3 Alasan Psikologis yang Membuat Orang Percaya dengan Sekte Tertentu

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Hari Selasa (14/1) pemimpin dari Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso dan Fanni Aminadia, ditangkap, karena dugaan penipuan. Sepasang suami istri ini mendirikan sekte yang menawarkan janji manis yang tidak masuk akal secara logika, namun tetap menarik perhatian banyak orang.

Mengapa ada orang yang termakan janji tersebut? Simak ulasan di bawah ini untuk melihat pengikut sekte dari sisi psikologi. 

Melihat para pengikut sekte dari kacamata psikologi

psikologi kerumunan mudah terprovokasi di keramaian

Sejumlah media melaporkan, pemimpin sekte Keraton Agung Sejagat yang didirikan di Purworejo ini ditangkap karena terbukti melakukan penipuan terhadap para pengikutnya. Toto Santoso beserta ‘permaisurinya’ menarik bayaran bagi orang-orang yang ingin terhindar dari masalah atau malapetaka. 

Bahkan, ia juga menjanjikan gaji tinggi bagi siapa saja yang mengikuti sekte tersebut dengan membawa kartu logo United Nations agar para pengikutnya lebih yakin. 

Setiap anggotanya diwajibkan untuk membayar iuran, mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 30 juta. Uang tersebut sebagai ‘bayaran’ untuk menduduki jabatan yang dijanjikan gaji yang lebih besar dari iuran tersebut. 

Tidak disangka-sangka pengikutnya cukup banyak dan berasal dari berbagai daerah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Keraton Agung Sejagat pun runtuh karena kedua pemimpinnya terbukti melakukan penipuan terhadap pengikutnya sendiri. 

Banyak dari Anda yang mungkin bertanya-tanya, mengapa ada orang yang mudah percaya ketika diiming-imingi janji yang sebenarnya tidak cukup masuk akal. 

Ternyata, ada beberapa faktor yang membuat pengikut sekte percaya terhadap hal tersebut melalui dari kacamata psikologi. 

1. Menawarkan kenyamanan yang tidak bisa diperoleh dari tempat lain

tahap kesedihan

Salah satu alasan mengapa seorang pengikut percaya terhadap kelompok tersebut dari sisi psikologi adalah sekte menawarkan kenyamanan yang tidak dapat diperoleh dari tempat lain. 

Seperti yang dilansir dari laman Psychology Today, manusia cenderung mencari kenyamanan dalam cara apapun. Dalam kasus kehidupan sehari-hari, ketika Anda merasa stres dan perlu minum alkohol atau makan yang ‘katanya’ dapat menenangkan pikiran. 

Makanan atau minuman yang menawarkan kenyamanan sebenarnya membuat Anda menghindari masalah tersebut. Mungkin dalam waktu yang sesaat Anda merasa lega, tetapi pencarian kenyamanan tidak akan pernah berhenti meskipun makanan atau minuman beralkohol sudah habis. 

Hal ini juga berlaku pada para pengikut sekte. Para pemimpin sekte menawarkan janji yang sebenarnya secara logika tidak dapat dipenuhi, tetapi tidak ditawarkan di tempat lain. 

Misalnya, uang, sehat, terhindar dari malapetaka, atau hidup abadi adalah keinginan yang ada di dalam manusia. 

Maka itu, para pengikut sekte tetap percaya dengan apa yang dikatakan pemimpinnya karena menawarkan rasa aman meskipun kata-katanya tidak masuk akal. 

Mereka cenderung mengabaikan fakta tersebut dan tetap berada di sana karena mendapatkan kenyamanan yang tidak dapat diperoleh dari kelompok masyarakat lainnya. 

2. Memberikan jawaban atas pertanyaan yang tidak dapat dijawab

karakteristik orang yang berduka cita

Selain menawarkan kenyamanan, alasan beberapa orang menjadi pengikut dari sisi psikologi karena sekte memberikan jawaban atas pertanyaan yang tidak dapat dijawab. 

Hampir sebagian besar orang yang mengikut sebuah sekte karena haus akan jawaban atas pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa dijawab dengan mutlak. Misalnya, tentang agama dan Tuhan.

Hal ini dikarenakan manusia memiliki sifat alami untuk mencari kepastian. Pada saat Anda tidak dapat menerka hasil dari sebuah situasi, ternyata otak menganggapnya sebagai sebuah ancaman

Semakin banyak ketidakpastian, semakin banyak respons otak merasa terancam. Ketidakpastian dilihat sebagai peta situasi yang tidak lengkap. 

Artinya, ketika ada bagian yang hilang, Anda mungkin tidak merasa nyaman sampai peta tersebut selesai dan semua kepingan kosongnya terisi. 

Maka itu, banyak pemimpin sekte yang menawarkan pesan yang terdengar sederhana dan masuk akal meskipun tidak bagi orang di luar sekte untuk menjawab pertanyaan di kepala Anda. 

3. Para pengikut memiliki kepercayaan diri yang rendah

Sumber: The Commonwealth Institute

Memiliki kepercayaan diri yang rendah ternyata juga menjadi salah satu alasan dari sisi psikologi mengapa pengikut mempercayai sekte tertentu. 

Orang dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung merasa tidak dicintai dan tidak kompeten. Bahkan, orang dengan sifat seperti ini lebih sensitif dan mudah terluka karena orang lain. 

Oleh karena itu, ketika pemimpin sekte menawarkan kenyamanan dan terlihat menerima orang lain apa adanya, para pengikut dengan sifat seperti ini pun merasa diterima. 

Mereka yang kurang mempercayai diri sendiri ini akhirnya membangun kembali perasaan tersebut dalam sebuah sekte karena terlihat memberikan dukungan yang mereka cari. 

Apabila berkaca dari kasus Keraton Agung Sejagat, mungkin para pengikutnya memilih mempercayai sekte ini karena dijanjikan kekayaan dan keselamatan. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk melihat lebih apa yang membuat pengikut sekte mempercayai pemimpinnya dari kacamata psikologi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 17, 2020 | Terakhir Diedit: Januari 20, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca