravirus. Pertama, virus tersebut adalah virus baru pada amoeba yang belum diketahui. Kedua, virus tersebut mungkin adalah virus berukuran besar yang entah bagaimana berevolusi menjadi virus amoeba berukuran kecil.

Seluruh dunia saat ini tengah diguncang oleh munculnya wabah novel coronavirus alias COVID-19. Kabar tentang novel coronavirus atau kemunculan virus baru tentu menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah ditemukannya virus.

Kendati demikian, virus sebenarnya merupakan unsur yang penting dalam lingkungan. Beberapa virus bahkan membantu menguraikan nutrisi dan mengendalikan hama. Yaravirus mungkin juga mempunyai fungsi tertentu dalam keseimbangan ekosistem air di Brazil.

Abrahão menyatakan bahwa keberadaan virus baru memang tidak boleh diabaikan. Akan tetapi, hingga terdapat hasil penelitian lebih lanjut mengenai virus-virus baru, masyarakat tidak perlu merasa takut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kaitan Kasus Positif COVID-19 dengan Gejala Meningitis

Peneliti Jepang dari Rumah Sakit University of Yamanashi melaporkan kasus infeksi COVID-19 dengan gejala penyakit meningitis.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 10/04/2020 . 4 menit baca

Apakah Kucing dan Hewan Lainnya Dapat Tertular COVID-19 dari Manusia?

Coronavirus terbukti menular dari manusia ke manusia. Tapi belakangan ada kasus kucing positif COVID-19 karena tertular pemiliknya. Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 09/04/2020 . 4 menit baca

Cerita Dokter IGD, Garis Depan Penanganan COVID-19 di Indonesia

Dokter Tri Maharani menyarankan penanganan COVID-19 harus dikerjakan oleh semua sektor. Yang terpenting adalah tenaga medis di garda terdepan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 07/04/2020 . 10 menit baca

Pewarna Rambut Permanen Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Selain dapat menimbulkan kerontokan parah, ternyata pewarna rambut juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kanker Payudara, Health Centers 04/04/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

puasa saat flu saat puasa

Kena Flu Saat Puasa Itu Baik! Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020 . 3 menit baca
wangi mengingatkan kenangan

Wangi Tertentu Ternyata Dapat Mengembalikan Ingatan Masa Lalu, Lho!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020 . 4 menit baca
kebiasaan menyentuh wajah

Sulit Dihentikan, Ini 3 Tips Mengurangi Kebiasaan Menyentuh Wajah

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 23/04/2020 . 5 menit baca
dokter melawan COVID-19

Melawan COVID-19: Jangan Ada Lagi Tenaga Medis yang Gugur

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 13/04/2020 . 5 menit baca